Sep 19, 2026
Hukum

SINGAPURA — Pemerintah Bayar Warga Membaca Buku demi Cegah Kecanduan Ponsel

Di tengah kepungan layar kecerdasan buatan dan arus informasi tanpa henti yang memicu fenomena doomscrolling, Singapura mengambil langkah radikal yang tida

SINGAPURA — Pemerintah Bayar Warga Membaca Buku demi Cegah Kecanduan Ponsel

Di tengah kepungan layar kecerdasan buatan dan arus informasi tanpa henti yang memicu fenomena doomscrolling, Singapura mengambil langkah radikal yang tidak biasa. Negara jiran ini secara resmi meluncurkan sebuah kampanye nasional unik dengan memberikan insentif finansial kepada warganya yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca buku. Langkah futuristik ini diambil sebagai upaya terstruktur untuk membebaskan masyarakat dari jerat kecanduan ponsel pintar yang kian memprihatinkan.

Inisiatif berdurasi lima tahun ini tidak sekadar bertujuan mengurangi waktu paparan layar (screen time), melainkan juga untuk merangsang kembali minat baca publik. Pemerintah setempat meyakini bahwa dengan mengembalikan kebiasaan membaca, masyarakat dapat mengasah daya konsentrasi, memperkuat pemikiran kritis, serta menghidupkan kembali imajinasi yang perlahan tumpul akibat stimulasi digital serba instan.

Strategi Melawan Doomscrolling di Era Digital

Doomscrolling—perilaku mengonsumsi berita negatif atau konten media sosial secara kompulsif dan berlebihan—telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental masyarakat modern. Singapura menyadari bahwa melarang penggunaan gawai secara drastis bukanlah solusi yang realistis. Oleh karena itu, pendekatan kebijakan publik kini bergeser ke arah pembentukan kebiasaan baru secara perlahan melalui pemberian insentif positif.

Direktur Junta Perpustakaan Nasional Singapura (NLB), Melissa Tam, menegaskan pentingnya intervensi ini di tengah badai informasi yang menerpa warga setiap hari.

"Kita hidup di dunia dengan kelimpahan konten, informasi, dan stimulasi yang luar biasa. Setiap saat kita bisa memeriksa ratusan judul berita, menonton video, atau mendapatkan ringkasan dari hampir apa saja," ungkap Melissa Tam dalam wawancaranya bersama media lokal Straits Times.

Ia menambahkan bahwa kunci utama perubahan perilaku terletak pada konsistensi aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari tanpa henti.

"Kami tahu bahwa kebiasaan dibentuk melalui tindakan kecil yang konsisten. Karena itu, kami memulai dengan target yang sederhana: membaca hanya 15 menit sehari. Baik saat berada di dalam bus, sebelum tidur, atau selama jam makan siang," jelas Melissa Tam lebih lanjut.

Mekanisme Poin dan Skema Insentif Finansial

Bagaimana pemerintah memverifikasi dan memberikan imbalan atas aktivitas membaca warganya? Sistem ini mengandalkan platform digital berbasis poin yang dikembangkan secara resmi oleh pemerintah. Warga yang telah selesai membaca selama 15 menit sehari dapat mencatatkan durasi membaca mereka melalui situs web khusus untuk mengumpulkan koin digital.

Meskipun melibatkan uang tunai, program ini dirancang sedemikian rupa agar tidak dijadikan sarana mencari keuntungan finansial semata. Pembatasan ketat diberlakukan demi menjaga ketulusan niat membaca warganya.

Parameter Program Ketentuan & Rincian
Target Harian 15 Menit Membaca Buku
Batas Klaim Sesi Maksimal 1 kali per hari
Imbalan Harian 20 Koin Digital
Nilai Konversi Uang 1.000 Koin = 1 Dolar Singapura (SGD)
Waktu Pencapaian 1 SGD 50 Hari Rutin Membaca

Berdasarkan skema perhitungan tersebut, seorang warga membutuhkan waktu selama 50 hari membaca secara konsisten untuk mengumpulkan 1.000 koin yang setara dengan 1 Dolar Singapura (sekitar US$ 0,8). Jumlah ini memang relatif kecil, namun nilai emosional dan psikologis dari imbalan tersebut menjadi pendorong utama (nudging mechanism) dalam membangun disiplin diri.

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Mental

Eksperimen sosial Singapura ini menarik perhatian luas dari para pengamat kebijakan publik di berbagai negara. Pendekatan berbasis gamification ini dinilai cerdas karena mengubah paradigma penanggulangan kecanduan gawai—dari yang semula bersifat larangan (punishment) menjadi bentuk penghargaan (reward).

Dengan mengganti aktivitas guliran layar ponsel tanpa arah menjadi lembaran buku bernas, Singapura sedang mendesain ulang tingkat literasi warganya di abad ke-21. Jika program ini sukses dalam jangka panjang, Singapura tidak hanya akan berhasil menurunkan tingkat stres masyarakat akibat doomscrolling, tetapi juga berhasil mencetak generasi yang lebih fokus, analitis, dan memiliki ketahanan mental yang tinggi di tengah disrupsi teknologi digital.

Demi menekan kecanduan ponsel dan fenomena doomscrolling, pemerintah Singapura merilis insentif bagi warga yang membaca 15 menit sehari. Simak berita lengkapnya di link berikut!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User