Sep 18, 2026
Hukum

SEOUL — Rating Persetujuan Presiden Lee Jae Myung Anjlok ke 38 Persen

Ketegangan politik di Korea Selatan semakin memuncak setelah hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Lee

SEOUL — Rating Persetujuan Presiden Lee Jae Myung Anjlok ke 38 Persen

Ketegangan politik di Korea Selatan semakin memuncak setelah hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Lee Jae Myung merosot tajam. Berdasarkan survei nasional yang dirilis pada Kamis (11/9), tingkat penerimaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Lee menyentuh angka terendah sepanjang masa sejak ia menjabat, memicu sinyal bahaya bagi stabilitas jalannya roda pemerintahan di Seoul.

Menurut data lembaga survei terkemuka yang dikutip dari Kantor Berita Yonhap, tingkat persetujuan Presiden Lee Jae Myung anjlok hingga 38 persen, turun drastis dari periode sebelumnya. Sebaliknya, tingkat ketidakpuasan publik terhadap kinerja kepresidenan melonjak hingga mencapai 54 persen, sementara sisanya memilih tidak memberikan jawaban. Angka ini menandai sentimen negatif terbesar yang harus dihadapi oleh pihak Istana Kepresidenan dalam setahun terakhir.

Berikut adalah rincian tren pergeseran sentimen publik terhadap pemerintahan dalam beberapa bulan terakhir:

Periode Survei Tingkat Persetujuan (%) Tingkat Ketidakpuasan (%)
Triwulan I 48% 42%
Triwulan II 43% 49%
September (Terbaru) 38% 54%

Faktor Ekonomi dan Kebijakan Kontroversial Jadi Pemicu

Penurunan tajam popularitas ini terutama dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat yang kian meluas terhadap penanganan isu ekonomi domestik. Laju inflasi yang terus melonjak, tingginya harga kebutuhan pokok, serta stagnasi pertumbuhan upah menjadi beban berat bagi kesejahteraan warga sehari-hari. Selain itu, rancangan kebijakan reformasi anggaran yang dinilai tidak berpihak pada kelas menengah bawah semakin memperkeruh suasana politik nasional.

Para analis politik menilai bahwa ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan solusi cepat terhadap krisis biaya hidup telah mengikis kepercayaan konstituen utama. Pengamat politik dari Seoul National University menegaskan pentingnya perubahan pendekatan kepemimpinan di tengah situasi ini.

"Masyarakat merasa beban hidup semakin berat akibat inflasi yang tak kunjung terkendali, sementara janji pemulihan ekonomi berjalan lambat. Rakyat membutuhkan langkah konkrit dan keberpihakan nyata, bukan sekadar retorika politik di tengah lonjakan harga bahan pokok," tegas Prof. Han Ji-won dalam wawancara media setempat.

Reaksi Istana dan Tantangan di Majelis Nasional

Menanggapi kemerosotan angka survei yang mengkhawatirkan tersebut, pihak Istana Kepresidenan menyatakan bakal mengidentifikasi aspirasi publik secara lebih mendalam. Juru bicara kepresidenan menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutup mata terhadap suara kritis masyarakat dan siap melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi yang sedang berjalan.

"Kami menerima hasil survei ini dengan rasa tanggung jawab yang mendalam dan rendah hati. Presiden berkomitmen untuk mempercepat implementasi program penstabilan harga kebutuhan pokok serta lebih sering mendengarkan keluhan warga secara langsung di lapangan," ujar juru bicara kepresidenan dalam konferensi pers di Seoul.

Namun, pihak oposisi utama segera memanfaatkan momen kemunduran ini untuk mendesak perombakan kabinet secara signifikan. Dengan tingkat persetujuan yang kini berada di bawah 40 persen, Presiden Lee diprediksi akan menghadapi hambatan politik yang sangat besar di Majelis Nasional, terutama dalam meloloskan rancangan undang-undang strategis dan anggaran belanja negara untuk tahun mendatang. Kemampuan diplomasi politik Presiden Lee kini benar-benar diuji untuk membalikkan keadaan di tengah arus ketidakpuasan warga yang terus membesar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User