Second Account: Ruang Aman Gen Z Tanpa Topeng

JAKARTA - BARU SAJA, laporan dari komunitas digital mengonfirmasi fenomena akun kedua (second account) yang kian meluas di kalangan Generasi Z. Akun yang semula dianggap sekadar cadangan kini bertrans...

Jul 13, 2026 - 07:05
0 0
Second Account: Ruang Aman Gen Z Tanpa Topeng

JAKARTA - BARU SAJA, laporan dari komunitas digital mengonfirmasi fenomena akun kedua (second account) yang kian meluas di kalangan Generasi Z. Akun yang semula dianggap sekadar cadangan kini bertransformasi menjadi ruang privat untuk ekspresi diri yang autentik.

Berdasarkan sejumlah pengakuan, pengguna merasa lebih nyaman membagikan momen tidak sempurna di akun kedua. Di akun utama, setiap unggahan dipilih dengan cermat demi menjaga citra. Sebaliknya, di second account, mereka bebas mengeluh, memposting foto keseharian, atau sekadar berbagi lelucon tanpa takut dihakimi.

Tekanan Sosial di Balik Kurasi Ketat

Beberapa pengguna mengaku bahwa ketakutan terbesar bukanlah terbuka, melainkan disalahpahami. Akun utama menjadi panggung di mana setiap kata dan gambar bisa menjadi bahan penilaian. "Saya lebih takut tidak dipahami daripada bercerita," ujar seorang mahasiswi berusia 21 tahun, yang memilih menggunakan nama samaran.

  • Kurasi unggahan: Pengguna kerap mengurungkan niat membagikan konten karena khawatir dianggap berlebihan.
  • Audiens terbatas: Dengan pengikut yang lebih sedikit dan terpilih, risiko penilaian negatif menurun drastis.
  • Validasi lebih personal: Interaksi di akun kedua dirasakan lebih tulus karena berasal dari orang-orang terdekat yang benar-benar mengenal.

Bukan Kehidupan Ganda, Melainkan Kejujuran Digital

Menariknya, fenomena ini bukan sekadar upaya menyembunyikan diri. Bagi banyak anak muda, second account adalah perwujudan dari keinginan untuk menjadi diri sendiri tanpa topeng sosial. Mereka tidak menciptakan identitas palsu, melainkan menyingkap lapisan yang biasanya tersembunyi di balik unggahan yang "sempurna".

Seorang pengguna lainnya, yang memiliki dua akun Instagram, mengatakan bahwa akun keduanya adalah "kamar pribadi" di tengah hiruk-pikuk media sosial. Di sana, ia bisa menjadi rentan tanpa harus menghadapi konsekuensi sosial yang sering muncul di akun publiknya.

Psikolog digital, Dr. Rina (bukan nama sebenarnya), menyebut bahwa kebutuhan akan autentisitas di dunia maya semakin mendesak. "Second account menjadi katup pelepas tekanan dari standar kecantikan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang sering dipaksakan oleh media sosial," jelasnya.

Survei informal yang dilakukan oleh komunitas diskusi online menunjukkan bahwa 7 dari 10 responden memiliki second account, dan mayoritas menggunakannya untuk berbagi konten yang dianggap "terlalu polos" untuk akun utama.

Tren yang Diprediksi Terus Meningkat

Dengan meningkatnya tekanan untuk menampilkan kehidupan ideal di media sosial, praktik membuat akun kedua diperkirakan akan terus bertumbuh. Para pengamat menilai bahwa ini adalah respons alamiah terhadap budaya "kesempurnaan" yang dipromosikan oleh algoritma platform.

UPDATE: Platform media sosial sendiri belum memberikan respons resmi terhadap tren ini. Namun, fitur seperti Close Friends di Instagram dinilai sebagai upaya awal untuk mengakomodasi kebutuhan akan privasi tanpa harus membuat akun terpisah.

Fenomena second account membuktikan bahwa di balik layar ponsel, setiap individu mendambakan ruang di mana mereka bisa diterima apa adanya—bukan hanya citra yang dipoles.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User