Sep 17, 2026
Hukum

Sasol Bantah Tuduhan Pembuangan Limbah Beracun di Sungai

Selama tujuh tahun terakhir, warga di sekitar Kota Secunda, Afrika Selatan, hidup dalam kekhawatiran akan pencemaran Sungai Klipspruit. Sungai yang dulunya

Sasol Bantah Tuduhan Pembuangan Limbah Beracun di Sungai

Selama tujuh tahun terakhir, warga di sekitar Kota Secunda, Afrika Selatan, hidup dalam kekhawatiran akan pencemaran Sungai Klipspruit. Sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini kerap mengeluarkan bau menyengat dan warna air yang tak wajar. Di tengah keresahan itu, perusahaan petrokimia raksasa Sasol kembali menjadi sorotan. Badan Penuntut Umum Nasional (NPA) Afrika Selatan baru-baru ini melakukan penggeledahan baru di fasilitas Sasol di Secunda, menandai perluasan penyelidikan pidana atas dugaan pembuangan limbah kimia ilegal ke sungai tersebut.

Penggeledahan Baru dan Bukti Segar

Pada awal Maret 2025, tim penyidik NPA menggeledah beberapa kantor dan laboratorium Sasol di kompleks Secunda. Mereka menyita dokumen, sampel air, dan data operasional yang diduga menjadi bukti kuat atas praktik pembuangan limbah berbahaya tanpa izin. Seorang pejabat NPA yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Beritatercepat.com, "Kami memiliki bukti baru yang menunjukkan adanya pola pembuangan sistematis sejak 2018. Ini bukan lagi dugaan ringan." Penggeledahan ini merupakan kelanjutan dari penyelidikan yang sempat terhenti pada 2023 karena kurangnya bukti forensik.

"Kami memiliki bukti baru yang menunjukkan adanya pola pembuangan sistematis sejak 2018. Ini bukan lagi dugaan ringan." — Pejabat NPA (nama dirahasiakan)

Data dari Departemen Lingkungan Hidup Afrika Selatan mencatat setidaknya 12 insiden tumpahan kimia di sekitar pabrik Sasol antara 2020 dan 2024. Namun, sebagian besar kasus diselesaikan secara administratif dengan denda ringan. Kini, dengan tekanan publik dan temuan baru, NPA memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah pidana.

Pertahanan Teknis Sasol

Sasol tidak tinggal diam. Perusahaan tersebut mengajukan pembelaan teknis yang rumit. Juru bicara Sasol, Thandi Mokoena, dalam pernyataan tertulis kepada media, menegaskan bahwa "semua proses pembuangan limbah telah sesuai dengan izin lingkungan yang berlaku." Ia menambahkan bahwa sampel air yang diambil NPA mungkin terkontaminasi oleh sumber lain di luar kendali Sasol, seperti limpasan pertanian atau limbah domestik.

Pembelaan ini menuai kritik dari para ahli. Dr. Andi Pratama, seorang toksikolog lingkungan dari Universitas Indonesia, menilai argumen Sasol lemah. "Klaim kontaminasi silang memang masuk akal secara teoritis, tetapi untuk kasus Sungai Klipspruit, pola pencemaran sangat spesifik — senyawa kimia yang ditemukan adalah produk sampingan langsung dari proses Sasol," jelasnya.

"Pola pencemaran sangat spesifik — senyawa kimia yang ditemukan adalah produk sampingan langsung dari proses Sasol." — Dr. Andi Pratama, Toksikolog Lingkungan

Dalam dokumen pengadilan yang bocor ke publik, Sasol juga mengajukan argumen bahwa batas deteksi laboratorium NPA terlalu rendah, sehingga senyawa dalam konsentrasi sangat kecil dianggap berbahaya. Namun, para aktivis lingkungan menolak argumen ini. "Standar internasional justru semakin ketat. Konsentrasi sekecil apapun tetap berbahaya bagi ekosistem sungai," ujar Siti Rahma, koordinator Aliansi Hijau Indonesia yang memantau kasus ini.

Dampak Lingkungan dan Sosial

Dampak pencemaran sudah terasa. Sungai Klipspruit mengalir melalui beberapa desa yang bergantung pada air sungai untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga. Sejak 2019, kasus penyakit kulit dan gangguan pencernaan meningkat tajam di wilayah tersebut. Rumah Sakit Umum Secunda mencatat lonjakan 40% pasien dengan keluhan serupa antara 2020 dan 2023.

Sebuah studi independen oleh Universitas Pretoria pada 2024 menemukan bahwa kadar logam berat di sedimen sungai melebihi ambang batas aman hingga 300%. Tim peneliti juga mengidentifikasi senyawa BTEX (benzena, toluena, etilbenzena, xilena) yang umum ditemukan dalam limbah industri petrokimia. Ironisnya, Sasol justru mengklaim bahwa BTEX bisa berasal dari bensin yang bocor dari kendaraan — sebuah argumen yang oleh para ahli disebut "sangat tidak masuk akal untuk skala kontaminasi yang ditemukan."

ParameterKonsentrasi di Sungai KlipspruitBatas Aman WHO
Benzena45 ppb10 ppb
Timbal0,8 mg/L0,01 mg/L
Merkuri0,05 mg/L0,001 mg/L

Data di atas menunjukkan betapa parahnya pencemaran. Masyarakat setempat telah beberapa kali menggelar protes di depan gerbang pabrik Sasol, menuntut tanggung jawab perusahaan. Namun, Sasol hanya merespons dengan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupa pembangunan sumur bor dan filter air, yang oleh aktivis dianggap "hanya penutup masalah, bukan solusi."

Implikasi Lebih Luas

Kasus Sasol bukan sekadar persoalan hukum lokal. Ini menjadi ujian bagi sistem penegakan hukum lingkungan di Afrika Selatan. Jika NPA berhasil membawa Sasol ke pengadilan pidana, ini bisa menjadi preseden bagi kasus-kasus pencemaran serupa oleh perusahaan multinasional di negara berkembang.

Di sisi lain, Sasol juga menghadapi tekanan dari investor global. Dana pensiun Norwegia beberapa bulan lalu mengancam akan menjual saham mereka jika Sasol tidak segera membersihkan operasinya. Pasar saham Johannesburg pun mencatat penurunan harga saham Sasol sebesar 7% sejak penggeledahan NPA diumumkan.

Hingga berita ini diturunkan, Sasol masih bersikukuh pada pembelaan teknisnya. NPA menjadwalkan sidang perdana pada April 2025. Apakah keadilan akan ditegakkan? Ataukah sungai ini akan terus menjadi saksi bisu kelalaian industri? Waktu akan menjawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User