Sampah 2 Tahun Menumpuk di Rusun Pluit, Warga Keluh Bau Menyengat

Udara di kawasan Rumah Susun Waduk Pluit, Jakarta Utara, sudah lama tidak lagi ramah dihirup. Aroma busuk yang menyengat menusuk hidung menjadi teman sehar

Jul 16, 2026 - 03:27
0 0
Sampah 2 Tahun Menumpuk di Rusun Pluit, Warga Keluh Bau Menyengat

Udara di kawasan Rumah Susun Waduk Pluit, Jakarta Utara, sudah lama tidak lagi ramah dihirup. Aroma busuk yang menyengat menusuk hidung menjadi teman sehari-hari bagi ribuan warga yang bermukim di salah satu permukiman vertikal paling padat di ibu kota. Bukan karena faktor alam atau musim tertentu, melainkan karena tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut selama hampir dua tahun lamanya.

Di Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) yang berlokasi tepat di area rusun, gunungan sampah plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga lainnya membentuk bukit kecil yang makin hari makin tinggi. Kondisinya jauh dari kata layak dan sehat. Warga mengaku sudah berulang kali melapor, namun persoalan ini seolah tak pernah menemukan ujung penyelesaian.

Kronologi Penumpukan Sampah yang Tak Kunjung Tertangani

Berdasarkan penuturan sejumlah warga, persoalan menumpuknya sampah di TPS Rusun Waduk Pluit sudah berlangsung sejak kurang lebih dua tahun terakhir. Awalnya, pengangkutan sampah masih berjalan normal dengan jadwal rutin setiap hari. Namun perlahan, frekuensi pengangkutan berkurang drastis, hingga akhirnya berhenti hampir sepenuhnya.

"Dulu setiap hari diangkut, sekarang kadang seminggu sekali, bahkan bisa lebih dari itu. Sampah terus bertambah tapi truk pengangkut tidak pernah datang," keluh seorang warga rusun yang ditemui di lokasi, Selasa (15/10).

Petugas kebersihan setempat mengakui bahwa keterbatasan armada menjadi faktor utama penyebab mandeknya layanan pengangkutan. Jumlah kendaraan pengangkut yang beroperasi tidak sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan oleh ribuan penghuni rusun setiap harinya.

Dampak Buruk bagi Kesehatan dan Kehidupan Warga

Bau tak sedap bukan satu-satunya masalah yang harus dirasakan warga. Penumpukan sampah dalam jangka waktu panjang telah memicu sederet persoalan serius, mulai dari kesehatan hingga menurunnya kualitas hidup.

  • Penyakit Pernapasan: aroma busuk yang bercampur dengan udara lembap menjadi pemicu berbagai gangguan saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
  • Hewan Pengganggu: lalat, tikus, dan kecoa berkembang biak dengan cepat karena sumber makanan melimpah dari tumpukan sampah organik.
  • Risiko Banjir: sampah yang menumpuk di saluran air dapat menghambat aliran dan meningkatkan risiko genangan saat musim hujan tiba.
  • Menurunnya Nilai Estetika: pemandangan rusun yang seharusnya menjadi simbol permukiman modern justru berubah menjadi kawasan kumuh.
"Kami sudah capek mengeluh. Anak-anak jadi sering batuk dan pilek. Kalau makan, nafsu makan hilang karena bau menyengap dari mana-mana. Ini bukan tempat tinggal yang layak lagi," ujar seorang ibu rumah tangga dengan nada putus asa.

Respons Pemerintah dan Janji yang Tak Kunjung Terealisasi

Pemerintah Kota Jakarta Utara melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup disebut telah menerima laporan dari warga. Namun hingga saat ini, solusi konkret belum juga terlihat di lapangan. Beberapa kali pihak kelurahan dan kecamatan melakukan peninjauan, namun hasilnya nihil.

Salah satu kendala yang terus menjadi alasan adalah keterbatasan armada truk pengangkut sampah. Jumlah kendaraan yang tersedia di tingkat kelurahan diakui tidak mencukupi untuk melayani seluruh titik TPS yang ada. Selain itu, persoalan klasik berupa kerusakan kendaraan dan keterbatasan anggaran operasional juga disebut menjadi faktor penghambat.

Warga berharap pemerintah tidak lagi hanya sekadar berjanji. Mereka menuntut adanya langkah nyata yang bersifat permanen, bukan sekadar penindakan sementara yang akan kembali menimbulkan masalah dalam hitungan minggu.

Analisis: Akar Masalah dan Solusi Sistemik

Pakar tata kelola perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Astuti, menilai persoalan sampah di rusun merupakan cerminan dari lemahnya sistem pengelolaan sampah di tingkat komunitas. "Rusun adalah kawasan dengan kepadatan tinggi yang membutuhkan layanan khusus. Tidak mungkin pendekatan konvensional diterapkan tanpa penyesuaian," jelasnya.

Menurut Rini, setidaknya ada tiga langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan serupa:

  1. Penambahan Armada: alokasi kendaraan pengangkut khusus untuk kawasan padat penduduk seperti rusun.
  2. Sistem Pengangkutan Terjadwal: pembuatan jadwal tetap yang diawasi ketat agar tidak ada keterlambatan.
  3. Partisipasi Warga: mendorong pemilahan sampah dari sumbernya untuk mengurangi volume yang harus diangkut.

Harapan Warga di Tengah Bau yang Tak Kunjung Hilang

Di tengah segala ketidakpastian, para warga Rusun Waduk Pluit terus bertahan dengan cara mereka sendiri. Beberapa di antara mereka memilih menutup jendela rapat-rapat, sebagian lainnya berusaha menutup sampah dengan terpal seadanya agar bau tidak terlalu menyengat. Namun semua sepakat bahwa solusi sesungguhnya hanya bisa datang dari tangan pemerintah.

Persoalan sampah bukan sekadar masalah estetika atau kenyamanan. Lebih dari itu, ini menyangkut hak dasar warga negara atas lingkungan hidup yang sehat dan layak. Ketika bau busuk menjadi bagian dari rutinitas harian, maka sudah saatnya semua pihak berhenti berpura-pura bahwa masalah ini belum terjadi.

[SOCIAL_TWEET]: Sudah 2 tahun warga Rusun Waduk Pluit hidup dengan bau sampah menyengat. Armada truk pengangkut disebut minim, penumpukan tak terkendali. #SampahJakarta #RusunPluit #KrisisSampah [SOCIAL_TG]: 🗑️ Bau busuk 2 tahun! Warga Rusun Pluit muak dengan sampah yang tak diangkut. Armada kurang, janji pemerintah tak jelas. #SampahJakarta

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User