Rupiah Melemah ke Rp18.109, Sentimen Global Tekan Pasar
Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (13/7/2026) sore. Berdasarkan data Bloomberg,
Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (13/7/2026) sore. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,24 persen atau 44 poin ke level Rp18.109 per dolar AS, melanjutkan tren negatif yang telah berlangsung sejak awal pekan lalu. Pelemahan ini menempatkan rupiah di zona kritis karena mendekati level psikologis Rp18.200 yang terakhir kali disentuh pada pertengahan tahun 2025.
Tekanan Eksternal Kian Kuat
Para analis menilai pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor global, terutama penguatan dolar AS secara broad-based. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat naik 0,32 persen ke level 104,85 pada sore hari. Kenaikan ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
"Dolar menguat karena investor kembali memperhitungkan kebijakan moneter The Fed yang masih cenderung hawkish. Ini membuat aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia," ujar Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran perlambatan ekonomi China turut memperburuk sentimen pasar. Data terbaru menunjukkan indeks manufaktur China kembali terkontraksi, menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan ekspor Indonesia. Rupiah pun menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia siang tadi, bersama dengan won Korea Selatan dan baht Thailand.
Dampak Domestik dan Respons Bank Indonesia
Pelemahan rupiah yang persisten ini diperkirakan akan berdampak pada sektor impor dan inflasi dalam negeri. Harga barang baku impor seperti gandum, kedelai, dan minyak mentah berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Kementerian Keuangan menyatakan akan terus memantau pergerakan kurs dan dampaknya terhadap postur APBN 2026, terutama pada pos subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri.
Bank Indonesia (BI) di sisi lain telah mengisyaratkan kesiapannya melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Edi Susianto, menegaskan bahwa bank sentral akan mengambil langkah-langkah terukur.
"Kami terus berada di pasar untuk menjaga keseimbangan supply dan demand. Likuiditas valas masih cukup, dan BI memiliki amunisi cadangan devisa yang memadai untuk meredam volatilitas," kata Edi dalam pesan singkat.
Cadangan devisa Indonesia per akhir Juni 2026 tercatat sebesar $139,8 miliar, setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor, di atas standar kecukupan internasional.
Proyeksi dan Rekomendasi
Dengan kondisi saat ini, para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek. "Support terdekat berada di level Rp18.050, dan jika tembus, rupiah bisa menuju Rp18.200. Namun, jika sentimen global membaik, potensi technical rebound cukup terbuka," kata Analis Pasar Uang Bank Permata, Josua Pardede.
Para pelaku usaha diharapkan meningkatkan strategi lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs. Sementara itu, masyarakat umum diimbau tidak panik melakukan pembelian dolar secara masif, karena hal itu justru dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Pasar kini menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pertengahan pekan ini, yang dapat menjadi katalis utama arah pergerakan rupiah selanjutnya.
[SOCIAL_TWEET]: Rupiah ditutup melemah 0,24% ke Rp18.109 sore ini, tertekan penguatan dolar global dan ketidakpastian eksternal. BI siap intervensi. Simak analisis lengkapnya. #Rupiah #KursDolar #EkonomiRI[SOCIAL_TG]: 📉 Rupiah melemah ke Rp18.109 sore ini! Faktor eksternal jadi biang keladi. BI siap stabilkan pasar. Cek analisisnya di sini.
Comments (0)