Rupiah Melemah ke Rp18.109 per Dolar AS, Eskalasi AS-Iran Jadi Pemicu
Rupiah terperosok di akhir sesi perdagangan awal pekan ini, menyentuh level Rp18.109 per dolar Amerika Serikat pada Senin, 13 Juli 2026. Posisi ini merupakan yang terdalam dalam tiga pekan terakhir da...
Rupiah terperosok di akhir sesi perdagangan awal pekan ini, menyentuh level Rp18.109 per dolar Amerika Serikat pada Senin, 13 Juli 2026. Posisi ini merupakan yang terdalam dalam tiga pekan terakhir dan terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Washington dan Teheran.
Ketegangan AS-Iran Picu Aksi Jual
Eskalasi konflik AS-Iran menjadi katalis utama pukulan terhadap mata uang Garuda. Pasar global dilanda gelombang risk-off setelah laporan serangan siber dan ancaman balasan militer mencuat. Investor berbondong-bondong mengamankan aset ke dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah negara maju.
Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah terpukul. Arus modal keluar dari pasar obligasi dan saham domestik terpantau meningkat tajam. Tekanan jual terhadap rupiah juga diperkuat oleh penguatan indeks dolar yang mencatat level harian tertinggi dalam dua bulan.
Data dan Sentimen Pasar
Depresiasi harian rupiah mencapai 0,7% dibandingkan penutupan sebelumnya di kisaran Rp17.980. Volume transaksi di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF) membengkak hingga 40% di atas rata-rata harian bulan lalu, menandakan kepanikan yang tinggi. Pelaku pasar mengonfirmasi bahwa bank sentral beberapa kali melakukan intervensi untuk meredam gejolak, namun tekanan eksternal begitu deras.
Analis senior dari sebuah lembaga keuangan di Jakarta menyebut situasi ini sebagai 'perfect storm' bagi rupiah. "Fundamental domestik sebetulnya cukup solid, tetapi sentimen global yang sangat buruk ini menghantam tanpa ampun. Selama belum ada kepastian dari perundingan atau gencatan senjata, volatilitas akan tetap tinggi," ujarnya.
Respons Cepat Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) menggelar rapat darurat dan langsung mengambil langkah stabilisasi. Deputi Gubernur BI menegaskan bahwa pihaknya telah berada di pasar dengan strategi triple intervention: di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. "Kami akan memastikan likuiditas tetap memadai dan tidak memberi ruang bagi spekulan," tegasnya.
BI juga memberi sinyal bahwa opsi kenaikan suku bunga acuan dibuka jika tekanan belum mereda dalam beberapa hari ke depan. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pengetatan moneter justru bisa menekan pertumbuhan ekonomi yang baru mulai pulih pasca-pandemi. Penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan imbal hasil menarik juga digulirkan untuk menyerap kelebihan likuiditas valas.
Dampak pada Pasar Modal Domestik
Pelemahan rupiah langsung merembet ke bursa saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,2% dengan aksi jual terbesar di sektor perbankan dan properti. Investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp2,3 triliun dalam satu hari, terbesar dalam sebulan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun pun naik 12 basis poin menjadi 7,2%, mencerminkan persepsi risiko yang meningkat.
"Pasar keuangan kita sebenarnya relatif dalam, tapi ketakutan perang membuat semuanya ikut terbawa. Ini siklus yang menyakitkan dalam jangka pendek," kata seorang fund manager.
Prospek dan Potensi Rebound
Para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak liar dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.500 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Jika diplomasi internasional mampu menurunkan eskalasi, rupiah berpotensi menguat kembali secara teknis. Namun, bila konflik terbuka terjadi, level psikologis baru akan diuji.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi agresif dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan. Pelaku pasar diimbau tetap tenang dan mencermati setiap perkembangan komunikasi resmi dari kedua negara yang bertikai.
Baca juga:
Comments (0)