Sep 17, 2026
Nasional

Prabowo Sentil Fenomena Deep State dan Praktik Raja Kecil Birokrasi

JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terhadap budaya birokrasi yang dinilai lamban, kaku, dan cenderung menutup

Prabowo Sentil Fenomena Deep State dan Praktik Raja Kecil Birokrasi

JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terhadap budaya birokrasi yang dinilai lamban, kaku, dan cenderung menutup diri dari perubahan. Dalam pengarahannya, Kepala Negara secara terbuka menyoroti fenomena deep state serta menjamurnya oknum pegawai negeri sipil (PNS) yang bersikap seolah menjadi 'raja kecil' di instansi masing-masing sehingga menghambat efisiensi pelayanan publik dan implementasi program strategis nasional.

Presiden menegaskan bahwa integritas aparatur sipil negara (ASN) adalah tulang punggung berjalannya roda pemerintahan yang bersih. Menurutnya, tidak boleh ada kelompok atau individu di dalam tubuh birokrasi yang merasa tak tersentuh oleh hukum ataupun kebal terhadap evaluasi pimpinan nasional.

"Kita tidak boleh membiarkan adanya mentalitas birokrat yang merasa kebal hukum atau bertindak layaknya raja kecil di daerah maupun kementerian. Pelayanan rakyat harus menjadi prioritas mutlak di atas kepentingan ego sektoral," tegas Presiden Prabowo dalam arahannya.

Kronologi dan Sorotan Evaluasi Reformasi Birokrasi

Kritik mendalam terhadap tata kelola aparatur negara ini disampaikan melalui serangkaian arahan dan rapat koordinasi bersama jajaran menteri kabinet. Langkah penertiban birokrasi direncanakan berlangsung melalui tahapan sistematis berikut:

  1. Identifikasi Hambatan Birokrasi: Pemerintah pusat mengumpulkan laporan mengenai sumbatan izin investasi dan penyaluran anggaran yang kerap tertahan di meja pejabat teknis eselon bawah.
  2. Penyisiran Regulasi Tumpang Tindih: Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) diinstruksikan memangkas aturan birokrasi yang berbelit-belit serta mematikan celah korupsi transaksional.
  3. Penerapan Sistem Merit yang Ketat: Penilaian kinerja pejabat publik kini diukur secara langsung melalui Key Performance Indicators (KPI) berbasis kepuasan masyarakat dan kecepatan eksekusi anggaran.
  4. Sanksi Tegas Tanpa Kompromi: Pejabat yang terbukti mempersulit perizinan atau melakukan pembangkangan sistemik terhadap kebijakan pemerintah akan langsung dicopot dari jabatannya.

Ancaman Mentalitas 'Deep State' terhadap Pembangunan

Istilah deep state merujuk pada jejaring aparatur atau oknum internal kekuasaan yang secara diam-diam menghambat kebijakan resmi pemerintah terpilih demi melindungi kepentingan status quo mereka sendiri. Prabowo menggarisbawahi bahwa loyalitas ASN sejati hanyalah kepada bangsa, negara, dan kesejahteraan rakyat Indonesia, bukan pada jaringan patronase atau kelompok tertentu.

Pemerintah menargetkan perbaikan fundamental dalam budaya kerja aparatur sipil negara dengan fokus pada beberapa pilar utama:

  • Digitalisasi Penuh Layanan Publik: Mengurangi interaksi tatap muka guna menutup ruang pungutan liar dan mempersingkat durasi pengurusan izin usaha.
  • Pengawasan Silang Antar-Lembaga: Mengoptimalkan fungsi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memantau aliran dana program bantuan sosial dan infrastruktur.
  • Keterbukaan Saluran Pengaduan: Membuka akses pelaporan publik yang transparan agar masyarakat dapat langsung mengadukan penyalahgunaan wewenang oleh oknum birokrat.

Melalui gebrakan ini, Presiden berharap reformasi birokrasi tidak sekadar menjadi jargon seremonial belaka, melainkan bertransformasi menjadi mesin pembangunan yang lincah, profesional, dan berorientasi penuh pada kepentingan rakyat di seluruh pelosok Nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User