Polisi Bekuk Trio Begal Modus Kencan Sesama Jenis di Depok
DEPOK — Jajaran kepolisian berhasil mengungkap jaringan perampokan jalanan dengan modus baru yang memanfaatkan aplikasi kencan khusus komunitas. Tiga tersangka ditangkap setelah diduga melakukan ser...
DEPOK — Jajaran kepolisian berhasil mengungkap jaringan perampokan jalanan dengan modus baru yang memanfaatkan aplikasi kencan khusus komunitas. Tiga tersangka ditangkap setelah diduga melakukan serangkaian aksi begal terhadap korban yang dijerat melalui platform pertemanan Hornet.
Penangkapan dilakukan pada Rabu malam (26/7) setelah tim Resmob melakukan penyelidikan intensif selama sepekan. Para pelaku kerap mengincar pengguna aplikasi yang bersedia bertemu di lokasi sepi, lalu melancarkan aksinya dengan kekerasan.
Modus Proaktif di Aplikasi
Berdasarkan keterangan polisi, ketiganya—berinisial AF (25), RH (22), dan DW (19)—menggunakan akun palsu dengan foto profil menarik untuk mendekati calon korban. Setelah komunikasi terbangun, mereka mengajak korban bertemu di titik yang telah ditentukan, umumnya area minim penerangan di wilayah Depok, seperti sekitar Situ Rawa Kalong atau jalan perumahan baru di Cimanggis.
“Begitu korban tiba, mereka langsung diancam dengan senjata tajam. Pelaku tidak segan melukai korban yang melawan,” ujar Kasubdit Jatanras dalam konferensi pers.
Barang Bukti dan Ancaman Hukuman
Dari tangan tersangka, petugas menyita dua bilah pisau lipat, tiga unit ponsel hasil rampasan, sepeda motor korban, serta beberapa kartu ATM yang telah dikuras. Barang-barang tersebut diduga digunakan untuk membiayai gaya hidup para pelaku.
Ketiganya dijerat dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang ancaman hukumannya maksimal 12 tahun penjara. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor karena faktor malu atau takut.
Penangkapan berawal dari laporan seorang korban berusia 24 tahun yang berhasil lolos usai dianiaya dan dirampas sepeda motornya di kawasan Cilodong pekan lalu. Korban sempat mengalami luka robek di lengan akibat sabetan pisau. Tim khusus lalu memetakan pola komunikasi digital para pelaku dan berhasil mengendus keberadaan mereka di sebuah indekos di daerah Sukmajaya.
“Kami bergerak cepat karena modus ini berpotensi memakan banyak korban. Aplikasi seperti Hornet memang rawan disalahgunakan,” imbuh sumber kepolisian. Pihak pengelola aplikasi hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.
Selain itu, para pelaku juga memanfaatkan fitur “share location” untuk menunjukkan posisi mereka seolah berada di kafe ternama, padahal itu hanya umpan. Teknologi spoofing lokasi diduga mereka gunakan. Polisi kini tengah berkoordinasi dengan pihak aplikasi untuk mengidentifikasi korban-korban yang belum melapor.
Imbauan untuk Masyarakat
Kepolisian mengimbau masyarakat, khususnya pengguna platform kencan digital, untuk tidak mudah tergoda bertemu di tempat privat. “Pastikan profil yang diajak bicara terverifikasi atau setidaknya lakukan panggilan video terlebih dahulu,” pesan petugas. Selalu pilih lokasi publik seperti kafe atau mal untuk pertemuan pertama, serta jaga jarak dari ajakan mendadak ke tempat yang tak dikenal.
Comments (0)