BALIKPAPAN — PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) mencatatkan pencapaian operasional signifikan dalam menjaga keandalan pasokan energi nasional. Anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang berada di bawah naungan Subholding Upstream Pertamina tersebut berhasil menggenjot produksi minyak bumi hingga 710 barel minyak per hari (BOPD). Tambahan volume produksi ini diperoleh melalui keberhasilan proyek optimalisasi pada Sumur Sepinggan V-7 yang berlokasi di lepas pantai Kalimantan Timur.
Keberhasilan proyek ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan lapangan migas tua (mature fields) masih memiliki potensi besar apabila dikombinasikan dengan inovasi teknologi serta rekayasa teknik yang presisi. Di tengah tantangan penurunan produksi secara alamiah (natural decline), terobosan yang dilakukan oleh tim teknis PHKT mampu memberikan kontribusi positif melampaui perkiraan awal perusahaan.
Strategi Teknis dan Kronologi Optimalisasi Sumur
Proses intervensi pada Sumur Sepinggan V-7 dilaksanakan melalui serangkaian kajian subsurface komprehensif guna mengidentifikasi zona hidrokarbon potensial yang belum tergarap secara maksimal. Berbagai tahapan operasional dijalankan dengan ketat demi memastikan aspek keselamatan kerja dan efisiensi biaya tetap terjaga.
Berikut adalah beberapa langkah strategis yang diterapkan dalam proyek optimalisasi Sumur Sepinggan V-7:
- Evaluasi Geologi dan Reservoir: Pemetaan ulang persebaran fluida dan tekanan reservoir untuk menemukan lapisan penyimpan minyak yang masih memiliki tekanan statis tinggi.
- Pekerjaan Ulang Sumur (Workover): Pelaksanaan penutupan zona air (water shut-off) dan pembukaan interval perforasi baru pada lapisan produktif.
- Optimasi Artificial Lift: Penyesuaian skema pengangkatan buatan untuk memaksimalkan laju alir minyak dari dasar sumur ke fasilitas penerima di permukaan.
- Pengujian Kestabilan Produksi: Monitoring berkelanjutan pasca-intervensi guna memastikan laju alir fluida tetap stabil dan aman bagi integritas pipa salur.
Analisis Dampak Operasional dan Kinerja Produksi
Keberhasilan mengalirkan tambahan 710 BOPD dari satu sumur memberikan dorongan positif bagi realisasi target produksi mingguan dan bulanan PHKT di Zone 10. Langkah optimalisasi sumur tua ini terbukti jauh lebih efisien dari sisi biaya kapital (capex) dibandingkan dengan mengebor sumur eksplorasi baru.
| Indikator Kinerja | Sebelum Optimalisasi | Sesudah Optimalisasi | Peningkatan / Dampak |
|---|---|---|---|
| Laju Produksi Minyak | Terbatas / Rendah | +710 BOPD | Lonjakan Produksi Utama |
| Status Operasional Sumur | Restriksi Aliran | Optimal & KONTINU | Peningkatan Efisiensi Alir |
| Efisiensi Biaya (Capex) | Standar Perbaikan | Sangat Efisien | Penghematan Biaya Operasi |
Menanggapi pencapaian ini, pakar ketahanan energi menilai bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna pada sumur eksisting adalah strategi paling realistis saat ini. "Keberhasilan optimalisasi Sumur Sepinggan V-7 menunjukkan bahwa pemahaman mendalam atas karakter reservoir tua dapat menghasilkan tambahan produksi yang sangat signifikan tanpa harus menanggung risiko biaya pengeboran baru yang tinggi," ungkap seorang analis industri minyak dan gas nasional.
Mendukung Target Produksi Nasional 2030
Pencapaian dari Sumur Sepinggan V-7 ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung target pemerintah Indonesia untuk mencapai produksi minyak bumi sebesar 1 juta BOPD dan gas bumi sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030 mendatang. PHKT terus berkomitmen melakukan pemetaan terhadap sumur-sumur potensi lainnya di Wilayah Kerja Kalimantan Timur.
Dengan tetap mengedepankan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Perlindungan Lingkungan (K3LL), PHKT optimis mampu mempertahankan keandalan fasilitas operasi dan memberikan kontribusi nyata bagi kedaulatan energi Indonesia.
Comments (0)