Periksa Mata Berkala: Kunci Lansia Cegah Kebutaan

Jakarta, DETIK INI JUGA – Kebutaan mengancam jutaan lansia yang mengabaikan pemeriksaan mata rutin. Gangguan penglihatan pada usia senja bukan takdir, melainkan kondisi yang bisa dicegah dengan dete...

Jul 12, 2026 - 08:06
0 0

Jakarta, DETIK INI JUGA – Kebutaan mengancam jutaan lansia yang mengabaikan pemeriksaan mata rutin. Gangguan penglihatan pada usia senja bukan takdir, melainkan kondisi yang bisa dicegah dengan deteksi dini.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, sedikitnya 2,2 miliar orang hidup dengan gangguan penglihatan. Lebih dari 50 persen di antaranya adalah lansia. Di Indonesia, prevalensi katarak—penyebab utama kebutaan—mencapai 1,8 persen atau sekitar 1,5 juta jiwa berusia di atas 50 tahun.

Namun, akses terhadap layanan pemeriksaan mata dan alat bantu penglihatan masih timpang. Banyak lansia di pelosok tak pernah sekalipun mengunjungi dokter mata. Kondisi ini memicu kebutaan yang sebenarnya bisa dihindari.

Mengapa Lansia Sangat Rentan?

Penuaan alami memicu perubahan signifikan pada struktur mata. Lensa mata mengeras dan mengeruh, tekanan bola mata meningkat, dan retina menipis. Tiga penyakit utama pun mengintai: katarak, glaukoma, dan degenerasi makula.

  • Katarak: Lensa mata berubah buram seperti kaca berembun. Gejala awal: pandangan kuning, sensitif cahaya.
  • Glaukoma: Si pencuri penglihatan tanpa gejala. Tekanan bola mata tinggi merusak saraf optik secara diam-diam.
  • Degenerasi Makula: Merusak penglihatan sentral. Lansia sulit membaca, mengenali wajah, atau melihat jam.

Tanpa pemeriksaan berkala, penyakit ini sering lolos dari deteksi. Akibatnya, penanganan terlambat dan kerusakan permanen terjadi.

Skrining Rutin: Penyelamat Mata Lansia

Pemeriksaan mata minimal setahun sekali bukan sekadar formalitas. Prosedur ini bisa menangkap kelainan sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul.

Tensiometer mendeteksi tekanan bola mata abnormal—penanda glaukoma. Oftalmoskopi memeriksa retina untuk degenerasi makula. Sementara slit lamp mengevaluasi kejernihan lensa.

"Dengan deteksi dini, 80 persen kebutaan bisa dicegah," tegas dr. Rina, spesialis mata dari RS Cipto Mangunkusumo. "Sayangnya, banyak lansia datang sudah dalam kondisi parah."

Alat Bantu Penglihatan Buka Kembali Dunia Mereka

Setelah diagnosis, penanganan tepat sasaran sangat krusial. Operasi katarak dengan lensa intraokular bisa mengembalikan penglihatan jernih dalam hitungan menit. Tetes mata khusus mengontrol glaukoma. Alat bantu low vision seperti kaca pembesar khusus membantu degenerasi makula.

Namun, untuk mengakses semua itu, lansia butuh dukungan penuh: biaya terjangkau, transportasi, dan informasi memadai. Program JKN-KIS sejatinya menanggung operasi katarak, tapi masih banyak lansia tak tahu.

Pemerintah daerah didorong menggencarkan bakti sosial operasi katarak dan pemeriksaan mata gratis. LSM dan komunitas lansia pun harus disisipkan edukasi kesehatan mata.

Aksi Keluarga, Tameng Terkuat

Keluarga adalah gardu terdepan. Anak dan cucu wajib mengingatkan dan mengantar lansia periksa mata. Jangan anggap remeh keluhan penglihatan buram.

"Ibu saya dulu menolak operasi katarak karena takut. Setelah diyakinkan dan diantar, sekarang beliau bisa membaca Al-Quran lagi," cerita Dewi (45), seorang anak yang berhasil menyelamatkan penglihatan ibunya.

Kisah Dewi membuktikan, dukungan emosional dan tindakan nyata keluarga mampu membalikkan nasib penglihatan lansia.

Kini saatnya bertindak. Jadwalkan pemeriksaan mata bagi orang tua dan kakek-nenek Anda minggu ini. Karena setiap lansia berhak melihat dunia dengan jelas hingga akhir hayat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User