Pekanbaru — Hendrawan Terkesan dengan Bibit Pebulutangkis Putri
Antusiasme tinggi menyelimuti Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Angkasa, Pekanbaru, Riau, akhir pekan lalu. Ratusan pebulutangkis muda unjuk gigi, namun ya
Antusiasme tinggi menyelimuti Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Angkasa, Pekanbaru, Riau, akhir pekan lalu. Ratusan pebulutangkis muda unjuk gigi, namun yang paling mencuri perhatian adalah sektor tunggal putri. Sejumlah bibit potensial dengan teknik dasar matang dan semangat juang tinggi mendapat pujian langsung dari Hendrawan, mantan pelatih tunggal putra nasional sekaligus legenda bulutangkis yang kini menjadi tim pencari bakat.
Hendrawan yang biasanya dingin dan kritis, kali ini melontarkan apresiasi langka. "Sudah lama saya tidak melihat talenta putri sekompetitif ini di level audisi. Mereka punya fondasi footwork yang rapi dan keberanian bermain rally panjang," ujarnya di sela sesi pemantauan. Sorot matanya sesekali berbinar ketika dua peserta, Saras (14 tahun) dan Ayu (15 tahun), melakukan duel sengit yang memaksa rubber game.
Strategi Baru Pencarian Bibit
PB Djarum memang mengubah pendekatan audisi tahun ini—tidak hanya menilai teknik, tetapi juga mental bertanding dan daya juang. Pengamatan Hendrawan fokus pada bagaimana peserta bangkit setelah ketertinggalan poin. "Saya ingin lihat siapa yang punya karakter. Di lapangan, skill bisa diasah, tapi mental baja itu bawaan," jelasnya.
"Kami sudah merekomendasikan 7 nama putri untuk pemantauan lanjutan. Kalau diasah betul, 2-3 di antaranya bisa jadi tiang utama Indonesia di Uber Cup empat tahun ke depan," kata Hendrawan.
Pernyataan itu menjadi angin segar bagi regenerasi bulutangkis putri Indonesia yang belakangan kerap kesulitan menyaingi kekuatan Asia seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Data Partisipasi dan Harapan
Audisi di Pekanbaru mencatat 378 peserta, meningkat 15 persen dari tahun lalu. Sektor putri menyumbang 42 persen peserta, dengan rata-rata usia 13–17 tahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10 persen yang akan mendapat tiket ke karantina final di Kudus. Persaingan ketat, namun Hendrawan melihat sinyal positif: para peserta datang dengan persiapan lebih matang, tak sedikit yang sudah diasah pelatih daerah.
Mencetak Penerus Susy Susanti?
Nama-nama seperti Saras, Ayu, dan tiga sebutan lainnya—Dinda, Naura, dan Rani—disebut Hendrawan memiliki potensi untuk mengisi pelatnas di masa depan. Salah satu peserta, Saras yang berasal dari Pekanbaru, mengaku terinspirasi tunggal putri nomor satu dunia An Se-young. "Saya ingin punya penguasaan lapangan seperti dia, dan bisa membawa nama Indonesia di All England," ujarnya penuh semangat.
Program PB Djarum sendiri telah melahirkan banyak juara dunia, seperti Liem Swie King, Alan Budikusuma, dan Susi Susanti. Hendrawan menekankan bahwa audisi semacam ini bukan sekadar mencari juara teknik, tetapi juga pribadi yang utuh. "Kami didik mereka jadi atlet profesional yang tangguh dan rendah hati," tutupnya.
[SOCIAL_TWEET]: Mata Hendrawan berbinar lihat pebulutangkis putri muda di Audisi PB Djarum Pekanbaru. 7 nama direkomendasikan, 2-3 di antaranya dinilai bisa jadi andalan Indonesia di masa depan. #BulutangkisIndonesia #PBDjarum #AudisiUmum2026[SOCIAL_TG]: 🏸 Hendrawan: "Sudah lama tak lihat talenta putri sekompetitif ini" — 7 nama diincar untuk dibina langsung. Masa depan bulutangkis Indonesia cerah! 🇮🇩
Comments (0)