Dalam sebuah langkah simbolis yang sarat akan nilai sejarah dan kebangsaan, Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi mengumumkan nama untuk angkatan pertama program dinas militer sukarela nasional yang baru. Angkatan perdana dari program yang diluncurkan pada November 2025 tersebut bakal mengusung nama Henri Fertet, seorang pahlawan muda gerakan perlawanan Prancis (Résistance) yang dieksekusi mati oleh pasukan pendudukan Nazi pada usia yang sangat muda, 16 tahun.
Pengumuman ini disampaikan Macron sebagai bagian dari visi besar pemerintah dalam memperkokoh hubungan kekeluargaan serta doktrin pertahanan antara angkatan bersenjata dan seluruh elemen masyarakat sipil. Dengan menyematkan nama seorang martir muda Perang Dunia II, pemerintah Prancis berharap mampu menyuntikkan nilai-nilai patriotisme, keberanian, dan tanggung jawab kewarganegaraan kepada para pemuda yang mendaftar dalam program militer anyar tersebut.
Warisan Semangat Henri Fertet bagi Generasi Muda
Sosok Henri Fertet bukanlah nama asing dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Prancis. Lahir pada tahun 1926, Fertet bergabung dengan kelompok pejuang perlawanan lokal saat usianya belum genap dewasa untuk melawan pendudukan tentara Jerman Nazi. Setelah ditangkap, disiksa, dan dijatuhi hukuman mati, Fertet dieksekusi bersama rekan-rekan seperjuangannya di Citadelle de Besançon pada September 1943.
Surat terakhir yang ditulis Fertet kepada orang tuanya beberapa saat sebelum menghadapi regu tembak telah menjadi manuskrip bersejarah yang terus dibacakan dalam berbagai upacara peringatan nasional di Prancis. Kata-kata terakhirnya memancarkan keteguhan hati yang luar biasa bagi seorang remaja.
"Saya mati untuk tanah air saya. Saya ingin Prancis yang bebas dan rakyat yang bahagia. Jangan menangis, ibu, duka kalian akan menjadi kehormatan bagi saya," demikian petikan ikonis dari surat terakhir Henri Fertet yang terus menginspirasi publik Prancis.
Keputusan Macron memilih nama Fertet menegaskan bahwa pengorbanan jiwa dan raga demi kedaulatan bangsa bukanlah domain eksklusif tentara profesional, melainkan panggilan moral setiap warga negara.
Restrukturisasi Dinas Militer: Memperkuat Benteng Bangsa
Program yang dinamakan "Service National" atau Dinas Nasional ini diluncurkan secara resmi oleh Macron pada November 2025. Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu di kawasan Eropa, yang menuntut kesiapsiagaan nasional tidak hanya dari lini militer aktif tetapi juga partisipasi masyarakat sipil.
Berbeda dengan sistem wajib militer tradisional yang dihentikan oleh Presiden Jacques Chirac pada tahun 1997, skema baru ini bersifat sukarela namun memiliki kurikulum yang dirancang ketat untuk membentuk karakter, kepemimpinan, serta kesiapan dalam menghadapi situasi krisis nasional.
| Parameter | Wajib Militer Tradisional (Hingga 1997) | Dinas Nasional Baru (Mulai 2025) |
|---|---|---|
| Sifat Kepesertaan | Mandatori (Wajib bagi pria) | Sukarela (Pria & Wanita) |
| Fokus Utama | Pertahanan militer konvensional | Integrasi sipil-militer, ketahanan nasional |
| Nama Angkatan Perdana | Berdasarkan tahun/divisi reguler | Henri Fertet (Pahlawan Perlawanan) |
Membangun Pertahanan Melalui Kesadaran Sipil
Tujuan utama dari pengaktifan kembali dinas nasional ini adalah untuk "mengkonsolidasikan ikatan antara angkatan bersenjata dan bangsa". Macron menilai bahwa integrasi sosial dan kesadaran bela negara di kalangan pemuda sempat memudar selama beberapa dekade terakhir akibat tiadanya wadah bersama yang menyatukan latar belakang warga yang beragam.
Para peserta angkatan pertama Henri Fertet akan menjalani pelatihan dasar militer, pendidikan kewarganegaraan, simulasi pertahanan sipil, hingga pemahaman tentang ancaman siber dan krisis lingkungan. Melalui skema ini, pemerintah Prancis berharap melahirkan generasi muda yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan loyalitas tinggi terhadap nilai-nilai Republik.
"Negara yang kuat adalah negara yang pemudanya mengenal sejarahnya dan siap menjaga masa depannya," tegas salah satu pejabat Kementerian Pertahanan Prancis saat mendampingi pengumuman tersebut. Dengan pengikatan nama Henri Fertet, angkatan pertama dinas militer ini resmi mengemban beban sejarah sekaligus harapan baru bagi pertahanan Prancis di masa depan.
Comments (0)