PARIS — Tindakan militer Rusia yang kian brutal dan tanpa batas di Ukraina dinilai bukan sekadar kalkulasi taktis di medan perang, melainkan pelepasan dari akumulasi rasa frustrasi Kremlin atas hilangnya status adidaya dunia. Penilaian mendalam tersebut dipaparkan oleh peneliti dan pakar dinamika Rusia terkemuka, Céline Marangé, melalui buku terbarunya yang bertajuk La guerre d’Europe a commencé (Perang Eropa Telah Dimulai).
Dalam telaah akademis yang tajam tersebut, Marangé menyoroti bagaimana rezim Vladimir Putin digerakkan oleh ambisi imperialis kuno dan sentimen revanchisme yang telah dipendam selama lebih dari tiga dekade sejak bubarnya Uni Soviet.
"Kekerasan tanpa kendali yang diperlihatkan dalam perang ini menyingkap rasa frustrasi akut akibat kemerosotan pengaruh geopolitik Rusia di panggung global," tulis Céline Marangé dalam analisisnya.
Kronologi Kebangkitan Revanchisme dan Agresi Militer Kremlin
Ambisi hegemoni Rusia tidak terbentuk dalam semalam. Marangé menguraikan fase transformasi kebijakan agresif Moskow yang berpuncak pada konflik terbuka skala penuh saat ini:
- Desember 1991 (Runtuhnya Uni Soviet): Moskow kehilangan kendali atas 14 republik pecahan Soviet, menciptakan trauma geopolitik mendalam bagi para elite militer dan intelijen KGB yang kini mendominasi lingkaran dalam Putin.
- Februari 2007 (Pidato Keamanan Munich): Vladimir Putin secara terbuka menolak tatanan dunia unipolar pimpinan Barat dan memberi sinyal bahwa Rusia bersiap menuntut kembali pengaruh eksklusifnya di kawasan Eropa Timur.
- Agustus 2008 (Invasi ke Georgia): Moskow melancarkan operasi militer lima hari yang memecah integritas Georgia, menjadi uji coba pertama penerapan kekuatan bersenjata untuk membendung pengaruh Barat.
- Februari 2014 (Aneksasi Ilegal Semenanjung Krimea): Titik balik penting ketika Rusia merebut wilayah Ukraina secara sepihak dan menyulut konflik separatis di kawasan Donbas.
- Februari 2022 (Invasi Skala Penuh ke Ukraina): Moskow melancarkan agresi militer masif dengan dalih demiliterisasi, memperlihatkan kekerasan terstruktur untuk menghapus kedaulatan negara tetangganya.
Kekerasan Terstruktur sebagai Instrumen Geopolitik
Menurut kajian Marangé, pendekatan tanpa kompromi yang diterapkan pasukan Rusia mencerminkan keputusasaan strategis. Ketika kekuatan ekonomi, teknologi, dan daya tarik diplomasi gagal mempertahankan satelit-satelit eks-Soviet dalam orbit Moskow, kekuatan militer brutal menjadi instrumen pamungkas yang tersisa.
Marangé juga menggarisbawahi beberapa faktor pendorong utama di balik eskalasi ini:
- Sentimen Imperialisme Nostalgis: Keinginan memulihkan wilayah historis Kekaisaran Rusia dan menolak eksistensi bangsa Ukraina sebagai entitas berdaulat.
- Paranoia Pengepungan Eksternal: Narasi ancaman ekspansi NATO yang dieksploitasi Kremlin untuk melegitimasi represi internal dan agresi luar negeri.
- Doktrin Kekuasaan Otokratis: Kebutuhan menjaga kelangsungan rezim otoriter di Moskow dengan menciptakan konflik eksternal permanen.
Buku ini memberikan peringatan keras bagi negara-negara Eropa bahwa perang di Ukraina bukan sekadar konflik regional, melainkan tantangan eksistensial terhadap tatanan hukum internasional dan arsitektur keamanan Eropa secara keseluruhan.
Comments (0)