Mitos Golongan Darah O Lebih Disukai Nyamuk Dibantah Ahli IPB
Mitos yang menyebut bahwa nyamuk lebih menyukai orang dengan golongan darah O telah beredar luas di masyarakat. Banyak yang percaya bahwa mereka yang bergo
Mitos yang menyebut bahwa nyamuk lebih menyukai orang dengan golongan darah O telah beredar luas di masyarakat. Banyak yang percaya bahwa mereka yang bergolongan darah O lebih sering menjadi sasaran gigitan nyamuk dibanding golongan darah lainnya. Namun, benarkah anggapan tersebut? Sebuah penjelasan ilmiah dari Guru Besar Entomologi Kesehatan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Budi Santoso, M.Si., akhirnya mengungkap fakta di balik mitos yang sudah bertahan puluhan tahun ini.
Dalam seminar daring bertajuk "Mitos dan Fakta Seputar Nyamuk" yang digelar pada Senin (10/05/2026), Prof. Budi memaparkan hasil-hasil riset terbaru terkait preferensi nyamuk terhadap manusia. Ia menegaskan bahwa golongan darah hanyalah salah satu dari banyak faktor yang memengaruhi ketertarikan nyamuk untuk menggigit.
Kronologi Mitos dan Asal Usulnya
Berdasarkan penelusuran Prof. Budi, klaim bahwa golongan darah O lebih disukai nyamuk pertama kali muncul dari penelitian kecil di tahun 1970-an. Kemudian, sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Entomology pada 2004 mengamati bahwa nyamuk spesies Aedes albopictus lebih banyak hinggap pada pemilik golongan darah O. Namun, penelitian selanjutnya menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan.
- 1972: Studi awal oleh Wood et al. menemukan perbandingan preferensi nyamuk terhadap golongan darah, namun sampelnya sangat kecil.
- 2004: Penelitian Nature mengamati 64 orang dewasa; menunjukkan bahwa mereka dengan golongan darah O 83% lebih mungkin digigit dibanding golongan darah A. Namun angka ini dianggap rancu karena tidak mengontrol sekresi antigen pada kulit.
- 2019: Uji coba terkontrol oleh tim IPB melibatkan 100 relawan dengan latar belakang genetik seragam. Hasilnya, golongan darah O hanya memiliki tingkat hinggap 11% lebih tinggi dari golongan darah A, sementara golongan darah B dan AB berada di antaranya.
- 2024-2025: Meta-analisis yang menggabungkan 18 studi global menyimpulkan tidak ada perbedaan signifikan secara statistik antara golongan darah dalam hal jumlah gigitan nyamuk harian.
Penjelasan Ilmiah: Golongan Darah Bukan Penentu Utama
Prof. Budi menjelaskan bahwa nyamuk betina yang menjadi pengisap darah mencari mangsa berdasarkan kombinasi isyarat kimia dan fisik. Isyarat tersebut meliputi karbon dioksida (CO2), panas tubuh, kelembapan kulit, dan senyawa organik yang dikeluarkan melalui keringat. "Golongan darah memang ikut berperan karena sekresi antigen Golongan Darah A, B tidak ditemukan pada golongan darah O, sehingga pada individu non-sekretor, sedikit antigen yang terdeteksi di permukaan kulit. Tapi faktor ini sangat kecil dibandingkan pengaruh metabolisme dan mikrobiota kulit," ungkapnya.
Ia merinci beberapa faktor yang jauh lebih dominan:
- Karbon dioksida (CO2): Nyamuk dapat mendeteksi CO2 dari jarak hingga 50 meter. Orang yang bernapas lebih cepat atau memiliki aktivitas metabolik tinggi—seperti ibu hamil atau orang gemuk—cenderung lebih menarik perhatian nyamuk.
- Senyawa keringat: Asam laktat, amonia, dan asam urat dalam keringat merupakan pemikat kuat. Studi IPB menemukan bahwa atlet yang selesai berolahraga digigit 3 kali lebih sering saat istirahat.
- Suhu dan kelembapan tubuh: Kulit yang lebih hangat dan lembap menciptakan lingkungan ideal bagi nyamuk untuk mendekat.
- Mikrobiota kulit: Komposisi bakteri tertentu pada kulit menghasilkan bau khas yang disukai nyamuk. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan variasi bakteri Staphylococcus dua kali lebih sering digigit.
- Pakaian dan warna: Nyamuk cenderung terbang menuju warna gelap seperti hitam, biru tua, dan merah; sementara warna terang kurang menarik.
Prof. Budi menambahkan bahwa spesies nyamuk yang berbeda mungkin memiliki kecenderungan berbeda pula. Anopheles gambiae yang menularkan malaria cenderung mengandalkan bau kaki dan CO2, sementara Aedes aegypti lebih responsif terhadap suhu dan asam laktat.
Lalu, Apakah Ada Golongan Darah yang Benar-benar "Aman"?
Jawabannya, tidak. Semua golongan darah dapat digigit nyamuk. Yang paling menentukan adalah individu sebagai "sekretor" atau "non-sekretor"—yakni apakah mereka mengeluarkan antigen golongan darah dalam cairan tubuh seperti keringat dan air liur. Sekitar 80% populasi Asia adalah sekretor, sehingga antigen golongan darah mereka terdeteksi di permukaan kulit. Bagi non-sekretor golongan O, kadar antigen rendah mungkin sedikit mengurangi sinyal, tetapi bukan berarti bebas gigitan.
Langkah Perlindungan Diri yang Efektif
Mengingat bahwa faktor-faktor di atas tidak dapat sepenuhnya diubah, Prof. Budi merekomendasikan langkah-langkah berikut:
- Menggunakan losion anti-nyamuk yang mengandung DEET 10-30% atau pikaridin.
- Memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada pagi dan sore hari.
- Menyemprotkan insektisida pada kelambu dan jendela.
- Menjaga kebersihan lingkungan dengan mengeliminasi genangan air untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Kesimpulannya, klaim bahwa golongan darah O sangat disukai nyamuk merupakan penyederhanaan berlebihan. Prof. Budi menutup sesi dengan pernyataan tegas: "Daripada khawatir golongan darah, lebih baik fokus pada proteksi diri dan lingkungan. Nyamuk tidak peduli Anda golongan darah apa—yang penting Anda bernapas, berkeringat, dan berdarah."
[SOCIAL_TWEET]: Benarkah golongan darah O lebih disukai nyamuk? Guru Besar IPB bongkar faktanya! Penelitian terbaru: faktor keringat, CO₂, & bakteri di kulit lebih penting. Jangan tertipu mitos! #FaktaNyamuk #GolonganDarah #IPB[SOCIAL_TG]: 🦟 Mitos golongan darah O disukai nyamuk terbantahkan! Menurut Guru Besar IPB, yang lebih berpengaruh adalah keringat, CO₂, dan bakteri kulit. Yuk simak penjelasan lengkapnya di sini.
Comments (0)