Sep 19, 2026
Nasional

Mitigasi Bencana: Warga Diimbau Jalankan Protokol Penyelamatan Erupsi Gunung

JAKARTA — Otoritas penanggulangan bencana bersama badan kesehatan internasional mengingatkan masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana (KRB) gunung

Mitigasi Bencana: Warga Diimbau Jalankan Protokol Penyelamatan Erupsi Gunung

JAKARTA — Otoritas penanggulangan bencana bersama badan kesehatan internasional mengingatkan masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana (KRB) gunung api untuk senantiasa memperbarui kesiapsiagaan menghadapi potensi erupsi. Aktivitas vulkanik yang meningkat secara mendadak kerap memicu kepanikan massal, padahal ketenangan dan tindakan yang terencana menjadi faktor penentu keselamatan jiwa saat awan panas serta material lahar dimuntahkan.

Berdasarkan panduan keselamatan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemahaman terhadap mitigasi bencana harus diterapkan secara berurutan, mulai dari fase pra-bencana hingga pasca-erupsi guna meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa.

"Kepanikan di tengah kepulan abu dan ancaman awan panas dapat memperlambat mobilitas evakuasi. Kunci utama keselamatan adalah kepatuhan total pada rute evakuasi resmi dan disiplin perlindungan diri dari material piroklastik," tegas juru bicara tim mitigasi kebencanaan.

Kronologi dan Panduan Penyelamatan Saat Letusan Berlangsung

Ketika status gunung api dinaikkan menjadi Level IV (Awas) dan letusan mulai terkonfirmasi, masyarakat diminta untuk menjalankan protokol penyelamatan terstruktur berikut ini:

  1. Memantau Jalur Komunikasi Resmi: Segera nyalakan radio panggil atau pantau informasi daring dari PVMBG dan BPBD untuk mengetahui arah sebaran abu vulkanik serta zona bahaya yang diperluas.
  2. Memulai Evakuasi Terarah: Begitu sirine evakuasi berbunyi, segera tinggalkan radius bahaya menuju titik kumpul menggunakan rute yang telah ditetapkan, tanpa menunggu fenomena visual erupsi terlihat dekat.
  3. Melindungi Saluran Pernapasan: Kenakan masker bersertifikasi minimal N95 atau kain tebal yang dibasahi air untuk menyaring partikel mikro silika yang terkandung dalam abu vulkanik.
  4. Memproteksi Penglihatan dan Kulit: Gunakan kacamata pelindung (goggles) dan pakaian tertutup lengan panjang guna menghindari iritasi kornea mata serta luka bakar akibat kontak dengan abu panas.
  5. Menutup Rapat Bangunan Rumah: Bagi warga yang belum sempat terevakuasi dan harus bertahan sementara di ruangan tertutup, tutup semua ventilasi, jendela, serta celah pintu menggunakan kain basah.
  6. Menghindari Jalur Lembah dan Sungai: Jauhi area bantaran sungai dan lembah karena wilayah tersebut merupakan koridor utama aliran lahar dingin dan banjir material vulkanik saat hujan turun di puncak gunung.
  7. Pemeriksaan Struktur Pasca-Bencana: Setelah erupsi mereda, bersihkan timbunan abu tebal dari atap rumah secara hati-hati sebelum beban berat merobohkan struktur bangunan tempat tinggal.

Ancaman Paparan Abu Vulkanik Terhadap Kesehatan

Selain ancaman fisik langsung seperti lontaran batu pijar dan guguran awan panas, bahaya laten erupsi terletak pada paparan debu vulkanik yang melayang di udara hingga ratusan kilometer. Debu ini mengandung partikel tajam mineral kaca yang dapat memicu gangguan pernapasan akut (ISPA), kerusakan permanen pada jaringan paru-paru, hingga kecelakaan lalu lintas akibat jarak pandang yang merosot tajam.

Petugas kesehatan di posko pengungsian diinstruksikan untuk memprioritaskan kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita asma guna mendapatkan penanganan medis berkala serta pasokan alat pelindung diri yang memadai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User