Megawati Serukan Pemuda Ingat Sejarah Berdarah Bangsa
JAKARTA — Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, melontarkan seruan keras agar generasi muda tidak melupakan jejak berdarah yang mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan. Pidato itu disam...
JAKARTA — Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, melontarkan seruan keras agar generasi muda tidak melupakan jejak berdarah yang mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan. Pidato itu disampaikan di tengah peresmian Monumen Kudatuli, simbol kelam sejarah partai yang kini berdiri di halaman DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat.
Di hadapan kader dan tamu undangan yang hadir, Megawati menekankan bahwa kenyamanan yang dirasakan anak muda saat ini bukan hadiah gratis. Ia merujuk pada air mata, keringat, dan nyawa yang terenggut demi mengibarkan sang merah putih.
Monumen Kudatuli, Luka yang Tak Boleh Pudar
Peresmian monumen tersebut bertepatan dengan peringatan 30 tahun tragedi 27 Juli 1996, peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro yang dikenal dengan sebutan Kudatuli. Bagi partai berlambang banteng, peristiwa itu adalah luka yang terus dirawat agar tidak hilang ditelan waktu. Megawati menegaskan, pendirian monumen bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pengingat bagi generasi penerus akan pentingnya menjaga demokrasi dan menolak segala bentuk kekerasan politik.
"Saya berdiri di sini ingin menebarkan suara kepada seluruh rakyat, terutama anak muda, bahwa kalian bisa menjadi seperti ini karena pengorbanan para pejuang," ujarnya dengan nada menggugah. Ia mengingatkan bahwa para pahlawan yang gugur dulunya adalah pemuda seumuran mereka yang berada di ruangan itu. Megawati bahkan melontarkan pertanyaan retoris yang menusuk: apakah mereka tak malu menikmati kemerdekaan tanpa memahami harga yang dibayar?
Kemerdekaan Dibangun dengan Darah
Megawati menggambarkan fondasi republik ini bukan sekadar batu dan semen, melainkan cairan merah para syuhada, tetesan air mata ibu yang kehilangan putranya, dan peluh yang mengucur dari medan pertempuran. Ia meminta anak muda tidak bersikap masa bodoh seolah kemerdekaan adalah takdir yang turun begitu saja. "Kalau kalian hanya mengatakan sudah merdeka ya sudah biar merdeka, maka kalian bukanlah anak muda yang patriotik," tegasnya.
Presiden kelima RI itu juga menekankan bahwa patriotisme harus terus digelorakan, bukan sekadar slogan saat upacara bendera. Menurutnya, lupa sejarah berarti kehilangan pijakan, tak tahu di mana akar identitas sebagai bangsa. Monumen Kudatuli, katanya, harus menjadi magnet yang menarik generasi muda untuk belajar dan merenung, agar perjalanan pahit menuju reformasi tidak terulang.
Pantauan di lokasi, suasana peresmian berlangsung khidmat. Sejumlah tokoh partai dan keluarga korban hadir menyaksikan pembukaan selubung monumen. Megawati berharap simbol itu tidak hanya menjadi monumen bisu, tetapi juga sumber inspirasi bagi perjuangan demokrasi yang belum usai. "Camkan! Republik ini dibangun dengan air mata, darah, dan keringat," pungkasnya.
Comments (0)