Megawati Didampingi Prananda Hadapi 30 Tahun Kudatuli
BARU SAJA — Megawati Soekarnoputri memasuki halaman DPP PDIP untuk memimpin peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli. Ia didampingi oleh Prananda Prabowo, putra sekaligus kader PDIP yang kini semakin ...
BARU SAJA — Megawati Soekarnoputri memasuki halaman DPP PDIP untuk memimpin peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli. Ia didampingi oleh Prananda Prabowo, putra sekaligus kader PDIP yang kini semakin sering tampil dalam momen-momen penting partai.
Kehadiran Megawati dan Prananda langsung menyedot perhatian ratusan undangan yang sudah memadati halaman. Bendera merah raksasa berkibar setengah tiang sejak pagi. Pengurus pusat, pimpinan sayap partai, serta puluhan pelaku sejarah dari 1996 duduk di barisan depan. Beberapa di antaranya menggunakan kursi roda, disambut tepuk tangan panjang saat disebutkan namanya.
Kembali ke Kenangan 27 Juli 1996
Peringatan ini bukan acara biasa. Kudatuli — Kerusuhan 27 Juli 1996 — tercatat sebagai salah satu luka paling dalam bagi PDI waktu itu. Kantor di Jalan Diponegoro 58 diserang secara brutal. Belasan orang dilaporkan tewas, puluhan lainnya hilang. Megawati selalu menyebutnya sebagai pengkhianatan yang harus diingat agar tidak terulang.
Saksi mata yang hadir malam ini mengulang cerita yang sama: ketakutan, pecahan kaca, dan suara bambu runcing. Namun sekarang, di lokasi yang sama, para penyintas duduk berdoa di bawah payung partai yang telah berubah total. DPP PDIP yang dulu dikepung kini menjadi simbol kemenangan politik.
Prananda dan Simbol Regenerasi
Mata banyak pengurus tertuju pada Prananda. Posisinya di sebelah Megawati sepanjang acara menegaskan peran yang makin terang — regenerasi kepemimpinan yang dijalankan dengan cara sunyi tapi pasti. Tidak ada pidato panjang dari Prananda, namun gestur kecil: menggandeng lengan Megawati di tangga, membisikkan sesuatu saat lewat di depan spanduk korban, cukup untuk menjadi bahan perbincangan di antara kader senior.
- 27 Juli 1996 – serangan ke kantor pusat PDI di Jakarta oleh massa tak dikenal.
- Belasan korban jiwa – angka resmi masih diperdebatkan, tetapi PDIP mencatat 16 orang meninggal.
- Ratusan luka-luka dan hilang – peristiwa itu memicu gelombang protes yang berujung pada kejatuhan Orde Baru dua tahun kemudian.
- Megawati & Prananda – keduanya tidak memberikan wawancara terbuka malam ini; hanya menyampaikan bahwa “perjuangan belum selesai”.
Suasana berubah hening ketika Megawati menyalakan lilin pertama. Ribuan lilin kecil kemudian dioper ke seluruh ruangan. Nyanyian “Buruh Tani dan Nelayan” menggema pelan. Tidak ada orasi menggelegar. Yang ada hanya keheningan penuh makna, dipandu langsung oleh Megawati yang tampak lebih banyak diam dan menatap ke depan.
Pesan di Titik Bersejarah
Acara ini bukan sekadar ritual tahunan. Tiga puluh tahun setelah Kudatuli, Megawati sekali lagi membuktikan bahwa sejarah tidak akan dihapus dari ingatan partainya. Dengan Prananda di sisinya, ia juga memperlihatkan bahwa api perjuangan itu sedang ditransfer ke generasi berikutnya. Seluruh acara berlangsung sekitar satu jam dan ditutup dengan pembacaan nama-nama korban — satu per satu, tanpa tergesa-gesa.
Comments (0)