London — Moses Itauma Akui Tak Kecewa Gagal Hadapi Oleksandr Usyk
Senja karier Oleksandr Usyk yang kian mendekat membawa gelombang kekecewaan tersendiri bagi banyak petinju kelas berat, tetapi tidak untuk Moses Itauma. Pe
Senja karier Oleksandr Usyk yang kian mendekat membawa gelombang kekecewaan tersendiri bagi banyak petinju kelas berat, tetapi tidak untuk Moses Itauma. Petinju muda Inggris berusia 21 tahun itu justru menunjukkan sikap lapang dada. Ia mengakui bahwa mimpinya untuk berbagi ring dengan sang maestro Ukraina hampir pasti terkubur, dan ia sama sekali tidak menyesalinya. Keputusan Usyk untuk mengosongkan seluruh sabuk juara dunia kelas berat serta rencana menjalani satu duel perpisahan telah menutup seluruh pintu yang selama ini diharapkan Itauma.
Itauma, yang dijuluki “generasi penerus” tinju kelas berat Inggris, memang sempat membidik nama besar. Dengan rekor sempurna 19-0 (17 KO), ia percaya diri bisa mencuri perhatian juara sejati seperti Usyk. Namun, realitas berkata lain. Usyk memilih mengakhiri dominasinya dengan meninggalkan gelar WBC, WBA, WBO, dan IBO, lalu hanya menyisakan satu pertarungan pamungkas yang disebut-sebut bakal melibatkan pemenang duel Daniel Dubois vs Joseph Parker. “Saya tidak merasa rugi atau marah. Justru saya bersyukur pernah melihatnya dari dekat—itu sudah seperti pelajaran gratis,” ujar Itauma, merujuk pada sesi sparring dan momen kebersamaannya dengan Usyk di beberapa kamp pelatihan.
Reaksi Dingin Sang Prodigy
Tidak semua petinju muda sebijak Moses Itauma. Ketika kabar pengosongan gelar Usyk mencuat di media, sejumlah penantang langsung melayangkan kritik dan tudingan bahwa sang juara menghindari kewajiban. Itauma justru tampil kontras. Dengan gaya bicara tenang namun penuh keyakinan, ia menekankan bahwa hormatnya kepada Usyk jauh melampaui hasrat akan duel besar.
“Saya tumbuh menonton Usyk. Dari Olimpiade sampai dia mengalahkan Anthony Joshua. Ketika saya tahu dia akan pensiun, saya bukan kecewa—saya justru senang dia bisa pergi dengan kepala tegak. Duel dengannya pasti luar biasa, tapi saya tidak butuh itu untuk membuktikan siapa saya.”
Pernyataan ini mengalir begitu saja dari mulut petinju kelahiran Slovakia yang besar di Chatham itu. Ada ketegaran yang jarang ditemui pada atlet seusianya. Ia sadar, mengejar Usyk kini hanya angan semu. Fokusnya bergeser total ke generasi baru: mematahkan dominasi para penantang top seperti Dubois, Parker, atau bahkan Agit Kabayel.
Warisan yang Ditinggalkan Usyk
Mundurnya Oleksandr Usyk dari percaturan gelar kelas berat bukan sekadar berita biasa. Ini adalah titik akhir sebuah era. Petinju kidal berjuluk “The Cat” itu menyapu bersih divisi cruiserweight dan kelas berat dalam kurun waktu kurang dari satu dekade. Statistik tidak bisa membohongi: dua kali mengalahkan Anthony Joshua, dua kali menundukkan Tyson Fury, serta menyatukan seluruh sabuk di dua kelas berbeda. Belum ada yang bisa meniru.
Bagi Itauma, menyaksikan Usyk dari bangku penonton dan sesekali dalam sesi sparing sudah cukup sebagai bekal. “Dia mengajarkan saya tentang ritme, tentang bagaimana memecahkan tembok pertahanan tanpa kekuatan mentah. Itu yang akan saya pakai terus,” tambahnya. Sebuah pengakuan jujur bahwa duel impian itu tak lagi relevan di peta kariernya.
Peta Baru Kelas Berat
Kepergian Usyk secara de facto membuka pundi-pundi emas bagi para penantang. Moses Itauma kini berada di peringkat tiga besar WBO dan masuk radar wajib penantang di beberapa badan tinju lain. Usianya yang baru 21 tahun memberinya keistimewaan waktu—suatu kemewahan yang tidak dimiliki para rival di atas 30 tahun. Tim pelatihnya, yang dipimpin oleh Frank Warren dan pelatih berpengalaman Ben Davison, mengatur langkah agar Itauma bisa menembus duel perebutan gelar dalam satu setengah tahun ke depan.
Namun, jalan itu tidak mudah. Di depannya sudah berdiri petinju-petinju dengan reputasi menakutkan. Daniel Dubois, peraih sabuk IBF, adalah pemilik pukulan penghancur. Sementara itu, Joseph Parker datang dengan pengalaman dan pertahanan baru. Jika Itauma harus membuktikan diri, maka ia harus menumbangkan nama-nama itu lebih dulu.
Tidak Ada Penyesalan, Hanya Pelajaran
Moses Itauma bukan tipe petinju yang merengek. Di tengah hingar-bingar spekulasi duel pamungkas Usyk, ia memilih menaruh rasa hormat setinggi langit. Ketidakhadirannya di daftar lawan terakhir Usyk bukanlah sebuah kekalahan, melainkan pintu menuju konsistensi. “Saya masih muda. Saya akan menulis cerita saya sendiri, dengan atau tanpa nama besar di rekor saya,” pungkasnya, seakan menegaskan bahwa rasa kecewa adalah barang mahal yang tak pantas ia beli.
Kelas berat kini memasuki babak baru. Dengan tahta yang kosong tanpa penguasa absolut, para penantang seperti Moses Itauma siap berebut mahkota. Dan di sanalah, sikap dingin serta kedewasaan seorang remaja tanggung bisa menjadi senjata paling mematikan.
Comments (0)