Lombok Diselimuti Haze, Jarak Pandang Anjlok Hingga 1 Kilometer Saat Dini Hari

LOMBOK — Langit Pulau Lombok berubah kelabu. Sejak beberapa hari terakhir, warga di berbagai titik di Nusa Tenggara Barat harus berhadapan dengan realitas

Jul 08, 2026 - 04:20
0 0
Lombok Diselimuti Haze, Jarak Pandang Anjlok Hingga 1 Kilometer Saat Dini Hari

LOMBOK — Langit Pulau Lombok berubah kelabu. Sejak beberapa hari terakhir, warga di berbagai titik di Nusa Tenggara Barat harus berhadapan dengan realitas mencekam berupa fenomena haze — kabut kering yang menyelimuti atmosfer dan memangkas jarak pandang hingga titik kritis. Pada jam-jam rawan dini hari, visibilitas dilaporkan hanya berkisar 1 kilometer, angka yang memicu kekhawatiran serius akan keselamatan transportasi dan kesehatan publik.

Liputan6.com mengonfirmasi bahwa kondisi ini bukanlah kabut biasa. Haze adalah suspensi partikel mikroskopis di udara — debu, polutan, atau asap — yang membentuk lapisan opak, menciptakan efek visual seperti kaca buram raksasa yang menutupi cakrawala. "Ini bukan kabut embun pagi yang hilang saat matahari naik. Ini lebih pekat, lebih persisten, dan aromanya berbeda — ada bau menyengat yang membuat tenggorokan gatal," ujar seorang warga Mataram kepada tim di lapangan.

Transportasi Terganggu, Nelayan Tahan Diri

Dampak paling langsung dirasakan oleh sektor transportasi. Aktivitas di Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Kayangan mengalami gangguan signifikan. Nahkoda kapal feri dan speedboat terpaksa mengurangi kecepatan operasional, menunda jadwal keberangkatan hingga kondisi membaik. Di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, otoritas bandara memberlakukan peningkatan prosedur keselamatan, meskipun hingga berita ini diturunkan belum ada pembatalan penerbangan besar-besaran.

"Jarak pandang drop drastis. Kami tidak mau ambil risiko. Lebih baik terlambat sampai daripada tidak sampai sama sekali," tegas Hamzah, seorang nahkoda kapal penyeberangan, saat ditemui di dermaga.

Nelayan tradisional menjadi kelompok paling rentan. Banyak dari mereka memilih tidak melaut — sebuah pukulan ekonomi langsung bagi komunitas pesisir yang menggantungkan hidup dari tangkapan harian.

Penyebab: Campuran Maut Polusi dan Musim Kering

Analisis awal menunjukkan bahwa haze di Lombok dipicu oleh kombinasi faktor lokal dan regional. Musim kemarau panjang membuat partikel debu vulkanik dari Gunung Rinjani serta tanah kering mudah terangkat ke atmosfer. Ditambah lagi, angin muson timur membawa serta polutan lintas batas dari wilayah timur Indonesia dan bahkan dari Australia bagian utara yang juga mengalami musim kebakaran lahan.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup NTB menunjukkan lonjakan indeks PM2.5 dalam tiga hari terakhir, menempatkan kualitas udara di beberapa zona dalam kategori "tidak sehat bagi kelompok sensitif." Anak-anak, lansia, dan penderita asma menjadi populasi yang paling terancam.

Warga Diimbau Masker, Puskesmas Siaga

Pemerintah daerah bergerak cepat. Dinas Kesehatan NTB telah mendistribusikan masker N95 ke puskesmas-puskesmas di wilayah terdampak terparah. Posko kesehatan darurat didirikan di Mataram, Praya, dan Selong — tiga titik dengan konsentrasi partikel debu tertinggi.

"Kami mencatat ada kenaikan 15 persen kasus ISPA dalam sepekan terakhir. Ini angka yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat harus waspada, kurangi aktivitas outdoor, dan selalu pakai masker," imbau Dr. Lalu Hamzi, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes NTB.

Masyarakat lokal merespons dengan adaptasi cepat. Pasar tradisional yang biasanya ramai sejak subuh kini lebih sepi. Sekolah-sekolah di Kecamatan Bayan dan Sembalun mulai menerapkan kebijakan belajar di dalam kelas penuh tanpa aktivitas lapangan. "Anak saya sudah dua hari batuk. Terpaksa saya liburkan dulu sekolahnya," keluh seorang ibu di Lombok Utara.

Prakiraan: Haze Berpotensi Memburuk Sebelum Membaik

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lombok Barat memperkirakan bahwa fenomena ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. Pola angin stagnan dan absennya hujan dalam prakiraan 10 hari ke depan menciptakan skenario terburuk: haze bisa semakin pekat dan meluas ke seluruh pulau. Potensi hujan buatan mulai dibahas, namun realisasinya masih menunggu ketersediaan awan yang memadai — sebuah ironi di tengah langit yang justru dipenuhi debu, bukan uap air.

Ini adalah wake-up call. Fenomena haze di Lombok bukan sekadar anomali cuaca, melainkan sinyal bahaya dari krisis lingkungan yang lebih luas. Dari debu vulkanik, kebakaran lahan, hingga polusi kendaraan — semuanya berpadu menciptakan dinding kelabu yang kini menjadi pemandangan pagi warga pulau wisata ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User