Kuwait dan Oman Kompak Kutuk Serangan Iran di Selat Hormuz

Kuwait dan Oman secara tegas mengutuk serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz serta sejumlah negara Teluk pada Minggu (12/7). Aksi

Jul 12, 2026 - 19:11
0 0

Kuwait dan Oman secara tegas mengutuk serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz serta sejumlah negara Teluk pada Minggu (12/7). Aksi militer yang terjadi di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia itu langsung memicu gelombang kecaman internasional dan mendorong lonjakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Kronologi Serangan: Rudal dan Drone di Perairan Strategis

Menurut laporan awal dari pusat operasi maritim gabungan, serangan dimulai sekitar pukul 09.30 waktu setempat ketika sejumlah kapal komersial berbendera Panama, Liberia, dan Malta tiba-tiba menjadi sasaran tembakan rudal dari arah pantai Iran. Sebuah kapal tanker pengangkut minyak mentah dilaporkan terkena dua proyektil yang menyebabkan kebakaran di dek utama. Tidak hanya kapal, drone tempur juga menyasar area pelabuhan di Fujairah, Uni Emirat Arab, dan pelabuhan industri Ras Laffan di Qatar menewaskan 4 orang dan melukai belasan lainnya. Kedua negara Teluk itu sebelumnya tidak terlibat langsung dalam konfrontasi dengan Iran, sehingga serangan ini dianggap sebagai eskalasi yang tidak terduga.

“Ini bukan sekadar insiden, melainkan serangan terencana yang mengancam keselamatan navigasi dan stabilitas kawasan,” ujar seorang pejabat otoritas pelabuhan Fujairah yang enggan disebut namanya.

Kuwait: Pelanggaran Nyata Hukum Internasional

Kementerian Luar Negeri Kuwait dalam pernyataan resminya menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran serius terhadap norma dan hukum internasional” serta ancaman langsung terhadap keamanan negara-negara Teluk. Kuwait menekankan bahwa kebebasan berlayar di Selat Hormuz dijamin oleh konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan serangan sepihak semacam ini tidak bisa ditoleransi. Pemerintah Kuwait juga telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk menggelar sidang darurat guna membahas respons kolektif.

“Kami mendesak masyarakat internasional untuk bertindak cepat. Eskalasi ini tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi konflik berskala penuh,” tegas Menteri Luar Negeri Kuwait dalam konferensi pers di Kuwait City.

Oman: Ancaman terhadap Perdamaian yang Telah Dibangun

Oman, yang selama ini dikenal sebagai mediator netral di kawasan, juga mengeluarkan kecaman keras. Dalam pernyataan yang dibacakan oleh Kementerian Luar Negeri Oman di Muscat, serangan itu dianggap sebagai “pukulan telak bagi upaya perdamaian yang telah dibangun bertahun-tahun”. Oman menyatakan bahwa tindakan Iran tidak hanya merusak infrastruktur vital tetapi juga mengoyak harapan dialog yang telah susah payah dirintis. Meskipun Oman tidak menyebut sanksi atau langkah militer balasan, negara itu menegaskan dukungannya terhadap mekanisme penyelesaian sengketa melalui negosiasi—selama pihak penyerang menghentikan agresi.

Reaksi Internasional dan Gejolak Ekonomi

Kecaman juga mengalir deras di luar kawasan. Amerika Serikat melalui Pentagon menyatakan tengah mengirimkan kapal induk tambahan ke Teluk Oman sebagai bentuk deterrence. Inggris dan Prancis menyusul dengan pernyataan solidaritas terhadap negara-negara Teluk. Di sisi lain, pasar keuangan global langsung bereaksi negatif. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak 5,2% hanya dalam satu jam pasca-serangan, mencapai $98,7 per barel, level tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Indeks saham utama di Eropa dan Asia juga terkoreksi tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Analis memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz—yang dilalui lebih dari 20% pasokan minyak dunia atau sekitar 17 juta barel per hari—terus tidak aman, rantai pasok global bisa terputus.

Sikap Iran dan Klaim Pertahanan Diri

Sementara itu, Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya membantah bahwa sasaran serangan adalah kapal sipil atau infrastruktur negara Teluk. Tehran mengklaim bahwa operasi tersebut merupakan “tindakan defensif terhadap provokasi dan kehadiran ilegal kapal perang asing” yang dianggap membahayakan kedaulatan Iran. Namun, citra satelit dan kesaksian para pelaut yang selamat menunjukkan bahwa rudal menghantam kapal niaga yang tidak bersenjata, bertentangan dengan klaim Iran. Kontradiksi ini memicu spekulasi bahwa serangan dilakukan oleh faksi garis keras di Iran tanpa koordinasi penuh dengan pemerintah pusat.

Prospek Keamanan dan Tantangan bagi Diplomasi

Pengamat hubungan internasional menilai eskalasi ini sebagai ujian terberat bagi arsitektur keamanan Teluk sejak krisis 2019. Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dijadwalkan mengadakan rapat luar biasa dalam 48 jam ke depan untuk merumuskan sikap bersama. Sementara itu, Kuwait dan Oman—dua negara yang sering menjadi jembatan dialog—kini harus menyeimbangkan kecaman keras dengan peluang menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.

“Ini adalah momen krusial. Jika GCC tidak menunjukkan soliditas, kita mungkin menyaksikan pergeseran kekuatan yang lebih berbahaya,” ujar Dr. Fatima Al-Mansouri, analis Timur Tengah dari Emirates Policy Center.

Ke depan, keamanan di Selat Hormuz diperkirakan akan semakin bergantung pada kehadiran militer multinasional dan penerapan protokol pelayaran ketat. Asuransi kapal pun telah naik hingga 300% untuk rute yang melewati perairan tersebut. Sementara dunia menanti langkah diplomasi selanjutnya, warga pesisir Teluk hanya bisa berharap bahwa perang tidak kembali menghancurkan kehidupan mereka.

[SOCIAL_TWEET]: Kuwait dan Oman kompak mengutuk serangan militer Iran di Selat Hormuz yang menewaskan 4 orang dan mengerek harga minyak 5,2%. Eskalasi ini mengancam stabilitas kawasan dan pasokan energi global. #SelatHormuz #Iran #Kuwait #Oman[SOCIAL_TG]: 🚨 Kuwait & Oman kecam keras serangan Iran di Selat Hormuz! Harga minyak melonjak, 4 tewas, PBB didesak sidang darurat. Apa langkah selanjutnya? 👉 Baca di sini

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User