Sutedjo Purna Tugas Setelah Dua Periode Memimpin Kulon Progo

<h2>Sutedjo Purna Tugas Setelah Dua Periode Memimpin Kulon Progo</h2> <p><strong>Sutedjo</strong> adalah Bupati Kulon Progo yang menjabat selama dua periode penuh, yakni dari tahun 2011 hingga 2022. Ia pertama kali dilantik pada 22 Mei 2011 bersama W

Jul 11, 2026 - 06:11
Updated: 3 days ago
0 0

Sutedjo Purna Tugas Setelah Dua Periode Memimpin Kulon Progo

Sutedjo adalah Bupati Kulon Progo yang menjabat selama dua periode penuh, yakni dari tahun 2011 hingga 2022. Ia pertama kali dilantik pada 22 Mei 2011 bersama Wakil Bupati Drs. H. Sutedjo, dan kemudian terpilih kembali untuk periode kedua pada 22 Mei 2017. Sebelum menjadi bupati, Sutedjo dikenal sebagai birokrat karir di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Profil dan Latar Belakang

Sutedjo lahir dan dibesarkan di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Latar belakang pendidikannya linear dengan karirnya sebagai abdi negara; ia menyelesaikan studi di bidang pemerintahan sebelum memulai karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selama puluhan tahun, ia meniti karir dari eselon rendah hingga menduduki jabatan strategis seperti Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), serta Sekretaris Daerah Kabupaten Kulon Progo. Secara politik, Sutedjo bukanlah kader partai murni yang menonjol, melainkan figur birokrat yang diusung oleh koalisi besar, termasuk PDI Perjuangan, dalam kontestasi Pilkada. Rekam jejaknya sebagai Sekda menjadi modal utama yang membuatnya dipercaya memimpin "Tanah Para Menak" ini.

Program Unggulan dan Kinerja

Selama satu dekade kepemimpinannya, Sutedjo konsisten menjalankan program-program yang berorientasi pada pembangunan infrastruktur pedesaan, pengentasan kemiskinan, dan pengelolaan lingkungan. Salah satu inovasi kebijakan yang paling dikenal adalah gerakan "Idul Adha tanpa Sampah" serta program "Kulon Progo Bebas Sampah 2025". Sutedjo mewajibkan penggunaan wadah ramah lingkungan seperti besek (anyaman bambu) untuk pembagian daging kurban. Secara sistemik, ia membangun infrastruktur pengelolaan sampah yang diakui secara nasional. Melalui optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) seperti TPST Tawangrejo, TPST Wates, dan berbagai Bank Sampah di tingkat desa, volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banyuroto berhasil ditekan secara signifikan. Data menunjukkan penurunan volume sampah hingga lebih dari 40 persen selama periode keduanya, menjadikan Kulon Progo sebagai percontohan nasional dalam pengelolaan sampah mandiri.

Selain itu, Sutedjo sangat fokus pada pembangunan infrastruktur dasar. Program Jalan Tani dan Jembatan Desa (JITUT/JIDES) menjadi andalan untuk membuka keterisolasian wilayah perbukitan Menoreh. Data dari Dinas Pekerjaan Umum mencatat, di era Sutedjo, panjang jalan desa yang dibangun dan diperbaiki mencapai ratusan kilometer. Hal ini berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan di Kulon Progo. Di awal masa jabatan pertamanya, angka kemiskinan mencapai kisaran 22 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2021, menjelang akhir masa jabatannya, angka kemiskinan berhasil ditekan hingga menyentuh 15,80 persen. Sutedjo juga menggenjot Program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang mencapai ribuan unit per tahun melalui skema gotong royong melibatkan TNI, swasta, dan APBD. Di sektor kesehatan, ia meluncurkan program "Kulon Progo Sehat" yang memastikan akses Universal Health Coverage (UHC) melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencapai cakupan semesta.

Kontroversi dan Tantangan

Kepemimpinan Sutedjo tidak terlepas dari kontroversi, terutama terkait mega proyek strategis nasional. Meskipun proyek Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport/YIA) di Kecamatan Temon adalah instruksi pusat, Sutedjo sempat menuai kritik tajam, terutama dari warga terdampak yang tergabung dalam aliansi petani penolak bandara (Wahana Tri Tunggal). Warga korban penggusuran menilai Pemerintah Kabupaten di bawah Sutedjo kurang maksimal dalam mengadvokasi hak-hak mereka, khususnya terkait nilai ganti rugi lahan dan proses relokasi yang dinilai terburu-buru. Sutedjo sering kali berada dalam posisi dilematis antara menjalankan Perpres tentang Bandara dan melindungi warganya. Tantangan lainnya adalah ketimpangan pembangunan antara wilayah selatan (pantai) dan utara (pegunungan). Meski Bandara YIA mendongkrak ekonomi di wilayah Temon dan Wates, daerah utara seperti Samigaluh masih berjuang melawan kemiskinan struktural dan keterbatasan air bersih, yang hingga akhir masa jabatannya masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Penilaian dan Prospek

Secara objektif, Sutedjo adalah tipikal pemimpin birokratis-modern yang menjalankan pemerintahan dengan pendekatan teknokratis, minim pencitraan politik. Ia berhasil menjaga stabilitas politik lokal dan mendorong reformasi birokrasi yang terukur. Keberhasilannya dalam pengelolaan sampah dan pembangunan infrastruktur desa merupakan warisan konkret yang meninggikan reputasi Kulon Progo di level nasional. Namun, ia meninggalkan PR besar berupa penanganan dampak sosial YIA dan pemerataan kesejahteraan di kawasan utara. Pasca purna tugas pada 2022, Sutedjo memutuskan untuk tidak kembali terjun ke politik praktis dan lebih memilih menjadi tokoh masyarakat. Penerusnya, Bupati Ni Made Dwipanti Indrayanti dan Wabup Fajar Gegana, mewarisi fondasi birokrasi yang ia bangun, namun harus menghadapi gelombang baru berupa kebangkitan pariwisata pasca-pandemi dan keseimbangan antara investasi besar dengan keberlanjutan lingkungan di Kulon Progo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User