Sep 17, 2026
Jawa Timur

KPK Usut Skandal Jual Beli Jabatan Pemkab Pemalang

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan pendalaman secara intensif terkait kasus dugaan pemerasan dan suap jual beli jabatan yang menyeret Bupat

KPK Usut Skandal Jual Beli Jabatan Pemkab Pemalang

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan pendalaman secara intensif terkait kasus dugaan pemerasan dan suap jual beli jabatan yang menyeret Bupati Pemalang nonaktif. Tim penyidik lembaga antirasuah tersebut kini secara khusus membongkar praktik culas dalam proses mutasi, rotasi, hingga promosi jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang, Jawa Tengah.

Penyidikan ini menyasar sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) serta pejabat tinggi pratama yang diduga turut memberikan sejumlah uang pelicin demi mengamankan posisi strategis. KPK meyakini adanya instruksi sistematis dari sang bupati nonaktif untuk menarik upeti dari para pegawai negeri yang menginginkan kenaikan karir atau mempertahankan jabatan mereka.

Kronologi Pengungkapan Praktik Suap Mutasi Jabatan

Berdasarkan keterbukaan informasi penyidikan, tim KPK berhasil memetakan alur serta modus operandi yang digunakan dalam transaksi perkara suap birokrasi ini. Berikut adalah urutan kejadian serta tahapan penanganan perkara oleh tim penyidik antirasuah:

  1. Penyelenggaraan Seleksi Jabatan: Pemkab Pemalang membuka proses seleksi terbuka untuk posisi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama serta penataan ulang jajaran pejabat Eselon III dan IV.
  2. Penarikan Uang Komitmen: Bupati nonaktif diduga menetapkan tarif nominal tertentu kepada para calon pejabat yang ingin diloloskan. Tarif tersebut bervariasi mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah tergantung tingkat strategis posisi.
  3. Pengumpulan Uang Melalui Orang Kepercayaan: Penyerahan uang tidak dilakukan secara langsung oleh bupati, melainkan melalui beberapa kolega dekat dan pejabat perantara yang ditunjuk khusus untuk menampung dana suap.
  4. Operasi Tangkap Tangan dan Penggeledahan: Penyidik KPK melakukan tindakan hukum berupa operasi tangkap tangan (OTT) yang dilanjutkan dengan penggeledahan di berbagai kantor dinas untuk menyita dokumen mutasi serta bukti elektronik.
  5. Pemeriksaan Saksi Berkelanjutan: Puluhan ASN, pihak swasta, hingga pejabat eselon dipanggil secara bergantian di Gedung Merah Putih KPK guna mendalami aliran uang hasil pemerasan tersebut.

Temuan Penyidik dan Modus Operandi Uang Pelicin

Dalam proses penyidikan terbaru, tim KPK mendapati bahwa uang hasil penarikan mutasi tersebut diduga tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka utama, tetapi juga disalurkan ke sejumlah kegiatan operasional internal yang tidak sah. Penyidik juga terus melacak keberadaan aset hasil tindak pidana korupsi ini demi mengoptimalkan pemulihan kerugian negara (asset recovery).

"Penyidik terus mendalami keterangan para saksi terkait adanya dugaan patokan harga atau tarif untuk setiap posisi jabatan di Pemkab Pemalang. Kami menegaskan tidak ada toleransi bagi praktik jual beli jabatan dalam birokrasi," tegas juru bicara penindakan KPK saat memberikan keterangan resmi kepada wartawan.

Penyidik KPK menemukan indikasi kuat bahwa besaran uang suap disesuaikan dengan tingkat basah atau strategisnya instansi yang diincar. Beberapa instansi yang kini menjadi fokus penyelidikan mendalam meliputi:

  • Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR): Diduga menjadi salah satu instansi dengan tarif komitmen perubahan dan pengamanan jabatan tertinggi.
  • Dinas Pendidikan dan Kebudayaan: Penyidik mengusut dugaan potong komitmen dan suap posisi di tingkat jajaran dinas hingga kepala sekolah.
  • Badan Kepegawaian Daerah (BKD): Diperiksa intensif untuk mengetahui sejauh mana manipulasi sistem administrasi kepegawaian dan proses seleksi formal dilakukan.
  • Dinas Kesehatan: Turut didalami terkait dugaan aliran dana dari promosi jabatan para tenaga medis serta pejabat struktural rumah sakit daerah.

Langkah KPK dan Komitmen Pembersihan Birokrasi

KPK menegaskan bahwa pembenahan tata kelola pemerintahan daerah merupakan salah satu prioritas utama dalam aksi pencegahan dan penindakan korupsi. Praktik jual beli jabatan dinilai sangat merusak integritas birokrasi dan merugikan masyarakat luas karena menghasilkan pejabat yang tidak kompeten di bidangnya.

Hingga saat ini, penyidik masih membuka peluang penetapan tersangka baru jika ditemukan bukti permulaan yang cukup dari hasil pemeriksaan saksi-saksi mendatang. Publik diharapkan terus mengawal jalannya proses hukum ini agar birokrasi pemerintahan daerah bersih dari praktik koruptif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User