Suasana pagi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, belakangan ini diselimuti kabut tebal beraroma sangit yang menyengat. Asap pekat hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membendung sinar matahari, memaksa anak-anak sekolah menembus udara tidak sehat demi mengenyam pendidikan. Di tengah dilema antara menjaga keselamatan kesehatan dan hak mendapat pendidikan tatap muka, lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa mengambil langkah proaktif dengan meluncurkan program Safe School (Sekolah Aman Asap) untuk meminimalisasi dampak buruk polusi udara bagi para siswa.
Ancaman Kabut Asap dan Dilema Kegiatan Belajar
Dampak bencana karhutla di wilayah Kotawaringin Timur telah mencapai tingkatan yang mengkhawatirkan. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di daerah tersebut berkali-kali menunjukkan status TIDAK SEHAT hingga BERBAHAYA. Kendati demikian, dinas setempat masih memberlakukan kegiatan belajar-mengajar (KBM) secara tatap muka dengan penyesuaian jam masuk sekolah agar kurikulum pembelajaran tidak terbengkalai.
Kondisi ini menempatkan ribuan anak-anak pada risiko tinggi terpapar penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). "Anak-anak adalah kelompok rentan yang paling dirugikan. Menghirup zat beracun dari asap pembakaran setiap hari tanpa perlindungan memadai dapat memicu kerusakan jangka panjang pada organ pernapasan mereka," ungkap seorang relawan medis di lokasi bencana.
Inovasi Intervensi Melalui Program Safe School
Menanggapi krisis lingkungan tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menghadirkan konsep Safe School sebagai benteng pertahanan terakhir bagi sekolah-sekolah yang terdampak langsung oleh kabut asap. Program ini merenovasi dan memodifikasi ruang kelas secara cepat agar menjadi ruangan isolasi yang bebas dari paparan polusi asap karhutla.
Langkah-langkah teknis yang diterapkan meliputi penyegelan celah ventilasi menggunakan dacron atau kain kasa basah, pemasangan penyaring udara mandiri (air purifier) berbasis filtrasi HEPA, serta pembagian masker standar medis secara gratis kepada seluruh murid dan tenaga pendidik.
Berikut adalah matriks perbandingan kondisi lingkungan belajar sebelum dan sesudah diintervensi oleh program Safe School:
| Kategori Intervensi | Kondisi Kelas Standar | Kondisi Kelas Safe School |
|---|---|---|
| Kualitas Udara Ruangan | Tercemar asap karhutla (PM2.5 tinggi) | Tersaring ketat (Kualitas udara bersih) |
| Ventilasi Udara | Terbuka, celah angin tidak terlindungi | Dilengkapi kain dacron & filter HEPA |
| Proteksi Siswa | Masker kain seadanya | Masker medis/N95 & Pos Kesehatan khusus |
Komitmen Respon Cepat dan Perlindungan Anak
Selain melakukan modifikasi fisik pada ruang kelas, Dompet Dhuafa juga menyiagakan pos kesehatan darurat di area sekolah. Para relawan membagikan paket nutrisi penunjang imun berupa suplemen vitamin, madu, dan susu cair untuk memperkuat daya tahan tubuh anak-anak dari ancaman radikal bebas akibat asap.
"Kami tidak bisa tinggal diam melihat proses pendidikan anak-anak berlangsung di bawah ancaman racun kabut asap. Melalui Safe School, kami ingin memastikan bahwa ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan steril bagi mereka untuk menuntut ilmu," tegas perwakilan DMC Dompet Dhuafa.
Langkah nyata ini mendapat respon positif dari pihak sekolah dan para orang tua murid yang sebelumnya dirundung kecemasan mendalam. Inisiatif Safe School diharapkan tidak hanya berhenti di Kotawaringin Timur, namun dapat direplikasi oleh pemerintah daerah lain sebagai prototipe standar mitigasi bencana asap di sektor pendidikan Indonesia.
Comments (0)