Kota terbesar di Scotland itu dulu terkenal dengan sapaannya yang hangat. Di mana-mana, slogan resmi "People Make Glasgow" menghiasi kaos, dinding gedung, halte bus, hingga cangkir kopi. Namun bagi Sanghmitra Singh, pengacara hak asasi manusia asal India yang menetap di Glasgow sejak 2018, makna slogan itu kini terasa seperti kenangan yang perlahan memudar.
Dalam artikel opini yang ditulisnya bersama proyek Pass the Mic — sebuah inisiatif yang mengangkat suara perempuan kulit berwarna — Singh menceritakan transformasi pribadi yang menyayat: dari merasakan disambut, menjadi merasa terus-menerus diperiksa mata publik. "Kota yang dulu dipenuhi orang asing yang baik hati ini semakin menyaksikan kerusuhan rasis," tulisnya.
Sambutan Hangat yang Pernah Terasa Nyata
Saat pertama kali pindah dari India ke Scotland pada 2018, Singh mengaku langsung disambut oleh orang-orang tak dikenal yang ramah dan tetangga yang suka menolong. Rasa penasaran warga lokal hadir tanpa terasa menyusup, antrean dijaga dengan hormat, dan ia sering dibilang "cocok tinggal di sini".
"Orang-orang menunjukkan rasa ingin tahu, bukan sikap mengintip. Musik, seni, dan acara budaya menjadi ruang inklusif — tempat keraguan, kreativitas, dan inklusi dirayakan."
Bagi seorang pendatang, apalagi seorang perempuan, pengalaman itu ia sebut sebagai kemewahan langka: bisa jadi diri sendiri, berjalan sendirian di malam hari, dan merasakan ikatan komunitas. "Itu mengubah hidup saya," ungkapnya dalam tulisan tersebut.
Pascapandemi, Suasana Berubah
Namun Singh mencatat titik balik yang nyata setelah pandemi Covid-19, resesi global, dan bertahun-tahun penghematan anggaran (austerity). Menurutnya, kombinasi tekanan ekonomi itu melahirkan suasana sosial yang lebih dingin dan curiga terhadap pendatang.
| Aspek | Glasgow 2018 | Glasgow Kini |
|---|---|---|
| Sambutan warga | Ramah, penuh rasa ingin tahu | Curiga, penuh sorotan mata |
| Ruang budaya | Inklusif dan terbuka | Terasa lebih selektif |
| Rasa aman personal | Tinggi, termasuk malam hari | Merosot, ada perasaan diawasi |
"Saya menyaksikan kebangkitan kelompok sayap kanan jauh dan kekerasan fringe yang stabil, dan saya merasakan sorotan khusus tertuju kepada saya," tulis Singh, menggambarkan perubahan yang menurutnya tidak bisa lagi diabaikan.
Kekerasan Sayap Kanan Jauh Meningkat
Kekhawatiran Singh selaras dengan tren yang banyak dilaporkan media Inggris belakangan ini: meningkatnya insiden bernuansa rasis dan aktivitas kelompok ekstremis di sejumlah kota Britania Raya, termasuk di Scotland. Meski slogan "People make Glasgow" tetap berkibar, ia merasa praktik keseharian di jalanan belum sepenuhnya mencerminkan semboyan tersebut.
- 2018: Singh tiba di Glasgow dan langsung merasakan keterbukaan warga.
- Pasca-Covid: Perubahan atmosfer sosial mulai terasa signifikan.
- Kini: Ia merasa diperlakukan dengan cara yang berbeda saat berada di ruang publik.
Sebagai penulis dan pengacara HAM, Singh menilai persoalan ini bukan sekadar soal kesopanan individu, melainkan cerminan politik dan ekonomi yang lebih luas — dari krisis biaya hidup hingga wacana anti-imigrasi yang semakin mengakar di ranah publik.
Harapan agar Keramahan Lama Kembali
Di bagian akhir tulisannya, Singh tidak menutup pintu harapan. Ia ingin Glasgow menemukan jalan kembali ke karakter lamanya yang terkenal bersahabat.
"Saya berharap kota ini bisa menemukan jalan kembali ke keramahannya yang dulu."
Artikel Singh diterbitkan sebagai bagian kemitraan dengan Pass the Mic, platform yang berupaya memperkuat keahlian dan suara perempuan kulit berwarna di ruang media Britania. Baginya, kisah Glasgow adalah pengingat bahwa slogan keramahan sebuah kota hanya bermakna bila warganya menjaganya setiap hari.
[SOCIAL_TWEET]: Dulu disambut ramah, kini merasa diawasi. Kisah pengacara India Sanghmitra Singh tentang Glasgow yang berubah pascapandemi. #Glasgow #Rasisme #Imigran[SOCIAL_TG]: 📰 Glasgow Dulu Ramah, Kini Pendatang Merasa Diawasi — Kisah pengacara India yang merasakan perubahan suasana sosial pascapandemi. Selengkapnya di Beritatercepat.com.
Comments (0)