Kepala BGN Sudaryono Umumkan Strategi Baru Perangi Stunting Nasional
BREAKING — Pernyataan Resmi Menit LaluJAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono baru saja mengeluarkan pernyataan tegas terkait arah baru penanganan stunting dan malnutrisi di Indonesia...
BREAKING — Pernyataan Resmi Menit Lalu
JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono baru saja mengeluarkan pernyataan tegas terkait arah baru penanganan stunting dan malnutrisi di Indonesia. Dalam konferensi pers yang digelar mendadak pagi ini, ia memaparkan peta jalan agresif yang akan dijalankan BGN sepanjang 2025-2026.
"Kami tidak bisa lagi bergerak dengan kecepatan biasa. Situasi ini darurat," ujar Sudaryono dengan nada serius di hadapan awak media. Pernyataan ini menandai babak baru kepemimpinan BGN yang sebelumnya dinilai bergerak lambat oleh sejumlah pengamat kebijakan publik.
Fokus Utama: Intervensi 1.000 Hari Pertama
Sudaryono menegaskan, seluruh sumber daya BGN kini dikerahkan untuk mengamankan periode emas tumbuh kembang anak. Program intervensi gizi akan menyasar ibu hamil, bayi di bawah dua tahun, dan balita di 514 kabupaten/kota secara bertahap.
- Target 2025: 10 juta penerima manfaat di 200 kabupaten prioritas
- Anggaran tambahan: Rp4,2 triliun sudah disetujui DPR minggu lalu
- Tenaga gizi: 15.000 kader baru akan direkrut dan dilatih dalam 3 bulan
- Kolaborasi: MoU dengan Kemenkes, Kemendikbud, dan 8 pemda besar diteken hari ini
Salah satu terobosan yang diungkap adalah sistem pemantauan digital real-time. Setiap anak penerima program akan tercatat dalam dashboard nasional yang memungkinkan deteksi dini kasus gizi buruk. "Kami ingin tahu dalam 24 jam jika ada anak yang berat badannya turun drastis di pelosok mana pun," tegasnya.
Dapur Gizi Masuk Desa
Komponen paling ambisius dari strategi ini adalah pembangunan "Dapur Gizi Desa" — fasilitas pengolahan pangan bergizi berbasis komunitas. Setiap dapur akan dikelola oleh ibu-ibu setempat dengan supervisi ahli gizi BGN.
Sudaryono merinci, 500 dapur percontohan sudah beroperasi di Jawa Tengah, NTT, dan Papua Selatan sejak tiga bulan terakhir. Hasil awal menunjukkan penurunan angka wasting hingga 12 persen di desa-desa proyek percontohan.
"Ini bukan program top-down. Masyarakat yang masak, masyarakat yang antar ke rumah-rumah. Kami hanya supply bahan bakunya dan pastikan standar gizinya," jelas mantan asisten pribadi Prabowo Subianto tersebut.
Transparansi dan Akuntabilitas
Menjawab pertanyaan wartawan soal potensi kebocoran, Sudaryono menegaskan bahwa seluruh pengadaan bahan pangan akan menggunakan sistem e-katalog yang terhubung langsung ke dashboard publik. Masyarakat bisa mengakses data harga, volume, dan distribusi secara terbuka.
"Tidak ada lagi tender tertutup. Saya sudah instruksikan semua pejabat BGN: begitu ada indikasi permainan harga, langsung pecat. Tidak ada ampun," katanya dengan nada tinggi.
Konferensi pers ini dilakukan menyusul laporan BPK yang menemukan sejumlah kelemahan dalam tata kelola program gizi nasional tahun sebelumnya. Sudaryono mengklaim seluruh rekomendasi BPK sudah ditindaklanjuti dalam waktu 60 hari sejak laporan diterbitkan.
Respons Cepat di Lapangan
Sementara itu, tim reaksi cepat BGN dikonfirmasi sudah diterjunkan ke Kabupaten Asmat, Mimika, dan Pegunungan Bintang yang masih mencatat angka stunting di atas 40 persen. Evakuasi medis untuk 37 balita dengan gizi buruk akut dilakukan dalam 72 jam terakhir.
Sudaryono menutup pernyataan dengan optimisme terukur: "Kalau kita konsisten dan semua pihak bergerak bersama, Indonesia bisa turunkan stunting ke bawah 14 persen pada 2026. Itu target realistis, bukan mimpi."
Comments (0)