Kebayoran Lama Selatan Miliki 56 Fasilitas Olah Sampah Organik
BANGKAPOS.COM, JAKARTA — Kelurahan Kebayoran Lama Selatan mencatat tonggak baru dalam pengelolaan lingkungan dengan beroperasinya 56 fasilitas pengolahan sampah organik di wilayahnya. Jumlah tersebu...
BANGKAPOS.COM, JAKARTA — Kelurahan Kebayoran Lama Selatan mencatat tonggak baru dalam pengelolaan lingkungan dengan beroperasinya 56 fasilitas pengolahan sampah organik di wilayahnya. Jumlah tersebut menjadikan kelurahan di Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini sebagai salah satu kawasan dengan kesadaran pengelolaan sampah mandiri tertinggi di Ibu Kota.
Fasilitas yang dimaksud meliputi unit komposter rumah tangga, rumah maggot (larva lalat tentara hitam), lubang biopori, serta bank sampah yang tersebar di 8 RW. Data Kelurahan menyebutkan, dari total 56 titik tersebut, mayoritas telah beroperasi penuh dan mampu mereduksi timbunan sampah organik warga secara signifikan.
Dua Ton Sampah Terselamatkan per Hari
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari petugas kewilayahan, seluruh fasilitas itu rata-rata mengolah dua ton sampah organik per hari. Sampah tersebut berasal dari 4.500 kepala keluarga yang sudah rutin memilah sampah sejak dari rumah.
“Ini adalah lompatan besar. Dari semula warga hanya mengandalkan truk pengangkut, kini mereka mampu mengolah sisa dapur dan dedaunan menjadi kompos atau pakan maggot,” ujar seorang pengelola bank sampah di RT 05, Selasa (27/5/2025).
Kehadiran rumah maggot menjadi andalan karena larva BSF mampu melahap sampah organik dalam jumlah besar. Selain mengurangi volume sampah, maggot yang dipanen dijual sebagai pakan ternak, menambah pendapatan warga hingga Rp1,5 juta per bulan per unit.
Dari Beban Jadi Berkah
Sebelum inisiatif ini berjalan, Kebayoran Lama Selatan harus membuang hampir 15 ton sampah campur ke TPST Bantargebang setiap hari. Kini, berkat 56 fasilitas organik, volume buangan harian turun sekitar 13 persen. Angka tersebut membantu mengurangi beban truk sampah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Lurah Kebayoran Lama Selatan Yudi Hermawan mengapresiasi peran aktif RT/RW dan kader lingkungan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Tanpa kesadaran warga memilah dan mengolah sampah mandiri, mustahil mencapai angka 56 fasilitas ini,” katanya.
Pemerintah Kelurahan juga menggandeng startup lingkungan untuk mendampingi warga. Salah satunya dengan aplikasi pencatat setoran sampah yang bisa ditukar saldo atau sembako.
Dorong Target Zero Waste Jakarta
Keberhasilan Kebayoran Lama Selatan selaras dengan target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengurangi sampah di sumber sebesar 30 persen pada tahun 2026. Wakil Camat Kebayoran Lama menuturkan, wilayahnya akan dijadikan percontohan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
“Kami dorong agar seluruh kelurahan di Kecamatan Kebayoran Lama bisa meniru pola ini. Ke depan, bukan tidak mungkin setiap RT punya minimal satu rumah maggot dan komposter komunal,” jelasnya.
Dalam sebulan terakhir, dua kelurahan tetangga yaitu Grogol Utara dan Cipulir mulai mengadopsi sistem yang sama. Mereka mengirim kader untuk magang di unit-unit pengolahan Kebayoran Lama Selatan.
Dengan 56 fasilitas yang sudah berjalan, Kebayoran Lama Selatan membuktikan bahwa sampah organik bukan sekadar masalah, namun peluang ekonomi yang memberdayakan lingkungan sekaligus masyarakat.
Baca juga:
Comments (0)