Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Kala Kemarau
LEBAK, Banten — Kemarau panjang yang melanda wilayah Lebak membongkar pemandangan yang selama ini tersembunyi di dasar Bendungan Karian. Reruntuhan bangunan tua, jalan desa, dan sisa-sisa permukiman...
LEBAK, Banten — Kemarau panjang yang melanda wilayah Lebak membongkar pemandangan yang selama ini tersembunyi di dasar Bendungan Karian. Reruntuhan bangunan tua, jalan desa, dan sisa-sisa permukiman penduduk muncul ke permukaan. Fenomena ini seketika menjadi pusat perhatian warga sekitar yang penasaran.
Menurut pantauan di lokasi pada Kamis (24/7), area seluas kurang lebih dua hektare itu menampakkan fondasi-fondasi rumah yang dulu berdiri kokoh. Beberapa sumur tua, bekas bak mandi umum, dan pecahan genting juga terlihat jelas di antara lumpur yang mengering. Debit air Bendungan Karian dilaporkan menyusut hingga 40 persen di bawah normal akibat minimnya curah hujan selama tiga bulan terakhir.
Kronologi Kemunculan Kampung
- Juni 2026: Permukaan air mulai surut signifikan.
- Pertengahan Juli: Puing pertama terlihat, warga mulai berdatangan.
- 24 Juli 2026: Area kampung terlihat seluas dua hektare, puncak kemarau.
Kampung yang Dikorbankan
Kampung yang muncul ini diyakini sebagai Dusun Cikaret, salah satu permukiman yang direlokasi saat proyek Bendungan Karian dimulai pada awal tahun 2000-an. Ratusan kepala keluarga kala itu dipindahkan ke daerah penyangga yang telah disiapkan pemerintah. Kini, tiga dekade kemudian, kenangan akan kampung halaman itu kembali mencuat.
Sejumlah mantan warga dan keturunannya menyempatkan diri mengunjungi lokasi. Mereka tampak berjalan hati-hati di antara puing, sesekali memungut benda kecil yang terbawa kenangan. “Ini rumah nenek saya dulu. Letaknya persis di dekat pohon besar yang sekarang sudah mati,” kata seorang perempuan paruh baya yang enggan disebutkan identitasnya.
Peringatan Keselamatan
Meski menjadi tontonan menarik, pihak berwenang mengimbau warga untuk tidak terlalu dekat ke area reruntuhan. Lumpur yang tampak padat bisa tiba-tiba amblas. Selain itu, struktur bangunan yang telah lama terendam sangat rapuh dan berisiko runtuh.
Kepala BPBD Lebak menyatakan bahwa petugas telah memasang garis pengaman dan akan terus memantau situasi. “Kami tidak melarang warga melihat, tapi tolong jaga jarak aman. Jika hujan deras turun, permukaan air bisa naik dengan cepat dan itu sangat berbahaya,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Fenomena Musiman yang Sarat Makna
Kemunculan kampung di dasar bendungan bukanlah kejadian pertama di Indonesia. Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta juga pernah mengalami hal serupa saat kemarau ekstrem. Bagi para peneliti, ini adalah kesempatan langka untuk mendokumentasikan sejarah sosial wilayah yang telah berubah fungsi.
Sementara itu, warga sekitar memandang peristiwa ini dengan campur aduk. Ada rasa rindu, takjub, sekaligus cemas akan ketidakpastian musim. Mereka berharap, saat hujan kembali turun, kampung itu akan kembali ke dasar bendungan dengan damai—menjadi bagian dari memori yang tersimpan di dasar air.
Comments (0)