Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Kembali Muncul Akibat Kemarau
LEBAK, detikcom - BARU SAJA, kekeringan yang melanda kawasan Banten selatan menguak kembali pemandangan langka. Sebuah kampung yang telah bertahun-tahun terendam di dasar Bendungan Karian, Kabupaten L...
LEBAK, detikcom - BARU SAJA, kekeringan yang melanda kawasan Banten selatan menguak kembali pemandangan langka. Sebuah kampung yang telah bertahun-tahun terendam di dasar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, kini kembali menyembul ke permukaan. Fenomena ini terjadi setelah volume air waduk menyusut drastis akibat musim kemarau panjang.
Air Surut Drastis
Berdasarkan pantauan di lapangan, permukaan air Bendungan Karian turun hingga level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini membuka kembali sisa-sisa perkampungan yang tenggelam saat bendungan mulai dioperasikan. Fondasi rumah, jalan desa, dan bahkan bekas makam warga kini terlihat jelas di antara lumpur yang mengering.
Saksi mata, Sarip (52), warga sekitar, mengaku terkejut bisa kembali melihat bekas kampung halamannya. "Sudah lebih dari satu dekade tempat ini hilang. Sekarang seperti bernostalgia ke masa lalu, tapi juga menyedihkan karena mengingatkan kami harus pindah," ujarnya dengan nada getir.
Kronologi dan Data
Bendungan Karian sendiri dibangun untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi di Provinsi Banten. Proyek ini menenggelamkan sedikitnya tiga desa ketika pintu air ditutup puluhan tahun lalu. Kini, dengan curah hujan yang nyaris nihil selama tiga bulan terakhir, volume air bendungan dilaporkan hanya tersisa 40 persen dari kapasitas normal.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak mencatat, penyusutan ini merupakan yang terparah sejak bendungan rampung. "Kami mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di area bekas kampung yang muncul. Tanah di sana labil dan berbahaya," tegas Kepala Pelaksana BPBD Lebak, Asep Rahmat.
Dampak Luas
Fenomena ini bukan sekadar tontonan. Ribuan hektare sawah di hilir bendungan terancam gagal panen akibat pasokan air irigasi yang tersendat. PDAM setempat pun mulai menerapkan giliran distribusi air bersih karena intake air baku terganggu endapan lumpur.
Di sisi lain, kemunculan kampung tenggelam ini menarik minat para peneliti sejarah dan arkeolog amatir. Beberapa di antaranya datang untuk mendokumentasikan tata ruang desa yang selama ini hanya ada di ingatan para mantan penghuninya.
Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dikabarkan akan segera mengirim tim untuk mengkaji dampak kekeringan ini pada struktur bendungan. Sementara BMKG memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir September mendatang.
UPDATE: Hingga berita ini diturunkan, evakuasi terhadap material berbahaya yang mungkin terbawa sedimentasi masih terus dilakukan. Warga diimbau tetap siaga dan melaporkan jika menemukan benda mencurigakan dari masa lalu yang bisa membahayakan.
Tim detikcom - Detik Ini Juga
Comments (0)