Jakarta — Hubungan Presiden Prabowo dan Mantan Presiden Jokowi Dikabarkan Memanas
Senja menyelimuti Istana Negara dengan semburat jingga yang muram. Di balik jendela-jendela besar ruang kerja presiden, suasana terasa berbeda. Staf kepres
Senja menyelimuti Istana Negara dengan semburat jingga yang muram. Di balik jendela-jendela besar ruang kerja presiden, suasana terasa berbeda. Staf kepresidenan berlalu-lalang dengan langkah ragu, seolah menahan beban yang tak terucap. Hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo tidak lagi sehangat dulu. Retakan yang semula hanya bisik-bisik di koridor parlemen kini mulai terang-terangan menampakkan diri di ruang publik.
Pernyataan Publik yang Mengejutkan
Geger politik itu bermula dari sebuah pernyataan singkat namun tajam. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Presiden Prabowo menyinggung "intervensi berlebihan" dari pihak-pihak yang sudah tidak lagi menjabat. Meski tidak menyebut nama, semua mata langsung tertuju pada Jokowi. Sumber internal Istana mengonfirmasi bahwa komunikasi langsung antara keduanya telah terhenti sejak tiga bulan terakhir. Ketegangan mencapai puncaknya saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025, ketika bahasa tubuh keduanya di atas panggung panggung kehormatan menjadi perbincangan hangat para analis politik.
Awal Mula Keretakan
Padahal, sejarah mencatat keduanya pernah menjadi pasangan politik yang solid. Jokowi adalah mentornya, yang dengan tangan terbuka mengintegrasikan Prabowo ke dalam kabinet. Dukungan penuh diberikan, dari program hilirisasi hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara. Namun, roda kekuasaan berputar. Setelah Prabowo dilantik sebagai presiden, perbedaan visi kebijakan mulai mencuat. Beberapa proyek strategis warisan Jokowi mengalami revisi signifikan, dan sejumlah kader kunci dari loyalis Jokowi perlahan tersingkir dari lingkaran terdekat presiden baru.
Prof. Dr. Andi Widjajanto, analis politik dari Universitas Indonesia, menuturkan, “Hubungan presiden dan mantan presiden di Indonesia seringkali diwarnai oleh ego personal dan pertarungan pengaruh. Ini bukan sekadar transisi kepemimpinan, tetapi juga transisi jaringan patronase yang menyakitkan bagi pihak yang ditinggalkan.”
Ada luka lama yang kembali menganga. Jokowi, yang sebelumnya digadang-gadang akan terus menjadi “bintang penuntun” koalisi, kini merasa dikhianati. Sementara Prabowo, dengan legitimasi barunya, berhasrat membangun narasi kemandirian tanpa bayang-bayang pendahulunya.
Pola Sejarah yang Terus Berulang
Fenomena hubungan presiden dan mantan presiden yang retak sejatinya bukan barang baru di republik ini. Megawati Soekarnoputri pernah merasakan dinginnya hubungan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) setelah Pemilu 2004. SBY sendiri kemudian menghadapi masa transisi yang canggung dengan Jokowi, yang pada akhirnya justru membentuk poros politik baru bersama Prabowo. Dinding-dinding Istana seolah menyimpan kutukan abadi: setiap pemimpin baru akan menjauh dari pendahulunya demi menegaskan otoritas.
“Ini adalah siklus klasik Oedipus Rex dalam politik,” ujar sosiolog politik Dr. Nadia Salsabila. “Anak politik harus membunuh ayah politiknya untuk eksis. Dan Jokowi, yang dulunya berperan sebagai ayah politik Prabowo, kini menjadi korban dari ambisi legitimasi itu.”
Survei Litbang Kompas pada Januari 2026 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo justru meningkat 12% setelah ia menunjukkan independensinya dari Jokowi. Angka ini menjadi justifikasi bagi kubu istana untuk terus memangkas peran mantan presiden dalam pengambilan keputusan strategis.
Dampak bagi Peta Politik Nasional
Retaknya hubungan ini mengirimkan gelombang kejut ke seluruh ekosistem politik. Partai-partai koalisi mulai terbelah: kubu loyalis Jokowi di Gerindra dan PDIP bersitegang dengan pendukung garis keras Prabowo. Aroma friksi tercium hingga ke tingkat akar rumput. Beberapa kepala daerah yang masih setia pada Jokowi mulai ragu mendukung program unggulan Prabowo: Makan Bergizi Gratis. Sementara itu, PDIP yang merupakan partai asal Jokowi justru berada di persimpangan jalan, antara memanfaatkan isu ini untuk membentuk oposisi atau tetap bertahan sebagai partai pendukung pemerintah.
Pertemuan tertutup di Wisma Atlet Senayan minggu lalu antara Prabowo dan sejumlah elite partai disebut-sebut sebagai upaya peredaman krisis. Namun, tanpa kehadiran tokoh kunci yang dekat dengan Jokowi, pertemuan itu justru memicu spekulasi akan adanya upaya pembentukan koalisi baru yang sama sekali meninggalkan warisan politik Jokowi.
Masa Depan Hubungan yang Tak Pasti
Kini, publik hanya bisa menebak-nebak. Akankah Prabowo dan Jokowi kembali duduk semeja untuk menuntaskan silaturahmi yang nyaris putus? Ataukah ini benar-benar menjadi akhir dari bromance politik yang dulu sempat membuat banyak orang berdecak kagum? Satu hal yang pasti: retakan ini telah mengubah lanskap kekuasaan di negeri ini. Setiap langkah politik berikutnya akan menentukan apakah Indonesia akan memasuki era baru yang lebih mandiri atau justru terperosok dalam pusaran perpecahan elite berkepanjangan.
Comments (0)