Sep 18, 2026
Hukum

INGGRIS — Pencari Suaka Perempuan Laporkan Kekerasan Seksual Pria Lokal

Sejumlah perempuan pencari suaka di Inggris mengungkapkan laporan mengenai tindakan pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pria warga negara

INGGRIS — Pencari Suaka Perempuan Laporkan Kekerasan Seksual Pria Lokal

Sejumlah perempuan pencari suaka di Inggris mengungkapkan laporan mengenai tindakan pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pria warga negara Inggris. Namun, mayoritas korban memilih untuk tidak menempuh jalur hukum formal karena dilanda ketakutan mendalam bahwa proses pidana dapat menggagalkan permohonan suaka mereka di negara tersebut.

Kesaksian dari para penyintas ini memberikan perspektif yang jarang terdengar di tengah perdebatan publik Inggris. Laporan ini mencuat pada saat kelompok sayap kanan ekstrem gencar melancarkan retorika anti-imigran, yang kerap mencap pencari suaka pria usia produktif sebagai ancaman keamanan serta pelaku tindak kejahatan seksual terhadap perempuan lokal.

Ketakutan Menuntut Keadilan di Ranah Hukum

Banyak perempuan pencari suaka yang menjadi korban kekerasan seksual hidup dalam bayang-bayang ketakutan sistemik. Mereka berada dalam posisi rentan karena status hukum yang belum pasti, keterbatasan bahasa, dan minimnya jaringan dukungan sosial di Inggris.

"Para perempuan pencari suaka kerap merasa terjepit antara mencari keadilan atas trauma fisik dan mental yang mereka alami, atau mempertahankan peluang hidup aman dengan tidak membuat laporan kepolisian yang dikhawatirkan memicu penolakan suaka oleh otoritas imigrasi."

Para pendamping hukum dan pekerja sosial mencatat bahwa ketakutan ini diperparah oleh anggapan bahwa sistem penegakan hukum dan imigrasi saling terhubung, sehingga kontak dengan aparat kepolisian dianggap dapat membahayakan nasib administrasi mereka di bawah Kementerian Dalam Negeri Inggris (Home Office).

Dinamika Kerentanan dan Pola Kejadian

Berdasarkan laporan para korban dan pendamping advokasi, situasi pelecehan ini terjadi dalam serangkaian kondisi rentan yang saling berkaitan:

  1. Ketergantungan dan Isolasi Sosial: Korban ditempatkan di fasilitas akomodasi sementara yang terisolasi, sehingga mudah menjadi target eksploitasi oleh pihak luar yang memanfaatkan ketidakberdayaan mereka.
  2. Manipulasi Status Imigrasi: Para pelaku acap kali memanfaatkan ketidaktahuan korban terkait hukum Inggris dengan ancaman bahwa korban akan dideportasi jika berani melapor ke pihak berwenang.
  3. Barier Institusional: Kurangnya akses terhadap pendampingan hukum independen, penerjemah terpercaya, serta layanan trauma spesifik bagi pengungsi mempersempit ruang gerak korban untuk mencari pertolongan medis maupun legal.

Mematahkan Narasi dan Stigma Sayap Kanan

Laporan ini sekaligus membantah generalisasi yang dibangun oleh kelompok ekstremis sayap kanan. Selama ini, narasi publik sering dipenuhi oleh propaganda yang menempatkan pengungsi semata-mata sebagai ancaman kriminal. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perempuan pengungsi justru berada di kelompok paling rentan menjadi korban kekerasan seksual oleh warga lokal.

Organisasi hak asasi manusia dan lembaga perlindungan perempuan mendesak pemerintah Inggris untuk segera membentuk mekanisme pelaporan yang aman tanpa risiko terhadap proses suaka korban. Mereka menekankan bahwa perlindungan terhadap korban kejahatan seksual harus berlaku universal tanpa memandang status kewarganegaraan atau dokumen imigrasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User