Sep 17, 2026
Hukum

INGGRIS — Liz Truss Klaim Konspirasi Kiri Hancurkan Peradaban Barat

LONDRES — Gelombang politik di Britania Raya kembali diwarnai oleh pernyataan kontroversial dari mantan Perdana Menteri Liz Truss. Berbeda dengan para pend

INGGRIS — Liz Truss Klaim Konspirasi Kiri Hancurkan Peradaban Barat

LONDRES — Gelombang politik di Britania Raya kembali diwarnai oleh pernyataan kontroversial dari mantan Perdana Menteri Liz Truss. Berbeda dengan para pendahulunya yang memilih menarik diri secara tenang dari panggung publik setelah meninggalkan Downing Street, Truss justru semakin gencar tampil di berbagai saluran podcast internasional untuk mempertahankan warisan politiknya yang sangat singkat.

Dalam penampilan media terbarunya, perempuan yang pernah memimpin Inggris tersebut melontarkan klaim mengejutkan. Ia menyebutkan adanya konspirasi sistematis jangka panjang untuk meruntuhkan peradaban Barat. Fenomena ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat politik London, yang menilai langkah Truss sebagai bentuk pembelaan diri yang semakin tidak masuk akal atas kegagalan dramatis pemerintahannya di masa lalu.

Tudingan Konspirasi terhadap Blair, Brown, dan Internal Partai

Dalam siaran tersebut, Truss secara eksplisit menunjuk dua mantan Perdana Menteri dari Partai Buruh, Tony Blair dan Gordon Brown, sebagai dalang utama di balik pergeseran ideologis yang dinilainya merusak tatanan Inggris. Menurut Truss, reformasi hukum dan kelembagaan yang dijalankan pada era Partai Buruh telah menciptakan tatanan birokrasi terselubung atau deep state yang secara konsisten merintangi kebijakan-kebijakan ekonomi pasar bebas.

Tak berhenti di situ, Truss juga mengarahkan kritiknya ke dalam internal partainya sendiri, Partai Konservatif. Ia menilai bahwa sebagian besar elite Tory telah terkooptasi oleh paham kiri dan menjadi bagian dari woke establishment yang enggan melakukan perubahan radikal demi pertumbuhan ekonomi.

"Ada plot terselubung yang dirancang selama puluhan tahun untuk membongkar tatanan peradaban dan merusak prinsip ekonomi pasar bebas di Inggris," ujar sebuah narasi defensif yang terus diulang Truss dalam serial wawancara media belakangan ini.

Perbandingan Kontras Perilaku Paska-Jabatan Pemimpin Inggris

Sikap agresif Truss di ruang publik sangat kontras jika dibandingkan dengan rekam jejak para mantan Perdana Menteri Inggris modern lainnya. Sebagian besar dari mereka memilih untuk menjaga martabat jabatan dengan tidak terus-menerus memicu kegaduhan publik.

Berikut adalah perbandingan pola perilaku dan masa jabatan dari beberapa mantan PM Inggris dalam beberapa dekade terakhir:

Nama Perdana Menteri Masa Jabatan Pola Perilaku Paska-Jabatan
David Cameron 6 Tahun (2010–2016) Menulis memoar, menjaga jarak dari media sebelum kembali menjadi Menlu.
Theresa May 3 Tahun (2016–2019) Fokus pada tugas parlemen daerah dan menghindari polemik media.
Boris Johnson 3 Tahun (2019–2022) Menjadi kolomnis media dan penceramah di ajang internasional.
Liz Truss 49 Hari (2022) Gencar di podcast kanan, menyebarkan teori konspirasi birokrasi.

Bencana Mini-Budget dan Realita Krisis Ekonomi

Meskipun Truss gigih membangun narasi bahwa dirinya adalah korban dari sabotase politik internal dan lembaga keuangan, data ekonomi riil menunjukkan cerita yang sangat berbeda. Pada September 2022, kebijakan pemotongan pajak besar-besaran tanpa pendanaan jelas yang dicetuskan Truss—dikenal sebagai mini-budget—langsung memicu kepanikan hebat di pasar keuangan global.

Akibat kebijakan tersebut, nilai mata uang Poundsterling anjlok ke level terendah dalam sejarah terhadap Dolar AS, sementara suku bunga pinjaman perumahan (KPR) di Inggris melonjak tajam secara mendadak. Kondisi tersebut memaksa Bank of England untuk melakukan intervensi darurat senilai 65 miliar poundsterling guna mencegah keruntuhan total dana pensiun nasional.

Para analis politik dan ekonomi menilai bahwa kegagalan singkat pemerintahan Truss murni disebabkan oleh salah kalkulasi mendasar dalam eksekusi kebijakan fiskal, bukan karena plot konspirasi. Kegigihan Truss untuk terus berbicara di platform independen kini dipandang sebagai upaya menarik simpati kelompok kanan radikal, terutama di Amerika Serikat, tempat narasi penolakan terhadap tatanan birokrasi sangat populer.

Kini, di tengah usaha Partai Konservatif menata kembali arah politik mereka, manuver media Liz Truss justru terus menjadi beban opini publik. Bagi mayoritas warga Inggris, penampilannya di berbagai siaran media sosial hanyalah bentuk delusi politik, namun Truss tampaknya menolak untuk tinggal diam dan membiarkan sejarah mencatat masa jabatannya tanpa perlawanan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User