IDI Dorong Batas 40 Jam Kerja Pasca Dokter Internship Tewas

Organisasi profesi dokter Indonesia langsung bergerak cepat menyikapi kabar duka yang mengguncang dunia kedokteran Tanah Air. Seorang dokter peserta program internship dipastikan meninggal dunia, mema...

Jul 28, 2026 - 09:30
0 0
IDI Dorong Batas 40 Jam Kerja Pasca Dokter Internship Tewas

Organisasi profesi dokter Indonesia langsung bergerak cepat menyikapi kabar duka yang mengguncang dunia kedokteran Tanah Air. Seorang dokter peserta program internship dipastikan meninggal dunia, memantik desakan keras agar sistem kerja magang segera direformasi total.

IDI, sebagai wadah resmi para dokter, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. Mereka menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap beban kerja dan pengawasan kesehatan peserta internship. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

Desakan Pembatasan Jam Kerja

Salah satu usulan paling tegas yang dilontarkan adalah pembatasan jam kerja maksimal 40 jam per pekan. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah kelelahan ekstrem yang diduga memicu risiko fatal. Para dokter magang sering kali menjalani shift panjang tanpa istirahat yang memadai.

Dalam praktiknya, jam kerja dokter internship sering kali tidak terkontrol. Rumah sakit pelaksana program kerap menetapkan shift panjang yang melebihi batas wajar, bahkan tanpa jeda istirahat. Data tidak resmi menyebut dokter magang bisa bekerja hingga 80–100 jam per minggu—dua kali lipat lebih dari batas usulan IDI.

Pemeriksaan Kesehatan Lebih Ketat

Selain pembatasan jam kerja, IDI juga mendesak agar seluruh peserta program magang menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala dan lebih ketat. Pemeriksaan ini dinilai penting untuk mendeteksi dini potensi gangguan fisik maupun mental akibat tekanan kerja yang berat.

“Peserta internship adalah aset bangsa. Jika mereka jatuh sakit atau bahkan meninggal karena kelelahan, maka itu adalah kegagalan sistem,” tegas perwakilan IDI dalam keterangannya. Organisasi ini meminta agar setiap rumah sakit penyelenggara program mewajibkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh setiap bulan, termasuk evaluasi psikologis.

Fakta-Fakta Penting

  • Korban adalah dokter peserta internship—bukan residen atau spesialis—yang diduga mengalami kelelahan kronis.
  • Jam kerja aktual di sejumlah rumah sakit dilaporkan bisa menembus 80–100 jam per minggu, jauh di atas batas ideal.
  • IDI mengusulkan batas 40 jam kerja per minggu sebagai standar baru untuk menjamin keselamatan dokter muda.
  • Pemeriksaan kesehatan mental dan fisik wajib dilakukan tiap bulan selama program berlangsung.
  • Evaluasi program magang harus melibatkan tim independen guna mencegah konflik kepentingan.

Langkah Selanjutnya

Belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Kesehatan atau rumah sakit tempat dokter tersebut bertugas. Namun, desakan dari organisasi profesi ini diperkirakan memicu gerakan lebih luas. Tuntutan revisi sistem magang yang eksploitatif semakin menguat.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan. Keselamatan calon dokter adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. IDI berkomitmen untuk terus mengawal proses evaluasi dan memastikan tuntutan ini tidak berhenti di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User