Sep 17, 2026
Hukum

Hong Kong Gusur Puluhan Desa Demi Bangun Megaproyek Teknologi Rp440 Triliun

Pemerintah Hong Kong mulai merealisasikan megaproyek ambisius bertajuk Northern Metropolis, sebuah kawasan terpadu berbasis teknologi tinggi senilai US$28

Hong Kong Gusur Puluhan Desa Demi Bangun Megaproyek Teknologi Rp440 Triliun

Pemerintah Hong Kong mulai merealisasikan megaproyek ambisius bertajuk Northern Metropolis, sebuah kawasan terpadu berbasis teknologi tinggi senilai US$28 miliar (sekitar Rp440 triliun). Demi mewujudkan zona ekonomi baru yang setara dengan Silicon Valley tersebut, otoritas setempat menggusur puluhan perkampungan, lahan pertanian, hingga kawasan lahan basah alami di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Tiongkok daratan.

Kawasan seluas 30.000 hektare atau mencakup hampir sepertiga total luas Hong Kong ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Pemerintah menargetkan kawasan metropolitan utara mampu menampung hingga 2,5 juta penduduk sekaligus menyediakan sekitar 650.000 lapangan kerja di sektor inovasi dan teknologi.

Kronologi dan Skala Pembangunan Northern Metropolis

Rencana pembangunan kota modern ini telah diinisiasi dalam beberapa tahun terakhir guna mempercepat integrasi Hong Kong ke dalam ekosistem Greater Bay Area, yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Makau dan sembilan kota besar di Guangdong, Tiongkok.

  1. Inisiasi Rencana: Diumumkan pertama kali lima tahun lalu sebagai solusi mengatasi krisis perumahan kronis sekaligus mendiversifikasi ekonomi Hong Kong di luar sektor keuangan konvensional.
  2. Eksekusi Pembebasan Lahan: Pemerintah mulai menertibkan area pedesaan dan lahan agraris secara bertahap, memicu relokasi massal warga lokal yang telah menetap turun-temurun.
  3. Tahap Pembangunan Infrastruktur: Menghubungkan jaringan transportasi kilat lintas batas menuju Shenzhen serta membangun pusat riset dan teknologi canggih.

Dilema Warga dan Hilangnya Jejak Sejarah Lokal

Di balik ambisi integrasi ekonomi regional, gelombang pembongkaran permukiman menyisakan luka mendalam bagi masyarakat akar rumput. Lembaga riset independen Liber Research Community mencatat setidaknya 25 desa tradisional akan diratakan dengan tanah demi proyek raksasa ini.

"Saya tidak sanggup pergi... Jika bukan karena pemerintah mengembangkan kawasan ini, saya kemungkinan besar akan menghabiskan sisa hidup saya di sini. Bagaimanapun, di sinilah tempat saya berasal," ujar Chan, seorang warga lokal yang terpaksa mengemasi barang-barangnya.

Otoritas perencana kota menyatakan bahwa sebagian bangunan peninggalan keluarga warga dinilai tidak memiliki nilai sejarah yang cukup signifikan untuk dipertahankan, sehingga relokasi menjadi langkah mutlak.

Sorotan Kerusakan Lingkungan dan Redupnya Oposisi

Pemerhati lingkungan dan pegiat sosial menyuarakan kekhawatiran serius terkait dampak ekologis yang ditimbulkan dari pengeringan lahan basah alami dan pembabatan hutan lindung di kawasan utara.

  • Ancaman Ekosistem: Kerusakan habitat satwa liar dan berkurangnya kawasan resapan air alami di perbatasan.
  • Beban Anggaran Publik: Risiko pembengkakan anggaran negara di tengah ketidakpastian pasar properti dan ekonomi global.
  • Erosi Otonomi: Kekhawatiran kian hilangnya garis pemisah politik dan tata kelola antara Hong Kong dan Tiongkok daratan.
"Membangun kota baru di wilayah yang sebelumnya terlindungi dengan baik pasti akan berdampak sangat destruktif, bagaimanapun upaya mitigasinya," tegas Brian Wong dari Liber Research Community.

Kritik publik terhadap proyek integrasi ini sendiri kian menyusut menyusul pemberlakuan Undang-Undang Keamanan Nasional sejak 2020, yang secara efektif menekan ruang gerak kelompok oposisi dan mempercepat kontrol penuh Beijing atas masa depan pembangunan Hong Kong.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User