Hasto Kristiyanto Kupas Geopolitik Bung Karno di UBK
Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, memberikan kuliah umum bertajuk “Pemikiran Geopolitik Bung Karno” di Universitas Bhinneka Jakarta (UBK). Dalam paparannya, ia men...
Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, memberikan kuliah umum bertajuk “Pemikiran Geopolitik Bung Karno” di Universitas Bhinneka Jakarta (UBK). Dalam paparannya, ia mengajak mahasiswa menyelami kembali visi besar presiden pertama Indonesia dalam menempatkan bangsa di panggung global.
Warisan Geopolitik Sang Proklamator
Hasto menjelaskan, Bung Karno telah merumuskan strategi geopolitik yang menempatkan Indonesia sebagai subjek, bukan objek. Konsep Nefo (New Emerging Forces) dan Oldefo (Old Established Forces) menjadi pisau analisis untuk melawan dominasi imperialisme. “Bung Karno melihat dunia terbelah dua, dan Indonesia harus memimpin kekuatan baru yang merdeka,” ujarnya.
Gagasan itu melahirkan Gerakan Non-Blok yang memayungi negara-negara Asia-Afrika. Menurut Hasto, semangat Bandung dalam Konferensi Asia Afrika 1955 adalah bukti nyata bagaimana pemikiran Bung Karno mampu menggerakkan solidaritas global melawan penjajahan.
Relevansi di Era Persaingan Modern
Di tengah kebangkitan rivalitas geopolitik antara kekuatan besar, Hasto menegaskan bahwa ajaran Bung Karno tetap aktual. Ia menyoroti prinsip Berdikari yang mengedepankan kemandirian ekonomi dan politik. “Kita tidak boleh terjebak dalam pusaran konflik negara adikuasa. Indonesia harus percaya pada kekuatan sendiri,” kata Hasto.
Ia lantas mengaitkan pemikiran geopolitik dengan Wawasan Nusantara. Hasto mengingatkan bahwa Bung Karno memandang laut sebagai penghubung antarpulau, bukan pemisah. Konsep ini menjadi dasar bagi pembangunan poros maritim yang kini menjadi agenda strategis nasional.
Hasto juga menyinggung bagaimana Bung Karno dengan tegas menolak tekanan lembaga keuangan internasional. Menurutnya, sikap tersebut adalah cerminan dari kedaulatan mutlak yang harus dimiliki setiap bangsa. “Keteladanan itu penting agar kita tidak mudah diintervensi,” imbuhnya.
Menghidupkan Kembali Semangat Bung Karno
Kuliah umum ini merupakan bagian dari program kaderisasi PDIP yang menekankan pentingnya penguasaan geopolitik bagi generasi muda. Hasto berharap mahasiswa mampu membaca peta dunia dengan perspektif kebangsaan. “Jangan menjadi penonton di negeri sendiri,” tegasnya.
Acara diakhiri dengan diskusi interaktif, di mana mahasiswa antusias menggali lebih dalam tentang penerapan pemikiran Bung Karno dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan digitalisasi ekonomi.
Comments (0)