Harga Rp 20 Ribuan, Kopi Murah Kuasai Pasar Pekerja Kantoran Jakarta
JAKARTA — Era kopi mahal bagi pekerja kantoran perlahan berakhir. Kini, gelombang baru coffee to go dengan banderol di bawah Rp 25.000 justru mendominasi d
JAKARTA — Era kopi mahal bagi pekerja kantoran perlahan berakhir. Kini, gelombang baru coffee to go dengan banderol di bawah Rp 25.000 justru mendominasi dan menjadi penyelamat dompet ‘budak korporat’ di ibu kota.
Fenomena ini tidak sekadar tren, melainkan pergeseran perilaku konsumsi yang tajam. Para pekerja muda yang dulu rela merogoh kocek Rp 50.000 untuk secangkir es kopi susu, sekarang beralih ke gerai-gerai kecil yang menawarkan rasa tidak kalah dengan harga setengahnya.
Sebut saja Calf, Jago, hingga sederet merek lokal yang kini menjamur di pusat bisnis seperti Sudirman, Kuningan, dan Thamrin. Mereka jadi penyelamat baru di tengah tekanan biaya hidup.
Geser Dominasi Merek Mahal
Pengamat tren konsumsi perkotaan mencatat, pergeseran ini dipicu oleh tiga faktor utama yang saling terkait: efisiensi anggaran, aksesibilitas, dan kualitas yang tidak lagi monopoli merek global.
- Harga maksimal Rp 25.000 — Cocok untuk pengeluaran harian tanpa rasa bersalah.
- Rasa setara kafe — Banyak merek kecil menggunakan biji kopi single origin dan mesin espresso profesional.
- Lokasi strategis — Gerobak atau kios kecil di lobi gedung perkantoran, memangkas waktu tunggu.
Salah satu barista di gerai Calf kawasan Thamrin, Ade (24), mengungkapkan bahwa pelanggan setianya mayoritas adalah pekerja kantoran yang datang dua kali sehari.
“Mereka biasanya pesan es kopi susu atau Americano. Pagi jam 7 udah antre, nanti jam 2 siang balik lagi. Alasannya simpel: murah, cepat, dan rasanya konsisten. Sekarang orang udah pintar, nggak perlu bayar mahal buat kopi enak.”
Transformasi Bisnis Kopi Jalanan
Ledakan permintaan ini mendorong pelaku usaha mikro untuk naik kelas. Banyak yang awalnya hanya berjualan dari sepeda motor kini membuka booth permanen dengan mesin kopi semi-otomatis senilai puluhan juta rupiah.
Calf, misalnya, sudah ekspansi ke lebih dari 15 titik di Jakarta dalam enam bulan terakhir. Jago bahkan berani menawarkan program berlangganan bulanan. Model bisnis ini tidak hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor informal.
Para ‘budak korporat’ pun mendapat oase baru: kopi enak tanpa harus mencicil. Di tengah gempuran gaya hidup minimalis dan tekanan ekonomi, pilihan ini menjadi jawaban paling logis untuk tetap produktif tanpa mengorbankan kenikmatan.
Fenomena coffee to go murah meriah ini diperkirakan akan terus membesar sepanjang 2025, seiring dengan makin banyaknya gedung perkantoran yang membuka akses bagi pedagang kopi kecil. Para pemain besar pun mulai waspada — perang harga mungkin babak selanjutnya.
Comments (0)