Gus Ghofur Maimoen Resmi Jabat Rais Syuriyah PBNU
Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menetapkan KH Abdul Ghofur Maimoen atau yang akrab disapa Gus Ghofur sebagai Rais Syuriyah. Pengangka
Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menetapkan KH Abdul Ghofur Maimoen atau yang akrab disapa Gus Ghofur sebagai Rais Syuriyah. Pengangkatan putra ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair ini disahkan dalam forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dan disambut luas oleh warga nahdliyin.
Gus Ghofur, yang mewarisi darah keulamaan dari Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, kini duduk di jajaran syuriyah—dewan tertinggi yang bertugas menjaga arah teologis dan spiritual NU. Posisi ini menempatkannya sebagai salah satu penjaga marwah Ahlussunnah wal Jama'ah di tengah dinamika sosial-politik nasional.
Profil dan Latar Belakang Pesantren
KH Abdul Ghofur Maimoen lahir dan besar di lingkungan pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ia adalah putra dari KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), ulama panutan yang wafat di Makkah pada 2019. Sejak kecil, Gus Ghofur ditempa langsung oleh sang ayah dalam ilmu fiqih, tafsir Al-Qur'an, dan tasawuf. Pendidikan formalnya ia perkuat dengan pengembaraan intelektual ke sejumlah pesantren di Jawa dan Timur Tengah.
Sosoknya dikenal rendah hati dan memiliki kedekatan emosional dengan santri. Ia mengasuh Majelis Taklim dan menjadi rujukan fatwa di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa. Kiprahnya di organisasi NU pun sudah terlihat sejak lama, dimulai dari kepengurusan ranting hingga cabang, sebelum akhirnya dipercaya di tingkat pusat.
Perjalanan Menuju PBNU
Penunjukan Gus Ghofur sebagai Rais Syuriyah PBNU merupakan hasil dari Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama yang digelar di Lampung. Dalam forum permusyawaratan tertinggi itu, nama Gus Ghofur mencuat karena dinilai mampu merepresentasikan generasi penerus ulama sepuh sekaligus menjadi jembatan antara tradisi pesantren dan tantangan zaman modern. Ia dipilih bersama sejumlah rais lainnya untuk mendampingi Rais Aam PBNU.
Para muktamirin menilai Gus Ghofur memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, jaringan santri yang luas, serta komitmen kuat terhadap kemandirian NU. “Beliau adalah figur yang lahir dari rahim pesantren, mengerti betul nafas perjuangan ulama-ulama terdahulu, tetapi juga terbuka terhadap isu-isu kebangsaan kontemporer,” ujar salah satu peserta muktamar.
Pesan dan Visi Kebangsaan
“Nahdlatul Ulama harus tetap menjadi payung teduh bagi seluruh rakyat Indonesia. Tugas kita adalah menjaga akidah umat, merawat persatuan, dan memastikan bahwa agama tidak dipolitisasi untuk kepentingan sesaat.”
Pesan itu disampaikan Gus Ghofur dalam kesempatan pertama setelah pelantikannya. Ia menekankan pentingnya moderasi beragama (wasathiyah) sebagai identitas NU yang harus terus digaungkan. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukanlah perbedaan pendapat, melainkan menguatnya polarisasi yang menggerus nilai-nilai kebangsaan.
Lebih lanjut, Gus Ghofur mendorong penguatan ekonomi umat melalui pengembangan unit usaha pesantren. Ia percaya bahwa kemandirian ekonomi adalah prasyarat agar institusi keagamaan tidak mudah diintervensi. “Pesantren harus jadi pusat pemberdayaan, bukan sekadar tempat mengaji,” tegasnya.
Tanggapan Publik dan Kalangan Ulama
Pengangkatan Gus Ghofur disambut antusias oleh berbagai pihak. Sejumlah kyai sepuh menyebutnya sebagai “penerus otentik Mbah Moen” yang diharapkan mampu membawa spirit Sarang ke tingkat nasional. Di media sosial, warganet nahdliyin ramai membagikan potongan video ceramahnya yang sejuk dan penuh hikmah.
KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, menyampaikan bahwa kehadiran Gus Ghofur di jajaran syuriyah akan memperkuat konsolidasi internal organisasi. “Beliau mewarisi tradisi keilmuan yang dalam dan jaringan yang kuat di kalangan santri. Ini aset besar bagi NU,” ujarnya.
Tantangan NU ke Depan
Sebagai Rais Syuriyah, Gus Ghofur dihadapkan pada sejumlah persoalan besar, antara lain:
- Maraknya paham keagamaan transnasional yang dinilai tidak sejalan dengan tradisi lokal;
- Tantangan digitalisasi dakwah yang memerlukan respons adaptif tanpa kehilangan substansi;
- Dinamika politik nasional yang kerap menyeret aspirasi umat Islam ke dalam polarisasi;
- Kesejahteraan guru ngaji dan infrastruktur pesantren yang masih timpang.
Gus Ghofur menegaskan bahwa syuriyah akan bekerja sama dengan tanfidziyah untuk merumuskan langkah strategis. Ia mengajak seluruh warga NU untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah. “Mari kita perkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Itulah warisan para muassis NU yang harus kita jaga,” imbuhnya.
Dengan pengukuhan ini, publik menaruh harapan besar bahwa NU akan semakin solid dalam mengawal Islam moderat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sosok Gus Ghofur, dengan segala latar belakang dan rekam jejaknya, diyakini mampu menjalankan amanah tersebut.
Comments (0)