Gunung Kawi — Rutin Ziarah, Pengusaha Rokok Kini Miliarder
Malang, Jawa Timur — Kawasan Gunung Kawi yang dikenal sebagai tempat ziarah spiritual bagi masyarakat Tionghoa dan peziarah lokal kembali mencuat sebagai “
Malang, Jawa Timur — Kawasan Gunung Kawi yang dikenal sebagai tempat ziarah spiritual bagi masyarakat Tionghoa dan peziarah lokal kembali mencuat sebagai “pintu rezeki” bagi para pemburu keberuntungan. Salah satu kisah paling menyita perhatian datang dari Djoko Hartono, pendiri dan pemilik PT Sumber Nikmat Tobacco, perusahaan rokok asal Kediri yang kini merajai pasar domestik dengan merek andalan “Djiwo Kretek”. Djoko, yang memulai bisnisnya dari pabrik rumahan pada 2008, secara teratur mengunjungi Pesarean Gunung Kawi sejak 2015. Ritual yang ia lakukan setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Jawa itu, diakuinya, menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya. “Saya datang bukan untuk meminta kekayaan instan, tapi untuk menata batin dan memohon petunjuk dalam mengambil keputusan besar. Hasilnya, seperti ada jalan yang terus terbuka,” tuturnya dalam wawancara eksklusif, Senin (12/5/2025).
Perjalanan spiritual itu tampaknya berbanding lurus dengan performa perusahaan. Pada 2015, PT Sumber Nikmat Tobacco hanya mengantongi pendapatan tahunan sebesar Rp 480 miliar dengan laba bersih sekitar Rp 62 miliar. Satu dekade kemudian, tepatnya penutupan buku 2024, pendapatan meroket ke Rp 9,2 triliun dan laba bersih menyentuh Rp 1,4 triliun. Angka itu menempatkan Djoko dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia versi Forbes dengan estimasi kekayaan bersih mencapai Rp 14,5 triliun—sebuah lompatan 2.900% dari nilai kekayaannya sembilan tahun silam. Pabrik yang semula hanya mempekerjakan 800 buruh kini menyerap lebih dari 7.000 tenaga kerja di tiga lokasi produksi di Kediri, Malang, dan Pasuruan.
Korelasi Spiritualitas dan Kinerja Bisnis: Sebuah Analisis
Fenomena ziarah Gunung Kawi yang dikaitkan dengan lonjakan kekayaan pengusaha bukanlah hal baru. Kawasan dengan nuansa Tionghoa-Jawa itu memang telah lama menjadi magnet bagi pebisnis dari berbagai sektor, mulai dari properti, perkebunan, hingga rokok. Namun, kasus Djoko Hartono memberikan gambaran menarik tentang bagaimana rutinitas spiritual dapat berdampak pada pengambilan keputusan strategis. Dalam kurun 2016–2024, PT Sumber Nikmat Tobacco melakukan empat ekspansi besar yang semuanya diputuskan setelah Djoko melakukan ziarah—termasuk akuisisi pabrik kertas sigaret di Mojokerto dan peluncuran lini ekspor ke Vietnam dan Filipina.
Menurut Dr. Rina Anggraeni, sosiolog ekonomi dari Universitas Airlangga, praktik semacam ini merupakan wujud modal spiritual yang menopang modal sosial dan ekonomi. “Ziarah bukan sekadar ritual mistis, melainkan ruang refleksi yang mendorong aktor ekonomi untuk lebih berani mengambil risiko terukur. Ketika keyakinan spiritual bertemu dengan naluri bisnis yang tajam, efeknya bisa eksponensial,” ujarnya. Rina menambahkan, pola serupa terjadi pada sejumlah konglomerat etnis Tionghoa di Indonesia yang kerap mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan spiritualitas dalam siklus bisnis mereka.
Data internal perusahaan yang diperoleh redaksi memperlihatkan lonjakan signifikan pada tahun-tahun di mana intensitas ziarah meningkat. Pada 2018, Djoko tercatat melakukan 30 kali kunjungan ke Gunung Kawi, dan pada tahun yang sama perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan 156% (yoy). Pada 2022, saat pandemi melandai, ia kembali meningkatkan frekuensi ziarah menjadi 24 kali kunjungan dan laba bersih melonjak 183% dibanding tahun sebelumnya. Meski tidak dapat dibuktikan secara kausal murni, angka-angka ini memperkuat narasi yang berkembang di kalangan pebisnis lokal.
Perbandingan Kinerja Sebelum dan Sesudah Ziarah Rutin
| Indikator | Sebelum Rutin Ziarah (2014) | Setelah Rutin Ziarah (2024) | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Tahunan | Rp 480 miliar | Rp 9,2 triliun | +1.817% |
| Laba Bersih | Rp 62 miliar | Rp 1,4 triliun | +2.159% |
| Jumlah Karyawan | 800 orang | 7.000 orang | +775% |
| Pangsa Pasar Rokok Domestik | 1,2% | 8,9% | +642% |
| Kekayaan Bersih Pemilik | Rp 500 miliar (estimasi) | Rp 14,5 triliun | +2.800% |
Data di atas menunjukkan perubahan fundamental. Selain lonjakan finansial, PT Sumber Nikmat Tobacco juga mencatat ekspansi pasar ke 12 provinsi baru dan peningkatan volume ekspor sebesar 340% dalam lima tahun terakhir. Perusahaan kini menguasai segmen rokok kretek premium kelas menengah yang sebelumnya didominasi oleh dua pabrikan besar nasional.
Meski sukses, Djoko tetap merendah. Ia menolak anggapan bahwa kekayaannya semata hasil dari ritual spiritual. “Ini kerja keras seluruh tim. Gunung Kawi hanya memberi ketenangan, selebihnya adalah strategi, inovasi, dan kepercayaan dari konsumen,” katanya. Namun, ia tidak menampik bahwa tradisi ziarah akan terus ia jalankan dan bahkan akan ia wariskan kepada anak-anaknya yang kini mulai masuk ke jajaran manajemen perusahaan.
Kisah ini menjadi gambaran bagaimana elemen budaya dan spiritualitas tetap hidup di jantung kapitalisme modern Indonesia, saling bertautan membentuk ekosistem ekonomi yang unik.
[SISTEM] [SOCIAL_TWEET]: Dulu pabrik rumahan, kini konglomerasi rokok bernilai Rp14,5 triliun. Djoko Hartono rutin berziarah ke Gunung Kawi sejak 2015 dan bisnisnya meroket. Spiritualitas bertemu strategi bisnis. #GunungKawi #PengusahaRokok #MiliarderRI [SOCIAL_TG]: 📈 Dari Ritual ke Cuan: Djoko Hartono, Bos Rokok yang Rajin Ziarah Gunung Kawi, Kini Bertakhta sebagai Miliarder. - Pendapatan perusahaan naik 1.817% dalam satu dekade - Laba bersih tembus Rp1,4 triliun - Kekayaan pribadi capai Rp14,5 triliun Baca analisis data dan pendapat ahli di sini.
Comments (0)