Getty Tolak Tebusan Rp280 M, Cucu Disiksa dan Dipotong Telinga
ROMA, 1973 — Kabar mengerikan mengguncang dunia kala John Paul Getty III, cucu dari raja minyak yang digdaya, diculik oleh kelompok mafia di jantung Italia
ROMA, 1973 — Kabar mengerikan mengguncang dunia kala John Paul Getty III, cucu dari raja minyak yang digdaya, diculik oleh kelompok mafia di jantung Italia. Para penculik meminta tebusan US$17 juta atau sekitar Rp280 miliar dalam kurs saat ini. Namun, respons sang kakek, J. Paul Getty—pria paling tajir di planet ini kala itu—malah membuat publik terperangah: ia menolak membayar sepeser pun.
Kronologi Penculikan yang Mengguncang Eropa
Pada 10 Juli 1973, John Paul Getty III—remaja 16 tahun yang doyan hidup malam dan bersahabat karib dengan seniman bohemian di Roma—menghilang tanpa jejak di Piazza Farnese. Awalnya, polisi Italia mengira ia cuma lagi “pergi main” sebagaimana kebiasaan anak muda bengal. Namun, beberapa hari kemudian, telepon pertama dari penculik masuk ke keluarga Getty.
- 10 Juli 1973: Getty III diculik di pusat kota Roma.
- 15 Juli 1973: Permintaan tebusan dilayangkan: US$17 juta tunai.
- Agustus–Oktober 1973: Getty Sr. ngotot bahwa penculikan hanya akal-akalan sang cucu untuk memeras uang darinya.
- Oktober 1973: Sebuah bungkusan berisi sepotong telinga kanan dan seikat rambut Getty III tiba di kantor surat kabar Italia. Pesannya: telinga berikutnya akan dikirim jika tebusan tak juga dibayar.
- November 1973: Getty Sr. akhirnya luluh setelah negosiasi sengit. Tebusan disepakati sekitar US$2,9 juta—mayoritas berupa pinjaman dengan bunga 4% kepada sang ayah, John Paul Getty Jr.
- Desember 1973: Getty III dilepaskan dalam keadaan trauma berat, malnutrisi, dan kehilangan sebagian telinganya.
“Jika Saya Bayar, Ke-14 Cucu Saya Bisa Diculik Esok Hari”
Kalimat dingin itu benar-benar meluncur dari mulut J. Paul Getty kala diwawancarai awak media. Bagi seorang taipan minyak yang punya lebih dari selusin cucu, logika bisnis tampak lebih penting ketimbang nurani keluarga. Publik terbelah: ada yang mengecam ketegaran sang miliarder sebagai durjana tak berperasaan, tetapi tak sedikit yang melihatnya sebagai prinsip anti-kriminal yang teguh.
“Kakek saya bahkan menyempatkan diri menawar harga tebusan seperti ia sedang transaksi sumur minyak,” ujar seorang sumber dekat keluarga Getty, bertahun-tahun setelah insiden.
Mafia ‘Ndrangheta di Balik Operasi Brutal
Otoritas Italia belakangan mengidentifikasi bahwa sindikat ‘Ndrangheta asal Calabria berdiri di balik penculikan ini. Modus mereka: menyamar menjadi pekerja lepas yang merayu korban di kehidupan malam. Ironisnya, penculik sempat frustrasi lantaran keluarga sang korban tak kunjung bereaksi. Hal itu memicu aksi radikal pemotongan telinga, sebuah pesan keji agar “uang segera mengalir”.
- Tuntutan awal Rp280 miliar dilunakkan menjadi US$2,9 juta setelah lima bulan negosiasi.
- Dana tebusan dihitung sebagai utang Getty Jr. kepada Getty Sr., lengkap dengan bunga.
- Sebagian pelaku tertangkap pada 1974, namun otak intelektualnya tetap misterius.
Dampak Psikologis dan Warisan Kelam
John Paul Getty III tak pernah benar-benar pulih. Pria yang kemudian berjuang melawan kecanduan narkoba dan alkohol ini mengalami stroke pada 1981 yang membuatnya lumpuh dan nyaris buta hingga akhir hayatnya di usia 54 tahun. Kisah ini menginspirasi film “All the Money in the World” serta serial “Trust”, yang melukiskan betapa dinginnya kekayaan ekstrem bisa mengorbankan ikatan darah.
[SOCIAL_TWEET]: Getty Sr., orang terkaya dunia 1973, menolak bayar tebusan Rp280 M saat cucunya diculik mafia. Akibatnya, telinga sang cucu dipotong dan dikirim ke surat kabar. #SejarahHitam #PenculikanGetty #MafiaItalia[SOCIAL_TG]: 🔪 Mafia Italia kirim potongan telinga cucu Getty Sr. setelah tebusan Rp280 M tak kunjung dibayar. Sang kakek tetap menolak bayar…
Comments (0)