Sep 18, 2026
Nasional

Emisi Karbon Kebakaran Hutan Indonesia Tertinggi di Dunia, Kalimantan Terparah

Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah laporan pemantauan atmosfer global mencatat lonjakan drastis pelepasan gas rumah kaca dari se

Emisi Karbon Kebakaran Hutan Indonesia Tertinggi di Dunia, Kalimantan Terparah

Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah laporan pemantauan atmosfer global mencatat lonjakan drastis pelepasan gas rumah kaca dari sektor kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data observasi satelit lingkungan terkini, Indonesia mencatatkan rekor sebagai penyumbang emisi karbon kebakaran tertinggi di dunia, melampaui sejumlah negara tropis lainnya.

Kondisi cuaca ekstrem yang dipicu oleh musim kemarau panjang serta fenomena iklim global dinilai memperparah intensitas titik api di berbagai wilayah kepulauan Nusantara. Kebakaran yang melanda kawasan tutupan hutan alami dan perkebunan melepaskan jutaan ton karbon dioksida ke atmosfer, memperburuk laju pemanasan global secara signifikan.

Dominasi Lahan Gambut Kalimantan Jadi Pemicu Utama

Dari seluruh wilayah yang terdampak karhutla, Pulau Kalimantan tercatat menjadi kontributor emisi karbon paling masif. Pembakaran yang terjadi di atas ekosistem lahan gambut yang tebal menjadi faktor pemicu utama mengapa volume emisi melonjak tak terkendali.

Lahan gambut menyimpan cadangan karbon purba dalam jumlah raksasa. Ketika lapisan organik tersebut terbakar, karbon yang terperangkap selama ribuan tahun langsung terlepas ke udara bebas dalam bentuk asap pekat dan gas beracun.

"Karakteristik kebakaran gambut bersifat smoldering atau membara di bawah permukaan tanah. Pemadaman dari udara kerap tidak menyentuh akar api, sehingga pelepasan emisi karbon berlangsung terus-menerus selama berminggu-minggu," ungkap salah satu peneliti klimatologi tropis.

Sejumlah provinsi di Kalimantan, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, melaporkan ribuan titik panas (hotspot) aktif yang membakar kawasan lindung maupun konsesi perkebunan.

Dampak Nyata terhadap Kesehatan dan Ekosistem

Bencana kabut asap pekat tidak hanya berdampak pada krisis iklim global, tetapi juga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Berikut sejumlah dampak kritis yang kini tengah dihadapi:

  • Krisis Kualitas Udara: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa kota di Kalimantan telah menembus level berbahaya, memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
  • Ancaman Keanekaragaman Hayati: Satwa endemik yang terancam punah, termasuk orangutan kalimantan, kehilangan habitat alami akibat ludesnya tutupan kanopi hutan.
  • Gangguan Transportasi: Jarak pandang yang menurun drastis sempat mengganggu operasional penerbangan perintis dan pelayaran sungai.

Akselerasi Pemadaman dan Penegakan Hukum

Pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta unsur TNI-Polri terus menggencarkan operasi darurat karhutla. Strategi modifikasi cuaca berupa hujan buatan dan teknologi water bombing dikerahkan ke titik-titik paling kritis.

Di samping upaya teknis di lapangan, pemerintah menegaskan komitmen penegakan hukum tegas tanpa pandang bulu terhadap korporasi maupun individu yang terbukti sengaja membuka lahan dengan cara membakar. Restorasi hidrologis gambut melalui sekat kanal dan rewetting kini didorong agar kebakaran serupa tidak terus berulang setiap tahun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User