Demis Hassabis Mundur dari CEO DeepMind, Era Baru Google Dimulai
LONDON — Google DeepMind memasuki era baru setelah salah satu pendirinya, Sir Demis Hassabis, mengumumkan pengunduran dirinya dari tugas harian sebagai chi
LONDON — Google DeepMind memasuki era baru setelah salah satu pendirinya, Sir Demis Hassabis, mengumumkan pengunduran dirinya dari tugas harian sebagai chief executive officer (CEO). Peraih Nobel Kimia 2024 itu kini beralih ke posisi ketua (chair) DeepMind sekaligus menjabat sebagai chief scientist di Alphabet, induk perusahaan Google.
Pengumuman ini datang hanya sebulan setelah Hassabis menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah membawa dunia ke "momen penting dalam sejarah manusia". Banyak kalangan kini menilai pernyataan itu merupakan pertanda perubahan besar yang sedang ia antisipasi—meski sedikit yang menyangka perubahan tersebut justru terjadi di dalam perusahaannya sendiri.
Keputusan Hassabis segera memicu kekhawatiran di kalangan pengamat industri. Sejumlah pihak menilai langkah ini menegaskan bahwa DeepMind telah kehilangan independensinya, dan "realitas komersial" kini sepenuhnya mengambil alih arah perusahaan yang sejak awal dikenal sebagai laboratorium riset murni.
Dari Laboratorium Riset Menuju Mesin Komersial
DeepMind didirikan pada 2010 di London oleh Hassabis bersama Shane Legg dan Mustafa Suleyman dengan misi ambisius: "memecahkan kecerdasan" demi kemajuan umat manusia. Google mengakuisisi perusahaan itu pada 2014 dengan nilai diperkirakan mencapai £400 juta atau sekitar Rp8 triliun. Salah satu janji penting dalam akuisisi tersebut adalah independensi riset DeepMind dari kepentingan bisnis Google.
Namun, garis pemisah itu kian kabur seiring waktu. Pada 2023, Alphabet menggabungkan DeepMind dengan tim Google Brain menjadi satu entitas bernama Google DeepMind, dengan Hassabis sebagai CEO. Sejak saat itu, DeepMind bertransformasi dari laboratorium riset menjadi pusat pengembangan produk AI komersial, termasuk model Gemini yang menjadi andalan Google untuk menyaingi OpenAI.
"Ini bukan sekadar rotasi jabatan. Ini sinyal kuat bahwa Alphabet menginginkan kendali yang lebih erat atas DeepMind, dan tekanan untuk mengomersialkan AI kini jauh lebih besar daripada idealisme riset di masa awal," ujar seorang analis teknologi yang memantau perkembangan perusahaan.
Jejak Panjang Sang Peraih Nobel
Hassabis bukan figur sembarangan di dunia teknologi. Mantan desainer video game dan pecatur jenius ini memimpin DeepMind mencetak sejumlah terobosan bersejarah. Berikut tonggak penting perjalanannya:
| Tahun | Peristiwa Penting |
|---|---|
| 2010 | DeepMind didirikan di London oleh Hassabis, Legg, dan Suleyman |
| 2014 | Diakuisisi Google senilai sekitar £400 juta |
| 2016 | AlphaGo mengalahkan juara dunia Go, Lee Sedol |
| 2020 | AlphaFold memecahkan masalah pelipatan protein selama 50 tahun |
| 2023 | Penggabungan DeepMind dan Google Brain menjadi Google DeepMind |
| 2024 | Hassabis meraih Nobel Kimia berkat AlphaFold |
| 2026 | Mundur sebagai CEO, menjadi chair DeepMind dan chief scientist Alphabet |
Pencapaian terbesarnya datang pada 2024, ketika Hassabis dan rekannya John Jumper menerima Hadiah Nobel Kimia atas AlphaFold—sistem AI yang berhasil memprediksi struktur hampir seluruh protein yang dikenal sains. Penghargaan itu menempatkannya sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia.
Promosi atau Marginalisasi?
Di atas kertas, kepindahan Hassabis ke posisi chief scientist Alphabet terlihat seperti promosi. Ia kini berada di level korporat tertinggi, dengan akses langsung ke pengambilan keputusan strategis seluruh grup. Namun sejumlah pengamat membaca situasi sebaliknya: dengan menyerahkan kendali harian DeepMind, Hassabis kehilangan kuasa langsung atas unit yang ia bangun dari nol.
"Posisi chief scientist sering kali bersifat seremonial di perusahaan teknologi besar. Pertanyaannya adalah apakah Hassabis masih memegang kekuasaan nyata, atau justru sedang ditepikan secara halus," tutur seorang pengamat kebijakan AI.
Perubahan ini juga terjadi di tengah persaingan AI yang kian sengit. Alphabet dilaporkan menggelontorkan belanja modal puluhan miliar dolar untuk infrastruktur AI guna mengejar OpenAI, Anthropic, dan Meta. Tekanan dari investor agar investasi raksasa itu segera menghasilkan keuntungan nyata diyakini menjadi latar belakang restrukturisasi ini.
Apa Artinya bagi Masa Depan AI
Bagi industri secara luas, langkah Alphabet ini memperlihatkan tren yang tak terhindarkan: era riset AI yang idealis dan terpisah dari bisnis telah berakhir. Kini, setiap terobosan laboratorium harus segera diterjemahkan menjadi produk dan pendapatan.
Pertanyaan besarnya, apakah tanpa Hassabis di kursi CEO, DeepMind masih mampu menjaga tradisi riset fundamental yang melahirkan AlphaGo dan AlphaFold? Atau perusahaan itu akan sepenuhnya menjadi mesin produk bagi ambisi komersial Google? Jawabannya akan menentukan arah persaingan AI global dalam satu dekade ke depan.
[SOCIAL_TWEET]: Demis Hassabis resmi mundur dari kursi CEO Google DeepMind. Ia kini jadi chair DeepMind sekaligus chief scientist Alphabet. Pengamat khawatir: independensi riset DeepMind makin tergerus tekanan komersial. #AI #GoogleDeepMind [SOCIAL_TG]: 🚨 Demis Hassabis mundur dari CEO Google DeepMind! Peraih Nobel ini kini menjabat chair DeepMind dan chief scientist Alphabet. Pengamat menyebut ini tanda berakhirnya independensi riset DeepMind — realitas komersial AI resmi mengambil alih. Analisis lengkap di Beritatercepat.com
Comments (0)