BERLIN — Bulan September menjadi periode terburuk bagi Kanselir Jerman Friedrich Merz. Partainya, Christian Democratic Union (CDU), mengalami kekalahan berturut-turut dalam pemilihan negara bagian yang mengguncang peta politik negeri itu. Dua kekalahan besar dalam rentang dua pekan memicu gelombang kritik internal dan seruan agar Merz mundur dari jabatan kanselir.
Kekalahan pertama terjadi di Saxony-Anhalt dua pekan lalu. Partai Alternative for Germany (AfD) meraih 43,8 persen suara, jauh meninggalkan CDU yang hanya mengantongi 17,2 persen. Pukulan kedua datang pada 20 September di Mecklenburg-Western Pomerania, negara bagian asal Angela Merkel.
Kronologi Kejatuhan CDU di Tiga Wilayah
- Saxony-Anhalt (awal September): AfD menang telak dengan 43,8 persen, CDU terpuruk di 17,2 persen.
- Mecklenburg-Western Pomerania (20 September): AfD kembali memimpin dengan 38,2 persen, sementara CDU hanya meraih 4,9 persen dan gagal melewati ambang batas parlemen negara bagian.
- Berlin (20 September): CDU dikalahkan Die Linke yang meraih 25,7 persen, sementara CDU tertahan di 18,8 persen.
Hasil di Mecklenburg-Western Pomerania mencatat sejarah kelam. Ini merupakan perolehan suara terburuk CDU dalam pemilihan negara bagian mana pun sejak berdirinya Republik Federal Jerman. Ironisnya, kekalahan itu terjadi di tanah kelahiran Merkel, figur yang pernah lama menjadi ikon partai tersebut.
"Ini adalah bencana," ujar Merz menanggapi hasil pemilu, seperti dikutip media internasional.
Tekanan Internal dan Pembicaraan Pergantian
Jika kekalahan di Saxony-Anhalt membuat diskusi soal penggantian kanselir mulai dianggap wajar, hasil di Mecklenburg-Western Pomerania membuatnya nyaris tak terhindarkan. Kritik kini menyebar di dalam tubuh CDU, sementara sejumlah surat kabar Jerman secara terbuka membahas masa depan Merz.
Nama-nama calon pengganti pun mulai disebut-sebut di ruang publik. Namun, ada persoalan mendasar yang membuat posisi Merz belum bisa digoyang dalam waktu dekat: menyingkirkan kanselir membutuhkan mayoritas parlemen untuk mendukung seorang pengganti. Sampai saat ini, oposisi belum memiliki figur yang disepakati bersama.
- AfD terus menguat di wilayah timur Jerman dengan basis pemilih yang solid.
- CDU kehilangan kepercayaan pemilih tradisional di kota maupun pedesaan.
- Die Linke menyalip CDU di Berlin, menambah tekanan politik bagi koalisi pemerintah.
Merz sendiri bersumpah akan tetap bertahan di kursi kanselir. Ia menegaskan tidak akan menyerah di tengah tekanan, meski legitimasi kepemimpinannya semakin dipertanyakan. Situasi ini menempatkan Jerman dalam posisi politik yang tidak nyaman: kanselir yang lemah secara elektoral, tetapi belum ada mekanisme politik yang mulus untuk menggantinya.
Pengamat menilai hasil ini menjadi sinyal peringatan bagi demokrasi Jerman menjelang pemilu federal berikutnya. Bangkitnya AfD di dua negara bagian timur menunjukkan pergeseran lanskap politik yang tidak bisa diabaikan oleh partai-partai arus utama. Sementara itu, CDU harus segera menemukan formula untuk menghentikan pendarahan suara jika tidak ingin terus kehilangan pengaruh di panggung nasional.
Comments (0)