Asosiasi produsen bahan bakar nabati skala kecil dan menengah di Argentina, Cámara de Empresas Pymes Regionales Elaboradoras de Biocombustibles (Cepreb), secara resmi melayangkan surat terbuka kepada Presiden Javier Milei. Surat tersebut diserahkan langsung melalui Sekretariat Jenderal Kepresidenan sebagai bentuk protes keras terhadap draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Biofuel yang saat ini tengah dibahas di tingkat Senat.
Dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur Eksekutif Cepreb, Federico Martelli, para pelaku industri mendesak pemerintah untuk merevisi sejumlah klausul penting dalam rancangan aturan tersebut. Mereka memperingatkan bahwa skema pasar bebas yang dirancang tanpa perlindungan memadai berpotensi mematikan ekosistem produsen daerah secara permanen.
"Kami meminta dengan sangat kepada Presiden agar kebijakan ini tidak menjatuhkan vonis mati bagi keberlangsungan usaha kami," tegas perwakilan Cepreb dalam surat resminya.
Kronologi dan Perkembangan Pembahasan RUU Biofuel
Ketegangan antara pelaku usaha regional dan pemerintah bermula dari rancangan undang-undang baru yang memperoleh persetujuan komisi Senat pada awal September. Berikut rangkaian tahapan dan poin utama dari pembahasan regulasi energi tersebut:
- Penerbitan Draf Komisi (3 September): Komisi Senat meloloskan draf revisi undang-undang yang mengatur peningkatan persentase pencampuran bahan bakar nabati secara bertahap.
- Peningkatan Kuota Campuran Wajib: RUU menaikkan mandat campuran wajib biodiesel dari 7,5% menjadi 10% dalam jangka waktu 12 bulan setelah undang-undang disahkan, serta menaikkan bioetanol dari 12% menjadi 15%.
- Perubahan Alokasi Kuota Biodiesel: Pada tahap awal campuran 10%, sebanyak 6,5 poin persentase dialokasikan khusus bagi produsen non-terintegrasi (UKM regional), sedangkan 3,5 poin persentase dibuka untuk lelang bebas yang mengikutsertakan korporasi besar terintegrasi.
- Penyusutan Kuota Bertahap (2029–2030): Skema proteksi kuota untuk UKM dipangkas menjadi 5,5% berbanding 4,5% pada 2029, lalu menjadi 50:50 (5% berbanding 5%) pada 2030, hingga akhirnya proteksi regional terancam dihapus sepenuhnya.
Ancaman Gulung Tikar bagi Produsen Daerah
Cepreb mewakili seluruh produsen biodiesel skala kecil dan menengah yang tersebar di berbagai provinsi strategis, antara lain Buenos Aires, La Pampa, Entre Ríos, dan San Luis. Perusahaan-perusahaan ini beroperasi sebagai entitas non-terintegrasi, yang berarti mereka membeli minyak kedelai dari pasar domestik untuk diolah menjadi biodiesel, berbeda dengan konglomerat agribisnis multinasional yang memiliki fasilitas pengolahan hulu hingga hilir sendiri.
Para pelaku usaha menegaskan bahwa membuka pasar lelang bebas secara prematur akan menciptakan persaingan yang tidak adil. Perusahaan skala besar terintegrasi memiliki kapasitas finansial dan volume produksi raksasa sehingga mampu menetapkan harga dumping yang tidak mungkin disaingi oleh produsen skala regional.
- Dampak Ekonomi Daerah: Penutupan pabrik lokal berisiko memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di wilayah pedalaman Argentina.
- Ketimpangan Industri: Tanpa penetapan kuota minimum yang terlindungi, pangsa pasar domestik dikhawatirkan akan dimonopoli oleh segelintir korporasi pengekspor minyak sawit dan kedelai berskala global.
- Tuntutan Regulasi Adil: Cepreb meminta pemerintah mempertahankan skema kuota proteksi yang menjamin kelangsungan investasi industri hijau regional.
Hingga saat ini, proses negosiasi terkait kerangka regulasi biofuel baru masih terus berlangsung di parlemen Argentina. Kalangan pengusaha berharap pemerintah di bawah kepemimpinan Javier Milei bersedia meninjau ulang regulasi tersebut demi menjaga stabilitas industri energi domestik.
Comments (0)