BREAKING: Penasihat Prabowo Bantah Makalah MBG untuk Nobel dari Pemerintah
BARU SAJA, Penasihat Presiden Prabowo Subianto, Hasan Nasbi, angkat bicara soal kontroversi makalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikabarkan diajukan sebagai nominasi Nobel Perdamaian 2026. ...
BARU SAJA, Penasihat Presiden Prabowo Subianto, Hasan Nasbi, angkat bicara soal kontroversi makalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikabarkan diajukan sebagai nominasi Nobel Perdamaian 2026. Dalam pernyataan resminya, Hasan menegaskan bahwa dokumen tersebut bukan berasal dari pemerintah, melainkan inisiatif pihak lain yang tidak terkait langsung dengan istana.
KONFIRMASI ini datang di tengah riuh publik yang mempertanyakan langkah strategis pemerintah di kancah internasional. Hasan menekankan bahwa pemerintah tidak pernah mengajukan proposal resmi kepada Komite Nobel. Ia menduga makalah itu disusun oleh individu atau kelompok yang ingin mempromosikan program MBG secara mandiri.
Pernyataan Kunci Hasan Nasbi
"Itu bukan dari pemerintah," tegas Hasan saat dikonfirmasi awak media, Senin menit lalu. Ia menambahkan, "Kami tidak tahu persis siapa yang menyusun, tapi yang jelas bukan inisiatif resmi." Pernyataan ini memicu spekulasi tentang motif di balik pengajuan tersebut.
- Makalah MBG disebut-sebut memuat argumen bahwa program ini berkontribusi pada perdamaian melalui pengurangan konflik sosial akibat kelaparan.
- Nobel Perdamaian 2026 menjadi target pengajuan, meski belum ada konfirmasi dari Komite Nobel di Oslo.
- Hasan Nasbi menegaskan pemerintah fokus pada implementasi program, bukan pada pencitraan internasional.
Kronologi dan Fakta di Lapangan
Kabar ini pertama kali mencuat setelah sebuah dokumen berjudul "Makan Bergizi Gratis: Jalan Menuju Perdamaian Global" beredar di kalangan akademisi dan diplomat. Dokumen itu mengklaim program MBG telah menjangkau jutaan anak sekolah di Indonesia dan mengurangi angka malnutrisi yang sering memicu ketidakstabilan sosial.
Namun, Hasan menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah memberikan mandat untuk pengajuan tersebut. "Ini langkah sepihak yang tidak kami ketahui," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa program MBG adalah prioritas nasional, bukan alat diplomasi.
Sejauh ini, Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Luar Negeri belum memberikan tanggapan resmi. Namun, sumber internal menyebutkan bahwa pihak istana sedang menelusuri asal-usul makalah tersebut.
Reaksi Publik dan Pengamat
Pengamat kebijakan publik, yang dihubungi terpisah, menilai pernyataan Hasan justru menimbulkan pertanyaan baru. "Jika bukan dari pemerintah, siapa yang berani mengatasnamakan program ini?" ujarnya. Ia menduga ada upaya untuk memanfaatkan popularitas MBG demi kepentingan tertentu.
Di media sosial, tagar #MBGNobel2026 sempat trending. Banyak netizen mendukung langkah tersebut, namun tak sedikit yang mempertanyakan transparansi. Seorang warganet menulis, "Kalau bukan pemerintah, kenapa bisa beredar? Ini aneh."
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari Komite Nobel mengenai penerimaan atau penolakan pengajuan tersebut. Komite Nobel biasanya tidak mengomentari nominasi yang belum diumumkan secara resmi.
Fakta Singkat yang Perlu Anda Tahu
- Program MBG diluncurkan pada 2025 dan telah menjangkau 40 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
- Hasan Nasbi adalah Penasihat Presiden bidang Komunikasi dan Media.
- Nobel Perdamaian 2026 akan diumumkan pada Oktober 2026 di Oslo, Norwegia.
- Pemerintah Indonesia belum pernah mengajukan nominasi Nobel Perdamaian untuk program domestik sebelumnya.
Apa Langkah Selanjutnya?
Hasan memastikan pemerintah akan melakukan klarifikasi resmi dalam waktu dekat. "Kami akan sampaikan posisi resmi setelah ada koordinasi dengan kementerian terkait," katanya. Ia juga mengimbau publik tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
BREAKING: Sampai berita ini diturunkan, tidak ada indikasi bahwa makalah tersebut akan ditarik. Namun, pemerintah berjanji akan mengusut tuntas pihak yang bertanggung jawab.
UPDATE: Saksi mata di lingkungan istana melaporkan adanya pertemuan tertutup antara Hasan Nasbi dan staf khusus presiden beberapa jam lalu. Diduga, pertemuan itu membahas langkah hukum yang mungkin diambil.
Perkembangan ini tentu menjadi sorotan dunia internasional. Indonesia, yang tengah gencar mempromosikan program kesejahteraan sosial, kini harus menghadapi pertanyaan tentang kredibilitas pengajuan Nobel tersebut. Publik menunggu langkah konkret pemerintah untuk meluruskan isu ini.
Kami akan terus memantau perkembangan ini. Pantau terus Beritatercepat untuk informasi terkini.
Comments (0)