Sep 17, 2026
Hukum

BPPTKG Catat Gunung Merapi Luncurkan Lava dan Gempa Tektonik

YOGYAKARTA — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa tingkat aktivitas vulkanis Gunung Merapi yang terl

BPPTKG Catat Gunung Merapi Luncurkan Lava dan Gempa Tektonik

YOGYAKARTA — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa tingkat aktivitas vulkanis Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih tergolong sangat tinggi. Dalam periode pengamatan harian terbaru, gunung api paling aktif di Indonesia tersebut tercatat meluncurkan 1 kali guguran lava pijar dan mengalami 2 kali gempa tektonik.

Berdasarkan analisis teknis lembaga pengamat kegempaan geologi tersebut, status Gunung Merapi hingga saat ini masih dipertahankan pada Level III (Siaga). Keputusan ini diambil mengingat suplai magma dari dalam perut bumi menuju permukaan masih berlangsung intensif, yang berpotensi memicu terjadinya erupsi susulan berupa awan panas guguran maupun lontaran material vulkanik secara mendadak.

Kronologi dan Rincian Pengamatan Aktivitas Vulkanik

Selama rentang waktu pengamatan 24 jam, pengamat di pos pantau mencatat dinamika kegempaan yang bervariasi. Rincian data pengamatan seismik dan visual Gunung Merapi mencakup beberapa indikator utama sebagai berikut:

  1. Guguran Lava Pijar: Terjadi sebanyak 1 kali guguran lava pijar dengan jarak jangkauan luncuran mengarah ke sektor barat daya, tepatnya di alur Kali Bebeng dan Kali Krasak.
  2. Gempa Tektonik: Terjadi 2 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo gempa tercatat antara 3 mm hingga 15 mm serta durasi gempa berlangsung selama 45 hingga 120 detik.
  3. Gempa Hibrid/Fase Banyak: Terekam gelombang gempa akibat aktivitas tekanan pergerakan magma di kedalaman dangkal di bawah kawah utama Merapi.
  4. Deformasi Lahan: Pengukuran laju deformasi menggunakan metode EDM menunjukkan adanya perubahan jarak yang mengindikasikan proses inflasi atau pembengkakan tubuh gunung secara berkesinambungan.

Pemetaan Risiko dan Pembagian Zona Bahaya

Guna mengurangi risiko dampak bencana, BPPTKG secara berkala memperbarui pemetaan wilayah rawan bahaya erupsi. Potensi bahaya saat ini masih didominasi oleh luncuran awan panas dan guguran lava pada alur sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi.

Sektor / Alur Sungai Batas Radius Bahaya (km) Potensi Ancaman Bencana
Kali Boyong Maksimal 5 km Awan Panas & Guguran Lava
Kali Bedog, Krasak, Bebeng Maksimal 7 km Awan Panas & Guguran Lava
Kali Woro Maksimal 3 km Luncuran Material Vulkanik
Kali Gendol Maksimal 5 km Awan Panas & Guguran Lava

Tim ahli dari BPPTKG menegaskan bahwa penurunan frekuensi guguran lava dalam rentang waktu harian tertentu tidak serta-merta menandakan aktivitas Merapi telah berhenti. "Kondisi magma di bawah kawah Merapi masih sangat dinamis. Fluktuasi data kegempaan dan jumlah guguran lava merupakan karakter khas dari erupsi efusif yang sedang berlangsung saat ini," ungkap perwakilan BPPTKG dalam laporan resminya.

"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya. Potensi ancaman awan panas guguran dan lava pijar sewaktu-waktu dapat meningkat jika terjadi runtuhan kubah lava secara mendadak."

Antisipasi Bahaya Sekunder dan Imbauan Kebencanaan

Selain ancaman langsung dari aktivitas vulkanis di puncak, potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin menjadi kewaspadaan utama. Hal ini mengingat kondisi cuaca di wilayah lereng dan puncak Merapi kerap diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

Masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai yang berhulu di Merapi diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Jika terjadi hujan deras di kawasan puncak, aliran air hujan berpotensi membawa material sisa erupsi berupa pasir dan batu bongkahan besar yang dapat meluap ke permukiman warga.

Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di empat kabupaten terdampak—yaitu Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten—terus menyiagakan jalur evakuasi serta sistem peringatan dini (early warning system). Masyarakat disarankan untuk selalu memantau informasi resmi dari BPPTKG dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu liar yang belum terverifikasi kebenarannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User