Sep 18, 2026
Nasional

BKSDA Kaltim Evakuasi Orangutan Jantan Kritis Akibat Dehidrasi Parah

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama tim penyelamat satwa liar berhasil mengevakuasi seekor orangutan kalimantan (Pongo pygma

BKSDA Kaltim Evakuasi Orangutan Jantan Kritis Akibat Dehidrasi Parah

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama tim penyelamat satwa liar berhasil mengevakuasi seekor orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) berjenis kelamin jantan yang ditemukan dalam kondisi kritis. Satwa dilindungi tersebut dilaporkan mengalami dehidrasi parah, malnutrisi akut, serta tubuh yang sangat kurus dan lunglai saat ditemukan di dekat kawasan perkebunan warga.

Operasi penyelamatan darurat segera diaktifkan setelah tim menerima laporan dari masyarakat setempat yang melihat pergerakan satwa primata besar tersebut kian melemah dan tidak mampu memanjat pohon secara normal.

Kronologi Operasi Penyelamatan di Lapangan

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kaltim langsung bergerak cepat menuju lokasi temuan untuk mencegah potensi kematian satwa maupun konflik dengan manusia. Penyelamatan dilakukan melalui rangkaian tahapan taktis:

  1. Penerimaan Laporan: Warga mendapati orangutan tampak lemas dan berdiam diri di tanah tanpa daya tahan tubuh optimal.
  2. Pemeriksaan Lapangan: Tim dokter hewan dan petugas ranger melakukan observasi visual cepat serta menilai kondisi vital satwa di tempat kejadian.
  3. Sedasi Terukur dan Stabilisasi: Karena kondisi satwa yang sangat rapuh, pemberian obat bius dilakukan secara hati-hati sebelum satwa dimasukkan ke dalam kandang transportasi khusus.
  4. Pemberian Terapi Cairan Darurat: Petugas medis langsung memasang infus dan memberikan asupan elektrolit guna mengatasi kehilangan cairan tubuh yang fatal.
"Saat pertama kali dievakuasi, kondisi primata ini sangat memprihatinkan. Berat badannya jauh di bawah standar ideal orangutan jantan dewasa, serta menunjukkan tanda-tanda dehidrasi berat. Fokus utama kami adalah menjaga tanda-tanda vitalnya tetap stabil," ujar perwakilan tim medis BKSDA Kaltim.

Penanganan Medis Intensif dan Diagnostik

Setibanya di fasilitas pusat rehabilitasi satwa, orangutan tersebut langsung ditempatkan di ruang karantina untuk mendapatkan perawatan intensif selama 24 jam penuh. Tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk tes darah, rontgen untuk mendeteksi kemungkinan luka luar atau patah tulang, serta uji parasitologi.

Penyelidikan medis awal mengindikasikan bahwa satwa kekurangan asupan pakan alami dalam rentang waktu yang lama. Kerusakan habitat di sekitar koridor hutan diperkirakan memaksa orangutan tersebut keluar dari wilayah jelajah aslinya hingga kesulitan mengakses sumber air dan buah hutan bergizi.

Langkah Rehabilitasi Menuju Pelepasliaran

Setelah kondisi klinis satwa dinyatakan stabil, orangutan akan menjalani masa pemulihan bertahap yang mencakup:

  • Peningkatan status nutrisi dengan pola diet tinggi serat, buah-buahan hutan, dan multivitamin khusus primata.
  • Masa isolasi karantina guna memastikan satwa bebas dari penyakit menular zoonosis.
  • Observasi perilaku motorik dan kemampuan mencari makan sebelum dipindahkan ke suaka khusus atau pulau pra-pelepasliaran.

BKSDA Kaltim mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus aktif melaporkan keberadaan satwa liar yang masuk ke areal permukiman atau perkebunan, serta tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap satwa yang dilindungi undang-undang tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User