PONTIANAK, Beritatercepat.com — Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Pontianak memberikan dukungan penuh terhadap upaya percepatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Barat. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kemudahan prosedur kepabeanan dan pengawasan atas proses importasi barang bantuan serta peralatan medis/teknis yang diangkut kapal milik Angkatan Laut Jepang atau Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF), yaitu JS Kunisaki.
Kapal militer berukuran besar tersebut resmi bersandar di Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Penanganan logistik darurat ini membutuhkan respons cepat mengingat ancaman kabut asap dan penyebaran titik api (hotspot) di kawasan Kalimantan Barat yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta lalu lintas penerbangan nasional.
Kronologi Pelayanan Kepabeanan Kapal JS Kunisaki
Proses fasilitasi importasi peralatan bantuan operasional untuk pemadaman karhutla tersebut berlangsung secara bertahap dan ketat sesuai prosedur pelayanan barang tanggap darurat. Berikut adalah urutan kejadian penanganan kepabeanan di lapangan:
- Kamis Pagi (10/09): Kapal perang JMSDF JS Kunisaki memesuki perairan Kalimantan Barat dan secara resmi merapat di dermaga Terminal Kijing, Mempawah.
- Pukul 09.00 WIB: Tim gabungan yang terdiri dari petugas Bea Cukai Pontianak, Karantina Kesehatan, Imigrasi, dan KSOP melakukan kegiatan *boarding activity* di atas kapal untuk menguji keabsahan dokumen kapal serta keamanan sarana pengangkut (*vessel inspection*).
- Pukul 11.30 WIB: Petugas Bea Cukai Pontianak menerbitkan persetujuan pengeluaran barang dengan fasilitas jalur khusus atau pelayanan cepat (*rush handling*) setelah verifikasi fisik kargo bantuan selesai dilaksanakan.
- Pukul 14.00 WIB: Seluruh muatan logistik dan peralatan pendukung penanganan karhutla mulai diturunkan dari palka kapal JS Kunisaki untuk diserahterimakan kepada tim satgas penanggulangan bencana daerah.
Penerapan Fasilitas Rush Handling untuk Barang Bencana
Kepala Kantor Bea Cukai Pontianak menegaskan bahwa untuk barang-barang penanganan bencana alam atau situasi darurat nasional, Bea Cukai mengimplementasikan skema pelayanan pelayanan berizin khusus agar proses bongkar muat tidak terhambat birokrasi teknis.
"Kami memberikan skema kemudahan pabean berupa *rush handling* untuk memangkas waktu pengeluaran barang secara signifikan. Kehadiran JS Kunisaki membawa muatan penting yang sangat dibutuhkan tim satgas di lapangan untuk memadamkan titik api di Kalimantan Barat," tegas perwakilan instansi Bea Cukai.
Dengan mekanisme ini, pemeriksaan dokumen dapat diselesaikan secara parallel saat barang diturunkan, tanpa mengurangi kehati-hatian dalam pengawasan barang impor yang masuk ke wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sinergi Antarlembaga dan Pemanfaatan Terminal Kijing
Kehadiran kapal perang JMSDF JS Kunisaki di Kalimantan Barat tidak hanya menjadi simbol kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Jepang dalam hal penanggulangan bencana ekologis, tetapi juga membuktikan efektivitas Terminal Kijing sebagai pelabuhan internasional berkedalaman tinggi yang mampu menampung kapal militer berukuran besar.
Sinergi antara Bea Cukai, TNI, BNPB, Pemerintah Daerah Kalimantan Barat, dan instansi kemaritiman memastikan bahwa logistik bantuan dari kapal militer Jepang ini dapat segera dikirimkan ke titik-titik rawan kebakaran. Langkah responsif ini diharapkan mampu menekan meluasnya dampak karhutla serta menjaga kestabilan kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat dan sekitarnya.
Comments (0)