Anting Emas Kuno Iran Zendaya Menuai Kontroversi di Pemutaran The Odyssey

Penampilan Memukau yang Berujung PolemikLondon menjadi saksi bisu ketika Zendaya melangkah di karpet merah pemutaran perdana The Odyssey karya Christopher Nolan pada Minggu (5/7). Gaun putih elegan da...

Jul 28, 2026 - 00:13
0 0
Anting Emas Kuno Iran Zendaya Menuai Kontroversi di Pemutaran The Odyssey

Penampilan Memukau yang Berujung Polemik

London menjadi saksi bisu ketika Zendaya melangkah di karpet merah pemutaran perdana The Odyssey karya Christopher Nolan pada Minggu (5/7). Gaun putih elegan dari Jacquemus membuatnya tampak bak dewi Yunani, namun sepasang anting emas yang menghiasi telinganya justru menjadi pusat perhatian—dan kontroversi.

Alih-alih sekadar perhiasan mewah, anting itu adalah hasil transformasi dari medali emas kuno yang berasal dari Ziwiye Hoard, kumpulan artefak Iran yang diperkirakan berusia hingga 3.000 tahun. Medali tersebut dipasang menggunakan teknik claw setting oleh perancang perhiasan ternama London, Glenn Spiro, sehingga bentuk aslinya tetap utuh tanpa perlu pengeboran atau perusakan permanen.

Ziwiye Hoard: Harta Karun yang Diperdebatkan

Ziwiye Hoard adalah sekumpulan artefak emas, perak, dan gading yang ditemukan di wilayah Kurdistan, Iran barat, pada tahun 1940-an. Diperkirakan berasal dari era kerajaan Mannaean atau Media, kumpulan ini mencakup benda-benda dengan nilai budaya luar biasa bagi sejarah peradaban Persia. Banyak dari artefak tersebut kini tersebar di museum besar dunia maupun koleksi pribadi, sering kali tanpa dokumentasi yang jelas mengenai bagaimana benda-benda itu meninggalkan tanah asalnya.

Warisan Budaya yang Disulap Menjadi Aksesori

Setelah proses pemasangan ulang, anting ini menjadi bagian dari koleksi Barron London, rumah perhiasan yang dikenal gemar mengkurasi artefak bersejarah menjadi aksesori modern. Pihak Barron London menegaskan bahwa medali itu diperoleh secara legal dan teknik claw setting menjamin tidak ada kerusakan permanen, tetapi justifikasi tersebut tidak cukup meredam gelombang kritik.

Kolaborasi Zendaya dengan penata gaya Law Roach memang kerap menghasilkan penampilan ikonik berbasis method dressing, namun kali ini pilihan aksesori tersebut justru berbalik menjadi blunder budaya yang menyulut perdebatan etis.

Gelombang Kecaman dari Arkeolog dan Publik

Para arkeolog, sejarawan, dan pegiat warisan budaya langsung menyuarakan kegeraman. "Benda-benda seperti ini seharusnya dipelajari di museum, bukan dipajang di tubuh selebritas sebagai pelengkap gaya," ujar seorang akademisi yang mempelajari warisan Timur Tengah. Kekhawatiran mendasar adalah bahwa penggunaan artefak sebagai aksesori mode akan menormalisasi komodifikasi cagar budaya, mengikis nilai ilmiah dan historis yang dimilikinya.

Media sosial pun bergejolak. Banyak warganet menyamakan tindakan ini dengan penjarahan budaya, menegaskan bahwa artefak dari wilayah konflik sering kali keluar dari negara asalnya melalui jalur yang tidak transparan. Mereka menuntut transparansi penuh tentang rantai kepemilikan medali tersebut, dari penggalian hingga berakhir di kotak perhiasan sang aktris.

Di Mana Batas Apresiasi dan Eksploitasi?

Insiden ini memantik kembali perdebatan global tentang hubungan antara mode dan warisan budaya. Di satu sisi, seni kuno dijadikan inspirasi desain, namun mengubah langsung artefak menjadi barang fashion dipandang banyak kalangan sebagai penistaan. Zendaya, yang selama ini dikenal sangat cermat dalam memilih busana melalui konsep method dressing, belum memberikan tanggapan resmi terkait polemik ini.

Sementara itu, industri fesyen dan rumah perhiasan yang mengagungkan artefak bersejarah kini didesak untuk lebih menghormati konteks asal-usul budaya, bukan hanya nilai estetika atau harga jualnya. Insiden ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap karpet merah, terkadang tersimpan narasi panjang yang menuntut pertanggungjawaban lebih dari sekadar penampilan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User