NEW YORK — Inagurasi Wali Kota Baru Digelar di Stasiun Kereta Bawah Tanah Tua
Langit Desember yang kelam tak menyurutkan langkah ribuan warga New York yang memadati stasiun kereta bawah tanah Old City Hall, Kamis (1/12/2026). Bukan u
Langit Desember yang kelam tak menyurutkan langkah ribuan warga New York yang memadati stasiun kereta bawah tanah Old City Hall, Kamis (1/12/2026). Bukan untuk mengejar kereta, mereka datang menyaksikan sejarah baru tercetak di perut kota: Zohran Mamdani resmi mengucapkan sumpah jabatan sebagai Wali Kota New York City di lokasi yang tak lazim. Stasiun yang telah lama ditutup untuk umum ini kembali bergema, kali ini bukan oleh deru kereta, melainkan oleh gemuruh tepuk tangan dan janji perubahan.
Simbol Perlawanan dari Kedalaman Kota
Pemilihan lokasi ini sarat makna. Stasiun Old City Hall, dengan lampu kristal dan lengkungan Guastavino tiles-nya yang ikonik, adalah monumen peradaban transportasi publik yang terlupakan. Mamdani, seorang sosialis Demokrat, menjadikan upacara pelantikannya sebagai manifesto politik. Ia ingin menegaskan bahwa pemerintahannya akan berakar dari bawah, dari infrastruktur publik yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan untuk diperbaiki dan digratiskan.
"Ini bukan tentang kemegahan gedung pencakar langit. Kota ini berdetak di bawah tanah, di jalur-jalur kereta yang menghidupi jutaan pekerja. Di sinilah janji saya bermula," ujar Mamdani dengan suara bergetar, sesaat setelah Penjabat Sekretaris Kota selesai membimbingnya mengucap sumpah.
Detik-Detik Sakral di Peron Bersejarah
Prosesi berlangsung sederhana namun khidmat. Dokumentasi AP/Yuki Iwamura mengabadikan momen ketika Mamdani, mengenakan setelan jas sederhana tanpa dasi, mengangkat tangan kanannya menghadap tumpukan kitab suci. Ratusan kamera ponsel warga menyala bersamaan, menciptakan lautan cahaya buatan di tengah temaram stasiun yang lampu-lampu kuning temaramnya sengaja dinyalakan penuh hanya untuk momen ini. Petugas keamanan berjaga di setiap sudut terowongan, memastikan warisan arsitektur 1904 itu tak terusik oleh euforia massa.
Yang menarik, undangan VIP yang terdiri dari para pemimpin serikat pekerja, aktivis komunitas, dan imigran yang tinggal di penampungan, duduk di bangku-bangku kayu stasiun yang telah direstorasi. Tak tampak barisan para taipan properti atau eksekutif Wall Street. Mamdani, yang dikenal sebagai pengusung kebijakan "Rumah untuk Semua" dan penentang keras penggusuran, ingin memutus tradisi pelantikan wali kota yang elitis.
"Ini Pemerintahan Trotoar, Bukan Menara Gading"
Keputusan Mamdani untuk dilantik di stasiun bawah tanah yang sudah 80 tahun non-aktif ini tak lepas dari masa lalunya sebagai penyelenggara komunitas. Old City Hall adalah simbol dari masa keemasan transportasi umum New York, yang menurut Mamdani, "ditelantarkan oleh para pendahulu saya." Ia berjanji akan menjadikan transparansi dan aksesibilitas sebagai fondasi pemerintahannya selama empat tahun ke depan.
"Saya tidak akan berkantor di balik meja mahoni sepanjang waktu. Saya akan kembali ke bawah, ke stasiun-stasiun, ke taman-taman kota, ke rumah susun. Ini adalah pemerintahan trotoar, bukan menara gading," tegasnya di hadapan hadirin, disambut sorakan dan siulan khas warga New York.
Keluarga Mamdani berdiri di sampingnya. Sang ibu, seorang imigran Uganda, terlihat menyeka air mata. Ini adalah potret New York yang baru, kota yang memilih seorang anak imigran, seorang penyelenggara, seorang penghuni Queens yang naik kereta 7 setiap hari ke kantornya.
Upacara ini menjadi kemenangan simbolis bagi sayap kiri Partai Demokrat yang telah lama mendorong kebijakan transportasi publik gratis dan penghentian kriminalisasi kemiskinan. Mamdani mengakhiri pidato perdananya dengan seruan: "Ayo kita nyalakan kembali kota ini. Bukan dari atas, tapi dari bawah, dari akarnya."
Comments (0)