Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?

Jul 06, 2026 - 04:00
0 0
Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?

Euforia membuncah di sudut-sudut kota Asia ketika Lionel Messi mencetak gol perdananya di Piala Dunia FIFA 2026 ke gawang Aljazair pada 17 Juni lalu. Lautan manusia berkumpul di Dhaka, Bangladesh, serta di berbagai kota di India dan Indonesia, merayakan gol sang megabintang dengan gegap gempita. Mereka mengenakan jersey ikonik albiceleste, lengkap dengan kibaran bendera Argentina. Ironisnya, di antara kerumunan itu tak ada satu pun warga Argentina—mereka adalah pendukung lokal yang telah "mengadopsi" timnas Argentina sebagai tim sendiri, lantaran negara mereka terus-menerus gagal menembus putaran final turnamen sepak bola paling bergengsi di muka bumi.

Fenomena ini bukan sekadar potret cinta semu kepada negara lain, melainkan cermin pahit dari kenyataan bahwa populasi raksasa tak otomatis melahirkan kualitas sepak bola kelas dunia.

Dari sepuluh negara berpenduduk terbanyak di dunia, hanya Amerika Serikat dan Brasil yang tampil di Piala Dunia 2026. Rusia dan Nigeria sempat menjadi langganan di edisi-edisi sebelumnya, sementara China dan Indonesia masing-masing baru sekali mencicipi hawa kompetisi sepanjang sejarah. India, dengan 1,4 miliar jiwa, bahkan belum pernah sekalipun lolos. Lantas, mengapa jumlah penduduk yang melimpah tidak menjamin keberhasilan di pentas global?

Kualitas Pembinaan Lebih Penting dari Kuantitas

Para pengamat sepak bola di Tanah Air menilai akar masalah terletak pada sistem pembinaan usia dini yang masih timpang. Negara-negara kecil seperti Uruguay—dengan populasi hanya 3,5 juta jiwa—atau Kroasia yang berpenduduk di bawah 4 juta justru rutin melahirkan talenta berbakat dan konsisten tampil di Piala Dunia. Kuncinya bukan pada berapa banyak anak yang lahir, melainkan bagaimana mereka ditempa sejak kecil melalui infrastruktur pelatihan, kompetisi berjenjang, dan filosofi permainan yang jelas.

Indonesia sendiri memiliki antusiasme publik yang luar biasa, namun kerap tersandung persoalan tata kelola federasi, minimnya lapangan berstandar, serta belum meratanya sertifikasi pelatih. Hal serupa dialami India yang lebih memprioritaskan kriket, dan China yang pembinaannya lebih bergantung pada program naturalisasi instan ketimbang pengembangan akar rumput yang berkesinambungan.

Belajar dari Negara Kecil yang Mendunia

Jepang dan Korea Selatan menjadi contoh bahwa kawasan Asia bisa menyaingi raksasa sepak bola jika menjalankan road map jangka panjang. Kedua negara itu membangun filosofi sepak bola nasional, investasi besar pada akademi, dan mengirim pemain muda ke kompetisi Eropa sejak belia. Hasilnya, mereka kini menjadi langganan Piala Dunia dan kerap membuat kejutan.

Sementara itu, Brasil dan Amerika Serikat membuktikan bahwa populasi besar tetap bisa efektif bila didukung ekosistem sepak bola yang matang. Brasil hidup dari kultur sepak bola jalanan yang organik, sementara AS mengandalkan sistem liga yang profesional dan masifnya basis partisipasi anak muda.

Bagi Indonesia dan negara-negara berpenduduk besar lainnya yang masih mendamba tiket Piala Dunia, pelajaran paling penting bukanlah menunggu lahirnya "Messi baru" dari angka kelahiran yang tinggi. Solusinya adalah merevolusi cara mereka mencintai dan mengelola sepak bola dari bawah. Hanya dengan itu, kelak lautan suporter tak lagi harus meneriakkan nama bintang negara lain, melainkan kebanggaannya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User